There are some words in English that are pronounced differently by different speakers. For example, some speakers pronounce the word economics with an initial [ɛ] - [ˌɛk
əˈnɒm
ɪks] and others with an initial [i] - [ˌi
kənɒm
ɪks]. In this word, [ɛ] and [i] are said to be in free variation. Free variation can also be found when you hear British English speaker says the word tomato [təˈmeɪ
toʊ] ,while North American speaker says [təˈmɑtoʊ]. Another example is the glottal stop in the word button. You might hear one speaker pronounces it [bʌt
n] while other speaker pronounces [bʌ?
n].
In linguistics, free variation is the phenomenon of two (or more) sounds or forms appearing in the same environment without a change in meaning and without being considered incorrect by native speakers. However, as for the case in the sounds [i] and [ɛ], we cannot substitute those two sounds in all words. Did you beat the drum? does not mean the same thing as Did you bet the drum?.
Labels: English Posts, Linguistics
Anda bisa mentranskripsikan bahasa apa pun dengan simbol IPA. Selain digunakan dalam kamus, IPA biasa digunakan untuk mentranskripsikan bunyi bahasa yang ditulis dalam huruf selain huruf latin yang biasa kita gunakan. Pernahkan Anda melihat film The Gods Must Be Crazy yang dimainkan Nixau? Nixau yang dari suku Bushman di Afrika itu menggunakan bahasa yang terdengar seperti klik-klik saja. Bunyi semacam itu dapat dituliskan dalam transkripsi fonetis sehingga bisa dibaca/diucapkan, maupun diteliti sistem bahasanya seperti yang biasa dilakukan para ahli fonetik-fonologi.
Labels: Linguistics
Modalitas biasanya diungkapkan melalui modal verb seperti pada kalimat-kalimat berikut:
* Menunjukkan sikap terhadap suatu proposisi:
Proposisi: The boy did it.
Kalimat tersebut dapat diungkapkan dengan modalitas (modalized statement) seperti berikut: The boy may have done it. They say the boy did it. The boy must have done it. Obviously, the boy did it. The boy undoubtedly did it. I’m sure the boy did it.
* Menunjukkan sikap terhadap daya ilokusi:
Direktif: Clean the car.
Modalized statement: I’d suggest you clean the car. You might like to clean the car. How about cleaning the car? I’d be grateful if you’d clean the car. Can you clean the car this morning?
Jenis-jenis modalitas dapat dikelompokkan menjadi berikut:
1. Epistemik
Epistemik merupakan jenis modalitas yang mengungkapkan tingkat komitmen penutur terhadap kebenaran yang dikatakannya (Palmer, 1981:153). Misalnya:
You can drive this car.
Seseorang dapat menggunakan kalimat tersebut untuk mengungkapkan hal berikut:
It is possible for you to drive this car.
You have my permission to drive this car.
Modal epistemik dapat juga digunakan untuk menyatakan interpretasi deontik, seperti pada contoh berikut (Saeed, 2000:127):
You could have told me you were coming.
Pada contoh tersebut, kemungkinan mengatakan sesuatu digunakan untuk mengimplikasikan kewajiban yang tidak dilakukan, sehingga membuat kalimat di atas bermakna teguran.
2. Deontik
Deontik menunjukkan sikap penutur terhadap faktor sosial seperti kewajiban (obligation), tanggung jawab (responsibility), dan izin (permission) (Saeed, 2000:126). Misalnya:
Mengungkapkan hal yang wajib dilakukan:
• You must take these books back.
• You should take these books back
• You need to take these books back.
• You ought to take these books back.
Atau mengungkapkan hal yang boleh dilakukan:
• You can leave them there.
• You could leave them there.
• You might leave them there.
Jadi dapat dikatakan bahwa status dan tingkat formalitas hubungan pembicara dapat memengaruhi pemilihan penggunaan modalitas. Jika misalnya pembicara mengatakan ”You can go now,” maka pembicara berada pada posisi yang lebih tinggi daripada orang yang diajak bicara.
3. Dinamik
Tidak seperti deontik and epistemik, modalitas dinamik tidak mengacu pada penuturnya. Dinamik tidak mengekspresikan pendapat penutur, dan penutur juga tidak memengaruhi situasi. Misalnya pada kalimat: Juan can play the guitar. Pada kalimat tersebut, penutur menggambarkan situasi faktual atau sebenarnya mengenai subjek kalimat tersebut. Jadi, can mengacu pada kemampuan Juan bermain gitar. Can tidak mengacu pada keyakinan penuturnya. Inilah yang membedakan modalitas dinamik dari modalitas deontik dan epistemik (Williams, http://www.geocities.com/margowilliams2002/modals).
4. Alethik
Cann (1993:270-271) mengemukakan jenis modalitas yang disebut alethik (dari bahasa Yunani aletheia yang berarti kebenaran). Cann menggunakan dasar logical necessity dan possibility, yaitu yang berhubungan dengan kebenaran (truth) atau ketidakbenaran (falsity) suatu sistem yang logis. Kita bisa mengatakan bahwa suatu rumusan itu selalu benar (atau salah) secara logis (atau alethis), jika sistem logika yang digunakan memastikan bahwa rumusan modal harus benar (atau salah). Sebaliknya, rumusan yang mungkin benar (atau salah) adalah rumusan yang tidak diartikan selalu benar (atau salah) oleh logika. Misalnya pada kalimat berikut:
1. Every proposition is necessarily either true or false, but not both.
2. Bertie possibly knows that the Morning Star is the Evening Star.
3. Every proposition must be either true or false, but not both.
4. Bertie may know the Morning Star is the Evening Star.
5. Alfred is a bachelor, thus he must be unmarried.
Jadi dapat dikatakan, modalitas alethik berkaitan dengan tingkat kepastian suatu proposisi.
Modalitas juga berhubungan dengan conditional sentence (Saeed, 2000:128), misalnya pada kalimat berikut:
If I were rich, I would be living somewhere hotter.
If you should go to Paris, stay near the river.
Labels: Linguistics
Mutually exclusive environment is an environment in which the first segment of the two occurs only in such and such position, but the second segment never occurs in this same position. For further explanation we can see the following example in English language:
/r/ and /l/ are separate phonemes as indicated by the minimal pairs “blew” and “brew” and also “leaf“ and “reef”.Voiceless [ r ] and [ l ] … (with open circles under are separated phonemes as indicated by minimal pairs in “ cloud” and “crowd”.
If we look at all the /l/ sounds we will see that they each have a different phonetically constrained environment, i.e they are in complementary distribution.
Velarized [ l ] occurs at the end of syllables
Voiceless [ l ] occurs after syllable initial voiceless consonants
[ l ] occurs elsewhere.
To make it easier to understand, we can use the “Clark Kent-Superman” analogy. Clark Kent and Superman are the same person, but they never appear at the same time. If Superman is present, then Clark Kent “disappears”, and vice versa. Therefore in our analogy, Superman and Clark Kent are allophones (the different realizations of phonemes in context, or variant sounds of the phonemic classes) that belong to the same person, in this case, the same phoneme.
Labels: English Posts, Linguistics
Apakah para penutur asli bahasa Inggris lebih self-centered daripada penutur asli bahasa Indonesia?
Coba saja, dalam bahasa Inggris kata yang bermakna "saya" selalu ditulis dengan huruf besar (huruf kapital) "I". Dalam bahasa Indonesia, kata yang bermakna sama tersebut ditulis dengan awalan huruf kecil "saya" (kecuali di awal kalimat tentunya). Apakah ini menunjukkan ego yang lebih besar? Atau mungkin kepercayaan diri yang tinggi?
Sementara untuk kata yang bermakna "kamu" atau "Anda" (orang kedua) dalam bahasa Inggris ditulis dengan awalan huruf kecil "you", sama halnya dalam bahasa Indonesia kata "kamu" diawali dengan huruf kecil. Tetapi untuk kata "Anda" yang ditujukan untuk orang kedua tetapi lebih dihormati ditulis dengan awalan huruf kapital "Anda". Apakah ini menunjukkan bahwa penutur bahasa Inggris lebih egaliter?
Bahasa itu unik. Mungkin itulah kenapa saya selalu tertarik dengan bahasa...(halah)
Labels: Linguistics, Rambling
Aturan yang dipahami penutur mencerminkan pola-pola tertentu (atau keteraturan) mengenai bagaimana kata dibentuk dari satuan yang lebih kecil dan bagaimana satuan-satuan tersebut digunakan dalam wicara. Jadi dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari pola pembentukan kata dalam bahasa, dan berusaha merumuskan aturan yang menjadi acuan pengetahuan penutur bahasa tersebut.
Dalam hubungannya dengan sintaksis, beberapa relasi gramatikal dapat diekspresikan baik secara infleksional (morfologis) atau secara sintaksis (sebagai bagian dari struktur kalimat), misalnya pada kalimat He loves books dan He is a lover of books. Apa yang di dalam suatu bahasa ditandai dengan afiks infleksional, dalam bahasa lain ditandai dengan urutan kata (word order) dan dalam bahasa yang lain lagi dengan kata fungsi (function word). Misalnya dalam bahasa Inggris, kalimat Maxim defends Victor (Maxim mengalahkan Victor) memiliki makna yang berbeda dengan kalimat Victor defends Maxim (Victor mengalahkan Maxim). Urutan kata sangat penting. Dalam bahasa Rusia, semua kalimat berikut bermakna ”Maxim defends Victor” (Maxim mengalahkan Victor):
Maksim zasčisčajet Viktora.
Maksim Viktora zasčisčajet.
Viktora Maksim zasčisčajet.
Viktora zasčisčajet Maksim.
Sufiks infleksional –a pada Viktor menunjukkan bahwa Victor adalah yang dikalahkan, bukan Maxim (Fromkin & Rodman, 1998:93).
Dalam bahasa Inggris, untuk mengungkapkan makna ”masa depan” (future) dari sebuah verba kita harus menggunakan function word berupa will, misalnya pada kalimat John will come Monday. Dalam bahasa Prancis, verba untuk future tense menggunakan infleksi (Jean vient lundi ”John is coming Monday” atau Jean viendra lundi ”John will come Monday”). Demikian halnya jika bahasa Inggris memiliki penanda have dan be, bahasa Indonesia menggunakan afiksasi untuk mengungkapkan hal yang sama, misalnya:
Dokter memeriksa saya. The doctor examines me.
Saya diperiksa dokter. I was examined by the doctor.
Selain itu, semua morfem memiliki struktur gramatikal yang dilekatkan padanya. Terkadang, makna gramatikal hanya tampak jika morfem tersebut digabungkan dengan morfem lain (seperti pada afiks yang dapat mengubah makna gramatikal). Morfem infleksional adalah morfem yang tidak memiliki makna di luar makna gramatikal, seperti penanda jamak ”s” dalam bahasa Inggris. Tetapi morfem lain memiliki pengecualian, seperti pada kata hit – hit (present – past), atau sheep – sheep (tunggal - jamak).
Labels: Linguistics
John saw the man with a telescope.
Use it-clauses to explain the meaning, then create phrase structure trees from each it-clause.
1. It is with a telescope that John saw the man.
2. It is the man with a telescope that John saw.
Labels: English Posts, Linguistics
Linguistik berarti ilmu bahasa. Ilmu bahasa adalah ilmu yang objeknya bahasa. Bahasa di sini maksudnya adalah bahasa yang digunakan sehari-hari (atau fenomena lingual). Karena bahasa dijadikan objek keilmuan maka ia mengalami pengkhususan, hanya yang dianggap relevan saja yang diperhatikan (diabstraksi). Jadi yang diteliti dalam linguistik atau ilmu bahasa adalah bahasa sehari-hari yang sudah diabstraksi, dengan demikian anggukan, dehem, dan semacamnya bukan termasuk objek yang diteliti dalam linguistik.
Linguistik modern berasal dari Ferdinand de Saussure, yang membedakan langue, langage, dan parole (Verhaar, 1999:3). Langue adalah salah satu bahasa sebagai suatu sistem, seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris. Langage berarti bahasa sebagai sifat khas manusia, sedangkan parole adalah bahasa sebagaimana dipakai secara konkret (dalam bahasa Indonesia ketiga istilah tadi disebut bahasa saja dan mengacu pada konsep yang sama). Sejalan dengan hal di atas, Robins (1992:55) mengatakan bahwa langue merupakan struktur leksikal, gramatikal, dan fonologis sebuah bahasa, dan struktur ini sudah tertanam dalam pikiran penutur asli pada masa kanak-kanak sebagai hasil kolektif masyarakat bahasa yang dibayangkan sebagai suatu kesatuan supraindividual. Dalam menggunakan bahasanya, penutur bisa berbicara di dalam lingkup langue ini; apa yang sebenarnya diucapkannya adalah parole, dan satu-satunya kendali yang dapat dia atur adalah kapan dia harus berbicara dan apa yang harus ia bicarakan. Kaidah leksikal, gramatikal, dan fonologis telah dikuasai dan dipakai, dan kaidah tersebut menentukan ruang lingkup pilihan yang dapat dibuat oleh penutur. Pembedaan ini seperti apa yang dibuat Chomsky, yaitu antara competence (apa yang secara intuisi diketahui penutur tentang bahasanya) dan performance (apa yang dilakukan penutur ketika dia menggunakan bahasanya).
Ilmu linguistik sendiri sering disebut linguistik umum, artinya ilmu linguistik tidak hanya menyelidiki salah satu bahasa saja tetapi juga menyangkut bahasa pada umumnya. Dengan memakai istilah de Saussure, dapat dirumuskan bahwa ilmu linguistik tidak hanya meneliti salah satu langue saja, tetapi juga langage, yaitu bahasa pada umumnya. Sedangkan linguistik teoretis memuat teori linguistik, yang mencakup sejumlah subbidang, seperti ilmu tentang struktur bahasa (grammar atau tata bahasa) dan makna (semantik). Ilmu tentang tata bahasa meliputi morfologi (pembentukan dan perubahan kata) dan sintaksis (aturan yang menentukan bagaimana kata-kata digabungkan ke dalam frasa atau kalimat). Selain itu dalam bagian ini juga ada fonologi atau ilmu tentang sistem bunyi dan satuan bunyi yang abstrak, dan fonetik, yang berhubungan dengan properti aktual seperti bunyi bahasa atau speech sound (phone) dan bunyi non-speech sound, dan bagaimana bunyi-bunyi tersebut dihasilkan dan didengar (http://en.wikipedia.org/wiki/Linguistics).
Menurut Verhaar (1999:9), setiap ilmu pengetahuan biasanya terbagi atas beberapa bidang bawahan, misalnya ada linguistik antropologis atau cara penyelidikan linguistik yang dimanfaatkan ahli antropologi budaya, ada sosiolinguistik untuk meneliti bagaimana dalam bahasa itu dicerminkan hal-hal sosial dalam golongan penutur tertentu. Tetapi bidang-bidang bawahan tersebut mengandaikan adanya pengetahuan linguistik yang mendasari. Bidang yang mendasari itu adalah bidang yang menyangkut struktur dasar tertentu, yaitu struktur bunyi bahasa yang bidangnya disebut fonetik dan fonologi; struktur kata atau morfologi; struktur antarkata dalam kalimat atau sintaksis; masalah arti atau makna yang bidangnya disebut semantik; hal-hal yang menyangkut siasat komunikasi antarorang dalam parole atau pemakaian bahasa, dan menyangkut juga hubungan tuturan bahasa dengan apa yang dibicarakan, atau disebut pragmatik.
Labels: Linguistics
Seorang penutur asli bahasa Inggris akan kesulitan untuk mengucapkan bunyi fonem /p/ pada kata "psychology". Bunyi [p] tersebut silent atau tidak diucapkan, sehingga akan terdengar seperti [saiˈkolədʒi]. Untuk mengucapkan bunyi [ph] ia akan menarik kedua bibirnya ke dalam sebelum melepaskannya. Ia akan mengalami kesulitan untuk mengucapkan bunyi [ph] sebelum bunyi [s] secara berurutan, sehingga bunyi [ph] menjadi tidak terdengar (seperti pada contoh kata "spot" di atas). Ini berbeda apabila seorang penutur asli bahasa Indonesia atau Jawa yang mengucapkan kata "psikologi". Biasanya bunyi fonem /p/ akan terdengar jelas. Ini karena kaidah fonetis bunyi fonem /p/ dalam bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris. Dalam kaidah fonetis bahasa Indonesia atau Jawa, bunyi [p] tidak beraspirasi di awal kata (dan tidak beraspirasi pula di posisi tengah maupun akhir kata). Jadi, para penutur bahasa Indonesia atau Jawa asli, karena tidak perlu melipat kedua bibirnya ke dalam ketika mengucapkan [p], akan cenderung mengucapkan [pesikologi] atau [sikologi].
*Referensi: Wacana Komunikasi (Herudjati Purwoko)
Labels: Linguistics
When you alternate between two (or more) languages during your speech with another bilingual person, that means you have code-switched. Here is one of my favorite examples of code switching (cited from http://www.apfi-pppsi.com/alihkode.html, my translation):
A: Yanis, tu veux du "gado-gado"? (1) (Yanis, would you like gado-gado?)
B: Mais oui, je veux aussi du "es dawet". Quand on travaille dur, on a toujours faim. (2) (Yes, I’d like es dawet too. When we work hard, we are always hungry.)
A: Pak Mar, tolong pesen gado-gado kalih, es dawet kalih. (3) (Pak Mar, please bring us two gado-gado and es dawet.)
C: Inggih, inggih. (4) (Alright.)
You can see speaker A changes her language from French to Javanese (in utterances 1 and 3). She speaks French when talking with her friend B because her friend knows French too, and then switches to Javanese to talk to C as C does not speak French.
As for code mixing, it occurs when you incorporate small units (words or short phrases) from one language to another one. It is often unintentional and is often in word level. You probably say or hear someone saying something like "jangan suka nge-judge gitu dong. orang kan beda-beda" (note that "judge" is the English word inserted in the Indonesian utterance). You can see that in code mixing, you don't alternate the whole sentence, but you only use one word or two. This often happens unintetionally. Sometimes you have a bunch of lexicons that get jumbled in your brain, and you often use more than one languages.
Now you can see the difference between code switching and code mixing. When you change language intentionally and you do it because of specific purposes (e.g. the presence of third person that does not share the same language, or the change of topic or situation), in other word the switch is functional, that means you code-switch. When you insert a piece of word other than that of your language, and you have no specific purpose or intention when doing that, that means you code-mix.
I have done two researches on this subject. One is on code switching in a home-office domain, the other is on code switching in a mailing list forum. Pretty interesting :D.
Labels: English Posts, Linguistics
Menurut Catford (1965:20), penerjemahan berarti mentransfer bahasa sumber ke bahasa sasaran. Penerjemahan merupakan penggantian materi tekstual pada bahasa sumber ke bahasa sasaran. Dalam proses penerjemahan, penerjemah selalu berusaha mendapatkan unsur bahasa sasaran yang sepadan dengan bahasa sumbernya agar dapat mengungkapkan pesan yang sama dalam teks sasaran. Karena setiap bahasa mempunyai aturan tersendiri, maka perbedaan aturan ini akan menyebabkan terjadinya pergeseran.
Simatupang (2000:74-82) menyebutkan jenis-jenis pergeseran dalam terjemahan sebagai berikut:
- Pergeseran pada tataran morfem
Inggris Indonesia
impossible tidak mungkin
recycle daur ulang
- Pergeseran pada tataran sintaksis
- Kata ke frasa
Inggris
girl anak perempuan
stallion kuda jantan
- Frasa ke klausa
Inggris
Not knowing what to say, (he just kept quiet)
Indonesia
(Karena) dia tidak tahu apa yang hendak dikatakannya, (…)
- Frasa ke kalimat
Inggris
His misinterpretation of the situation (caused his downfall).
Indonesia
Dia salah menafsirkan situasi (dan itulah yang menyebabkan kejatuhannya).
- Klausa ke kalimat
Inggris
Her unusual voice and singing style thrilled her fans, who reacted by screaming, crying, and clapping.
Indonesia
Suaranya yang luar biasa dan gayanya bernyanyi memikat para penggemarnya. Mereka memberikan rekasi dengan berteriak-teriak dan bertepuk tangan.
- Kalimat ke wacana
Inggris
Standing in a muddy jungle clearing strewn with recently felled trees, the Balinese village headman looked at his tiny house at the end of a line of identical buildings and said he felt strange.
Kepala kampung orang Bali itu berdiri di sebuah lahan yang baru dibuka di tengah hutan. Batang-batang pohon yang baru ditebang masih berserakan di sana-sini. Dia memandang rumahnya yang kecil yang berdiri di ujung deretan rumah yang sama bentuknya dan berkata bahwa dia merasa aneh.
- Pergeseran kategori kata
a. Nomina ke adjektiva
Inggris Indonesia
He is in good health. Dia dalam keadaan sehat.
b. Nomina ke verba
Inggris Indonesia
We had a very long talk. Kami berbicara lama sekali.
- Pergeseran pada tataran semantik
Pergeseran makna pada tataran semantik dapat berupa pergeseran makna generik ke makna spesifik maupun sebaliknya. Misalnya pada penerjemahan kata bahasa Inggris leg atau foot ke dalam bahasa Indonesia, maka padanan yang paling dekat untuk kedua kata tersebut adalah kaki. Di sini penerjemahan bergerak dari makna spesifik ke makna generik.
- Pergeseran makna karena perbedaan sudut pandang budaya
Pergeseran makna juga terjadi karena perbedaan sudut pandang dan budaya penutu bahasa yang berbeda. Misalnya orang Inggris menghubungkan ruang angkasa dengan kedalaman, sedangkan orang Indonesia dengan ketinggian atau kejauhan. Jadi orang Inggris akan mengatakan The space-ship travelled deep into space, sedangkan orang Indonesia akan berkata Kapal ruang angkasa itu terbang tinggi sekali di ruang angkasa.
Labels: Linguistics
Sama lan pu winâdâprih (ia ingin sama dengan Empu Winada)
1 2 3 4 5 6 7 8
Prih dânâ wipulan masa (yang bercita-cita mengumpulkan banyak uang dan emas)
8 7 6 5 4 3 2 1
Tama sansara ring gatyâ (akhirnya hidupnya sengsara)
9 10 11 12 13 14 15 16
Tyâga ring rasa san mata (tetapi ia tetap tenang)
16 15 14 13 12 11 10 9
Labels: Linguistics
Seperti kita tahu, Pak Harto punya gaya khas dalam berbicara. Hampir semua orang pasti langsung mengenali kalau kalau Pak Harto berbicara. Pasti ada akhiran -ken, itu yang paling jelas. Kemudian ada juga penggunaan "daripada," "anem" (enam), dan semacamnya. Kemungkinan besar ini karena pengaruh interferensi bahasa Jawa. Gaya bicara khas seseorang seperti ini disebut idiolek (atau idiolect dalam bahasa Inggris).
Untuk definisi yang lebih jelas, dalam usingenglish.com disebutkan demikian:
"A person's idiolect is their own personal language, the words they choose and any other features that characterise their speech and writing. Some people have distinctive features in their language; these would be part of their idiolect, their individual linguistic choices and idiosyncrasies."
Sedangkan di Wikipedia disebutkan demikian:
"An idiolect is a variety of a language unique to an individual. It is manifested by patterns of word selection and grammar, or words, phrases, idioms, or pronunciations that are unique to that individual. Every individual has an idiolect; the grouping of words and phrases is unique, rather than an individual using specific words that nobody else uses."
Setiap orang memiliki idiolek sendiri. Ini yang membedakan seseorang dari orang lain. Jika teman Anda menelepon Anda mungkin Anda bisa mengenali siapa dia dari idioleknya.
Semoga dengen adanya tulisan singkat ini Anda bisa mendapatken tambahan informasi daripada ilmu linguistik :).
Labels: Linguistics
- Pidgin dan Creole
a. Pidgin
Pidgin adalah bahasa yang berkembang sebagai alat komunikasi antara dua kelompok orang yang belum mempunyai bahasa yang umum. Bahasa ini merupakan penyederhanaan dari dua bahasa atau lebih. Bahasa pidgin tidak mempunyai penutur asli (native speaker). Bahasa ini terbentuk secara alami di dalam suatu kontak sosial yang terjadi antara sejumlah penutur yang masing-masing memiliki bahasa ibu. Bahasa pidgin cenderung mencampuradukkan kosa kata, bunyi, dan bentuk-bentuk gramatikal dari kedua bahasa.
Bahasa pidgin terbentuk ketika pengguna suatu bahasa terlibat dalam suatu pedagangan dengan pengguna bahasa lain. Penggunaan bahasa pidgin juga bisa terjadi di suatu perkebunan yang dikepalai oleh pengguna bahasa lain atau orang asing (bukan pemakai bahasa setempat) dan tidak satupun dari kedua pemakai bahasa (pekerja dan pengawas) mengerti bahasa masing-masing.
Dalam setting perkebunan, fungsi lain bahasa pidgin adalah untuk memudahkan para pekerja untuk berkomunikasi satu sama lain, karena para pekerja perkebunan itu tidak berbicara dalam bahasa yang sama. Bahasa pidgin juga bisa terjadi di kota-kota pelabuhan tempat bertemunya pedagang dan pelaut dari berbagai bangsa yang mempunyai bahasa ibu yang berbeda.
Bahasa pidgin juga bisa terbentuk karena adanya penjajahan. Misalnya pada bahasa pidgin Karibia. Karena pulau-pulau tropis dijajah, masyarakatnya direstrukturisasi, yaitu minoritas beberapa bangsa Eropa sebagai penguasa dan sejumlah besar orang-orang non-Eropa sebagai buruh.
Karena bahasa pidgin terbentuk sebagai bahasa campuran dan hanya digunakan sebagai alat komunikasi di antara mereka yang berbahasa ibu berbeda itu, bahasa pidgin tidak memiliki standardisasi, otonomi, historisitas, dan vitalitas.
Contoh bahasa pidgin english di Papua
“Bipo tru igat wanpela liklik meri nau nem bilong em Liklik Retpela Hat.” (‘A long time ago, there was a little girl named Little Red Riding Hood.’)
b. Creole
Creole pada awalnya adalah orang keturunan Eropa yang lahir dan dibesarkan di suatu koloni tropis. Creole adalah bahasa pidgin yang struktur dan kosa katanya telah diperluas serta telah memiliki fungsi-fungsi yang diperlukan untuk menjadi bahasa pertama.
Jika bahasa pidgin sudah cukup lama digunakan, bahasa pidgin menjadi lebih kaya kosa kata dan strukturnya menjadi lebih kompleks, dan kemudian menjadi bahasa creole. Bahasa creole mengembangkan cara-cara untuk menandakan makna seperti bentuk waktu pada kata kerja, infleksi maupun afiks. Bahasa creole juga sudah mempunyai penutur asli.
Kebanyakan bahasa creole adalah bahasa yang berasal dari bahasa Eropa, misalnya kosa kata yang diambil dari satu atau lebih bahasa Eropa, seperti bahasa Inggris, Portugis, Spanyol, Prancis, dan Belanda. Bahasa creole Inggris dan Prancis adalah yang paling umum di
Contoh bahasa pidgin yang telah menjadi bahasa creole dapat dilihat pada tabel berikut:
| Tok Pisin | English | Tok Pisin | English |
| Bik | Big, large | Bikim | To enlarge, to make large |
| Brait | Wide | Braitim | To make wide, widen |
| Daun | Low | Daunim | To lower |
| Nogut | Bad | Nogutim | To spoil, damage |
| Pret | Afraid | Pretim | To frighten, scare |
Jika bahasa creole telah bekembang, ia dapat berfungsi secara politis, pendidikan, kesusastraan, administrasi, dan lain-lain. Bahasa creole bisa menjadi bahasa standar, bahasa nasional, maupun bahasa resmi, misalnya Tok Pisin yang menjadi bahasa resmi di
Dalam masyarakat dengan pembagian sosial yang masih kaku, bahasa creole bisa tetap menduduki fungsi L, di samping bahasa H yang resmi disetujui, misalnya pada bahasa diglosia
Chaer, Abdul & Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar.
Fasold, Ralph. 1990. The Sociolinguistics of Language.
Holmes, Janet. 1992. An Introduction to Sociolinguistics.
Labels: Linguistics
- Bahasa standar
Bahasa standar merupakan bahasa tertulis dan telah mengalami regularisasi dan kodifikasi, misalnya dalam tata bahasa dan dalam kamus. Bahasa standar juga berfungsi sebagai bahasa resmi dan merupakan dialek tertentu yang memiliki kedudukan khusus karena pengaruh sosial, ekonomi dan politik yang membuatnya menjadi prestisius dan berpengaruh. Jadi dengan kata lain, bahasa standar memiliki fungsi yang lebih tinggi (fungsi H) dari ragam bahasa yang digunakan sehari-hari (fungsi L).
Menurut Puttenham, bahasa standar, dalam hal ini bahasa Inggris standar, adalah ragam bahasa yang digunakan oleh Royal Court dan orang-orang yang tinggal di daerah sekitar 60 mil dari London. Di daerah itu, selain
Telah dijelaskan bahwa bahasa standar mengalami kodifikasi.
a. Kodifikasi adalah membuat bahasa memiliki sistem
b. Kodifikasi adalah proses mendeskripsikan bahasa ke dalam tata bahasa dan kamus
c. Kodifikasi biasanya berdasarkan kriteria bahasa yang digunakan anggota masyarakat yang terpelajar dan berkedudukan tinngi
d. Subjek kodifikasi adalah ragam bahasa tertentu yang telah memiliki kedudukan khusus karena pengaruh sosial, ekonomi, dan politik.
Setiap ragam bahasa bisa menjadi bahasa standar jika bahasa itu tertulis, dikodifikasikan, prestisius, digunakan oleh orang-orang yang berpengaruh dan memiliki fungsi tinggi (fungsi H). Jika suatu ragam bahasa dianggap prestisius, bahasa itu akan cepat menyebar ke masyarakat luas. Bahasa standar ini dapat menjadi alat komunikasi antar wilayah yang memiliki bahasa yang berbeda (bahasa daerah). Contoh bahasa standar adalah bahasa Indonesia yang berfungsi sebagai bahasa resmi masyarakat
- Lingua franca
Lingua franca adalah sebuah sistem linguistik yang digunakan sebagai alat komunikasi sementara oleh para partisipan yang mempunyai bahasa ibu yang berbeda. Seperti halnya bahasa Latin yang dahulu merupakan lingua franca bagi bangsa-bangsa di Eropa, bahasa Melayu pernah menjadi lingua franca bagi suku-suku bangsa yang ada di wilayah nusantara. Baik bangsa-bangsa di Eropa maupun suku-suku bangsa di Indonesia itu mempunyai bahasa vernakular yang berbeda, jadi untuk komunikasi antarbangsa dan antarsuku bangsa diperlukan sebuah bahasa yang menjadi lingua franca.
Berdasarkan sejarah, istilah lingua
Pemilihan suatu bahasa menjadi lingua franca adalah berdasarkan adanya kesalingpahaman antara sesama mereka. Di beberapa negara, lingua franca yang paling banyak digunakan adalah bahasa resmi atau bahasa nasional negara tersebut. Bahasa Indonesia/Melayu/Malaysia masih menjadi lingua franca di kawasan Asia Tenggara. Bahasa Inggris di India dan di Filipina yang diangkat secara politis menjadi bahasa resmi kenegaraan adalah juga karena bahasa Inggris itu telah menjadi lingua franca di kedua negara itu.
Suatu lingua franca sering berkembang karena adanya hubungan perdagangan. Misalnya di Afrika Barat, bahasa Hausa dipelajari sebagai bahasa kedua dan digunakan di hampir setiap pasar/tempat perdagangan. Bahasa Swahili di Afrika Timur adalah bahasa perdagangan yang paling sering digunakan hingga membuat
Karena dasar pemilihan lingua franca adalah saling pengertian antara para penggunanya, maka bahasa apa pun, termasuk pidgin atau creole dapat mejadi sebuah lingua franca.
(bersambung)
Labels: Linguistics
Lebih dari setengah populasi dunia menggunakan dua bahasa dan banyak orang berbicara lebih dari satu bahasa. Mereka menggunakan lebih dari satu bahasa karena mereka memerlukan bahasa-bahasa itu untuk tujuan yang berbeda dalam kehidupan mereka. Di Indonesia misalnya, dengan ratusan juta penduduknya, memiliki ribuan bahasa. Sosiolinguistik telah mengembangkan beberapa cara untuk mengategorikan bahasa berdasarkan status dan fungsi sosialnya. Tulisan ini akan membahas kriteria yang digunakan dalam sosiolinguistik untuk membedakan variasi linguistik dan kode pada masyarakat multilingual tersebut.
- Bahasa vernakular
Jenis bahasa vernakular adalah bahasa umum yang digunakan sehari-hari oleh satu bangsa atau satu wilayah geografis, yang bisa dibedakan dari bahasa sastra yang dipakai terutama di sekolah-sekolah dan dalam kesusastraan.
Ciri-ciri bahasa vernakular antara lain :
- Belum distandarkan
- Bahasa itu pertama didapatkan dari rumah
- Fungsinya relatif terbatas
Jadi dengan kata lain bahasa vernakular memiliki ciri otonomi, historisitas, dan vitalitas, tetapi tidak mempunyai ciri standarisasi.
Ada ratusan bahasa vernakular, misalnya bahasa Buang di Papua New Guinea, selain itu juga bahasa pribumi Eropa pada abad pertengahan, sebagai kebalikan dari bahasa Latin, yang pada waktu itu menjadi lingua franca di seluruh Eropa. Banyak dari bahasa vernakular yang belum ditulis atau dideskripsikan. Sejumlah bahasa daerah di
Dalam pengertian luas, bahasa Jawa di Indonesia bisa disebut bahasa vernakular, karena bahasa itu pertama didapatkan dari lingkungan keluarga, Tetapi, bahasa Jawa juga bisa dianggap bukan bahasa vernakular karena bahasa Jawa telah mengalami kodifikasi seperti halnya bahasa
Bahasa Spanyol yang dipakai di Amerika juga bisa disebut bahasa vernakular, karena dipakai di lingkungan tertentu atau di rumah oleh orang-orang yang berbahasa Spanyol saja, tetapi
Bahasa vernakular biasanya merupakan ragam bahasa yang digunakan untuk percakapan sehari-hari di rumah dan di lingkungan teman dekat. Tetapi pada bahasa Ibrani, bahasa ini berkembang dari bahasa ritual dan keagamaan menjadi bahasa sehari-hari. Bahasa Ibrani (Hebrew) pada awalnya tidak memiliki penutur asli dan bukan dianggap sebagai bahasa vernakular. Bahasa
Labels: Linguistics
Communicative Language Teaching (CLT) merupakan suatu metode pengajaran bahasa yang merupakan pengembangan dari metode-metode sebelumnya seperti metode Situational Language Teaching dan metode Audio Lingual. Salah satu ciri utama dari CLT adalah adanya kombinasi antara aspek-aspek bahasa secara fungsional dan struktural. Secara struktural, CLT menekankan pada sistem grammar atau tata bahasa, sedangkan fungsional menekankan pada penggunaan bahasa itu.
CLT juga menekankan pada situasi, misalnya dalam situasi yang bagaimana suatu tuturan diucapkan. Dalam CLT terdapat berbagai kemampuan berbahasa yang terintegrasi (integrated skills) yang mencakup kemampuan reading, writing, listening, speaking, vocabulary, dan grammar. Jadi, melalui CLT ini para pembelajar bahasa asing diharapkan dapat menguasai atau terampil berbahasa, tidak hanya menulis tetapi juga berbicara dan tentunya dengan tata bahasa yang benar.
Adapun beberapa tujuan CLT antara lain :
- Siswa akan belajar menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan sesuatu.
- Siswa akan menggunakan bahasa sebagai alat untuk mengekspresikan pendapat dan penilaian.
- Siswa akan belajar mengekspresikan fungsi-fungsi yang paling sesuai untuk berkomunikasi.
CLT menggunakan hampir setiap kegiatan yang melibatkan pembelajar dalam suatu komunikasi yang autentik. Littlewood (1981) membedakan dua jenis kegiatan:
- Kegiatan komunikasi fungsional
Kegiatan yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan (skill) dan fungsi bahasa tertentu, tetapi tetap melibatkan komunikasi.
- Kegiatan interaksi sosial
Misalnya percakapan dan diskusi, dialog dan bermain peran (role play).
Labels: Linguistics
Salah satu faktor yang dominan pengaruhnya dalam perubahan dan pergeseran makna adalah sebab yang berlatar belakang budaya, terutama adanya penemuan baru dan konsep ilmu pengetahuan yang semakin berkembang. Setiap penemuan baru selalu diberi nama baru, baik dengan menciptakan sendiri, menghidupkan kata lama yang tidak terpakai lagi, menggabung makna yang sudah ada untuk menciptakan makna sendiri, maupun menyerap dari bahasa lain (Parera, 2004:111).
Salah satu teknologi yang terus berkembang sangat pesat adalah teknologi informasi dan komputer. Penemuan dan inovasi dalam bidang ini yang memerlukan penciptaan istilah baru. Banyak penemuan dalam bidang tersebut menggunakan istilah asing terutama bahasa Inggris karena memang penemuan tersebut diciptakan oleh bangsa asing. Kemajuan teknologi bangsa Indonesia jauh terlambat dibandingkan negara lain, sehingga sering kali sulit mencari padanan kata untuk penemuan tersebut dalam bahasa Indonesia. Apabila ada padanan kata dalam bahasa Indonesia, berarti kata tersebut akan mengalami perluasan atau penyempitan. Misalnya pada istilah komputer ”window”. Kata ini dalam bahasa Indonesia diartikan ”jendela”. Jadi kata ’jendela’ bisa meluas untuk menjelaskan tampilan pada aplikasi komputer, tidak hanya seperti pada jendela rumah. Contoh kata ini banyak digunakan, dan dirasa cukup berterima. Contoh kata lain yang masih berhubungan dengan komputer adalah ”mouse”. Dalam bahasa Indonesia kata ini dibakukan menjadi ”tetikus”. Pemerintah juga berperan dalam penentuan standar pembakuan istilah asing ini (panduan pembakuan istilah komputer dapat dilihat pada situs Web http://www.vlsm.org/etc/baku-0.txt). Walaupun demikian, tetap saja masyarakat pengguna bahasa itulah yang akan menentukan apakah akan memakai istilah asing sesuai aslinya maupun istilah terjemahan yang dibuat pemerintah. Peran media maupun literatur (buku-buku bacaan) juga dapat memengaruhi masyarakat untuk menggunakan berbagai istilah tersebut.
Masih banyak lagi faktor yang memengaruhi perubahan makna. Hal ini mungkin akan berpengaruh pula dalam penyusunan kamus kosakata baku bahasa Indonesia.
PS: Ini adalah modifikasi jawaban saya dari soal ujian mata kuliah Semantik beberapa waktu lalu. Open for discussion :).
Labels: Linguistics
Tulisan ini sudah pernah di-upload di situs web teman saya, tapi akan saya posting di blog ini juga. Siapa tahu bermanfaat :) untuk teman-teman penulis.
Ketika membuat suatu tulisan, karangan, ataupun membuat suatu bagian yang lebih sederhana dari karangan yaitu kalimat, kita sering menghadapi banyak persoalan. Salah satunya adalah apakah kalimat yang kita buat itu efektif atau tidak, sehingga pembaca bisa memahami apa yang ingin kita ungkapkan.
Sebelum dapat membuat atau bahkan membetulkan suatu kalimat menjadi efektif, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu dipakai untuk menyampaikan informasi dari pembicara atau penulis kepada lawan bicara atau pembaca secara tepat. Ketepatan dalam penyampaian informasi akan membuahkan hasil, yaitu adanya kepahaman lawan bicara atau pembaca terhadap isi kalimat atau tuturan yang disampaikan. Lawan bicara atau pembaca tidak akan bisa menjawab, melaksanakan, atau menghayati setiap kalimat atau tuturan itu sebelum mereka dapat memahami benar isi kalimat atau tuturan tersebut.
Berikut akan kita lihat kalimat-kalimat yang tidak efektif dan kita akan mencoba membetulkan kesalahan pada kalimat-kalimat itu. Beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat antara lain:
1. Pleonastis
Pleonastis atau pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu. Contoh-contoh kalimat yang mengandung kesalahan pleonastis antara lain:
· Banyak tombol-tombol yang dapat Anda gunakan.
Kalimat ini seharusnya: Banyak tombol yang dapat Anda gunakan.
· Kita harus saling tolong-menolong.
Kalimat ini seharusnya: Kita harus saling menolong, atau Kita seharusnya tolong-menolong.
2. Kontaminasi
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan kontaminasi dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Fitur terbarunya Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.
Kalimat tersebut akan menjadi lebih efektif apabila akhiran –nya dihilangkan.
Fitur terbaru Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.
3. Salah pemilihan kata
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan pemilihan kata dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Saya mengetahui kalau ia kecewa.
Seharusnya: Saya mengetahui bahwa ia kecewa.
4. Salah nalar
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan nalar dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Bola gagal masuk gawang.
Seharusnya: Bola tidak masuk gawang.
5. Pengaruh bahasa asing atau daerah (interferensi)
· Bahasa asing
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa asing terlihat pada kalimat berikut:
Saya tinggal di
Kalimat ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan kalimat berikut:
I live in
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:
Saya tinggal di
· Bahasa daerah
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa daerah dapat kita lihat pada kalimat berikut:
Anak-anak sudah pada datang.
Dalam bahasa
Anak-anak sudah datang.
Contoh lain pengaruh bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, juga dapat kita lihat pada kalimat berikut. Penulis menemukan contoh ini dari sebuah rubrik di tabloid anak-anak Yunior.
Masuknya keluar mana? (Jawa: Mlebune metu endi?)
Kita sebaiknya mengganti kalimat tersebut dengan: Masuknya lewat mana?
6. Kata depan yang tidak perlu
Sering kali kita membuat kalimat yang mengandung kata depan yang tidak perlu seperti pada kalimat berikut:
Di program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.
Agar menjadi efektif, sebaiknya kita menghilangkan kata depan di, sehingga kalimatnya menjadi:
Program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.
1. Kurang padunya kesatuan gagasan.
Setiap tuturan terdiri atas beberapa satuan gramatikal. Agar tuturan itu memiliki kesatuan gagasan, satuan-satuan gramatikalnya harus lengkap dan mendukung satu ide pokoknya. Kita bisa melihat pada contoh berikut:
Program aplikasi MS Word dapat Anda gunakan sebagai pengolah kata. Dengan program ini Anda dapat melakukan berbagai aktivitas perkantoran seperti mengetik surat atau dokumen. MS Word adalah produk peranti lunak keluaran Microsoft.
Kalimat-kalimat pada contoh tersebut tidak mempunyai kesatuan gagasan. Seharusnya setelah diungkapkan gagasan tentang “fungsi MS Word” pada kalimat pertama, diungkapkan gagasan lain yang saling bertautan.
2. Kurang ekonomis pemakaian kata.
Ekonomis dalam berbahasa berarti penghematan pemakaian kata dalam tuturan. Sebaiknya kita menghindari kata yang tidak diperlukan benar dari sudut maknanya, misalnya:
· membicarakan tentang transmigrasi
Seharusnya: membicarakan transmigrasi
· sudah pada tempatnya apabila
Seharusnya: sudah selayaknya apabila
· Depresi ekonomi bukan hanya dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah, tetapi juga dirasakan oleh kelompok elite pribumi.
Seharusnya: Depresi ekonomi dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah dan kelompok elite.
Atau: Depresi ekonomi dirasakan kaum pribumi di semua lapisan.
3. Kurang logis susunan gagasannya.
Tulisan dengan susunan gagasan yang kurang logis dapat kita lihat pada contoh berikut:
Karena zat putih telurnya itulah maka telur dan dagingnya ayam itu sangat bermanfaat untuk tubuh kita. Semua makhluk dalam hidupnya memerlukan zat putih telur, manusia untuk melanjutkan hidupnya perlu akan zat putih telur.
Kita dapat membuat tulisan itu menjadi efektif seperti berikut:
Semua makhluk hidup memerlukan zat putih telur yang berasal dari telur dan daging ayam. Manusia adalah makhluk hidup. Jadi, manusia memerlukan zat putih telur yang berasal dari telur dan daging ayam untuk melanjutkan hidupnya. Dapat dikatakan bahwa telur dan daging ayam sangat bermanfaat bagi tubuh.
4. Pemakaian kata-kata yang kurang sesuai ragam bahasanya.
Pemakaian bahasa tidak
· Penulis menghaturkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Gatot A.S atas bimbingannya dalam menyelesaikan buku ini.
· Sehubungan dengan hal itu Takdir Alisyahbana bilang bahwa hal bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa internasional.
Pemakaian kata menghaturkan dan bilang tidak tepat untuk ragam bahsa keilmuan, sehingga kata-kata tersebut sebaiknya diganti dengan mengucapkan dan mengatakan.
5. Konstruksi yang bermakna ganda.
Suatu kalimat dipandang dari sudut tata bahasanya mungkin tidak salah, namun kadang-kadang mengandung tafsiran ganda (ambigu) sehingga tergolong kalimat yang kurang efektif. Kalimat yang memiliki makna ganda dapat kita lihat pada kalimat-kalimat:
· Istri kopral yang nakal itu membeli sepatu.
Unsur yang nakal itu menerangkan istri atau kopral ? Jika yang dimaksud nakal adalah istri, maka kalimat itu seharusnya menjadi:
Istri yang nakal kopral itu membeli sepatu.
· Penyuluh menerangkan cara beternak ayam baru kepada para petani.
Kata baru pada kalimat itu menerangkan kata ayam atau cara beternak? Jika kata baru menerangkan cara beternak, kalimat itu menjadi lebih baik seperti kalimat berikut:
Penyuluh menerangkan cara baru beternak ayam kepada para petani.
6. Penyusunan kalimat yang kurang cermat.
Penyusunan yang kurang cermat dapat mengakibatkan nalar yang terkandung di dalam kalimat tidak runtut sehingga kalimat menjadi kurang efektif.
Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah untuk mengelola sejumlah manusia memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh.
Kalimat tersebut dapat diperbaiki seperti berikut:
· Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan, yakni pengelolaan sejumlah manusia, memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh.
· Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah pengelolaan sejumlah manusia. Hal ini memerlukan keprihatinan dan dedikasi yang tangguh.
7. Bentuk kata dalam perincian yang tidak sejajar.
Dalam kalimat yang berisi perincian, satuan-satuan dalam perincian itu akan lebih efektif jika diungkapkan dalam bentuk sejajar. Jika dalam suatu kalimat perincian satu diungkapkan dalam bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat, perincian lainnya juga diungkapkan dalam bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat juga (sejajar). Contoh kalimat yang perinciannya tidak sejajar:
· Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan data, mengklasifikasikan data, dan menganalisis data.
Seharusnya:
Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan data, pengklasifikasian data, dan penganalisisan data.
· Dengan penghayatan yang sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
Seharusnya:
Dengan menghayati secara sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
Atau:
Dengan penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
Labels: Linguistics
