| It was put on a church wall. |
| Fishing? |
| It just looks cool to me... |
| They also have tempe in Sydney... |
| If you speak Javanese you know what's funny with this sign. |
Labels: English Posts, Rambling, Vacation
Kalau kriteria orang Jawa harus bisa berbahasa Jawa, kenapa saat ini banyak orang keturunan Jawa yang sudah tidak bisa berbahasa Jawa. Jangankan basa jawa krama, jawa ngoko pun ada yang tidak bisa. Banyak orang tua yang cenderung mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu kepada anaknya, kadang karena orang tuanya sendiri tidak bisa berbahasa Jawa. Bahasa Jawa diperoleh ketika berinteraksi dengan teman-teman di luar rumah. Bahasa krama pun tidak terlalu dikuasai karena dianggap sulit dan repot, maka ketika orang yang lebih muda berbicara kepada orang tua, mereka lebih suka menggunakan bahasa Indonesia atau malah menggunakan jawa ngoko. Bahkan bahasa jawa dianggap feodal. Kalau tidak bisa menggunakan semua tingkat tutur bahasa Jawa itu, apakah seseorang sudah kehilangan kejawaannya?
Kalau ada orang Jawa yang kehilangan rasa, membiarkan dirinya dikendalikan nafsu dan pamrih, kasar, dalam filosofi Jawa orang itu dianggap "belum jawa" (durung jawa) (Magnis-Suseno, 1997:155). Sekarang banyak sekali orang Jawa yang memiliki sifat sebagaimana digambarkan demikian. Jadi apakah orang itu orang Jawa yang belum jawa, atau sudah kehilangan kejawaannya? Parahnya, kadang orang yang bukan keturunan suku Jawa malah lebih njawani daripada orang asli Jawa itu sendiri.
Menurut orang Jawa, terutama priyayi, memiliki istri lebih dari satu itu biasa. Wanita jawa seharusnya menurut pada suami jika suaminya ingin memiliki selir. Kalau Anda membaca novel Linus Suryadi yang berjudul Pengakuan Pariyem, wah lebih baik saya dianggap bukan perempuan Jawa kalau rela bernasib seperti Pariyem di novel itu (:p).
Mungkin orang Jawa yang paling jawa adalah pengikut saminisme. Mereka hanya mau berbahasa Jawa, walaupun bahasa Jawa ngoko, tapi itu malah menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang egaliter dan tidak membeda-bedakan sesama. Mereka juga antipoligami, karena berprinsip cukup satu suami/istri untuk selamanya.
Kalau Anda, masih jawa atau tidak?
Labels: Rambling
Contreng. Kata ini sedang merasakan masa kejayaannya di masa-masa pemilihan umum di negeri ini. Berapa kali kata ini disebutkan dalam sehari, dari masa sebelum kampanye hingga sesudah pemilu. Dulu kita tidak terlalu sering atau bahkan jarang sekali mendengar kata ini, saya sendiri juga tidak terlalu akrab dengan kata ini. Umumnya saya memakai atau mendengar kata "centang". Kata yang dipakai untuk mengacu pada simbol yang terlihat seperti huruf V itu.
Saya sudah memeriksa keberadaan kata "contreng" di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, terbitan Balai Pustaka tahun 2002. Tidak ada kata "contreng" di sana. Tapi dalam penggunaannya ternyata kata tersebut memang ada, terbukti sekarang banyak orang yang tahu dan menggunakan kata tersebut. Pada saat belum banyak digunakan seperti sekarang ini mungkin kata "contreng" bukanlah istilah yang baku, atau hanya dikenal oleh sebagian orang saja. Tetapi saat ini, seiring banyak digunakannya istilah tersebut oleh masyarakat luas dan elite politik serta pejabat, tampaknya kata "contreng" mulai mendapatkan eksistensi dan pengakuan dalam bahasa Indonesia.
Kalau penggunaan kata "contreng" semakin meluas dan dapat bertahan, maka bisa dimungkinkan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru akan mencantumkan "contreng" sebagai kosakata baru dalam salah satu entrinya.
Eh saya belum memeriksa Kamus Besar yang edisi 4 ding...
Labels: Rambling
Apakah para penutur asli bahasa Inggris lebih self-centered daripada penutur asli bahasa Indonesia?
Coba saja, dalam bahasa Inggris kata yang bermakna "saya" selalu ditulis dengan huruf besar (huruf kapital) "I". Dalam bahasa Indonesia, kata yang bermakna sama tersebut ditulis dengan awalan huruf kecil "saya" (kecuali di awal kalimat tentunya). Apakah ini menunjukkan ego yang lebih besar? Atau mungkin kepercayaan diri yang tinggi?
Sementara untuk kata yang bermakna "kamu" atau "Anda" (orang kedua) dalam bahasa Inggris ditulis dengan awalan huruf kecil "you", sama halnya dalam bahasa Indonesia kata "kamu" diawali dengan huruf kecil. Tetapi untuk kata "Anda" yang ditujukan untuk orang kedua tetapi lebih dihormati ditulis dengan awalan huruf kapital "Anda". Apakah ini menunjukkan bahwa penutur bahasa Inggris lebih egaliter?
Bahasa itu unik. Mungkin itulah kenapa saya selalu tertarik dengan bahasa...(halah)
Labels: Linguistics, Rambling
Well yeah. I just blogged today for the national blogger's day.
Just like the famous Descartes' quote "cogito ergo sum" that means "I think, therefore I am," I would say "I blog, therefore I am" haha.
So, happy blogger's day, bloggers!
Labels: English Posts, Rambling
Isn't it a cool bus? San Francisco, eh?Take a look...
No, I didn't go to San Francisco. It's just a Nusantara bus I took to Purwokerto, haha. Still wonder why they put Golden Gate bridge picture on a Semarang-Purwokerto bus...
Labels: English Posts, Rambling
Banyaknya penulis buku komputer dan TI ini secara langsung berpengaruh pada industri penerbitan. Salah satu dampak yang muncul adalah perusahaan penerbit dapat menambah lini produk, yang akhirnya berimbas pada target konsumen yang lebih luas, dan pada akhirnya peningkatan laba. Selain itu, para peminat dan konsumen buku tersebut juga semakin dimanjakan dengan banyaknya pilihan judul. Dari segi tema, buku-buku tersebut bervariasi dari misalnya tutorial praktis menggunakan program komputer tertentu, sampai yang bersifat teknis seperti panduan merakit komputer hingga kamus istilah komputer. Bahkan banyak pula terbit buku-buku saku yang harganya terjangkau tetapi cukup praktis dan membantu, seperti buku panduan daftar situs Web menarik hingga panduan chatting di Internet dan semacamnya.
Maraknya buku komputer dan TI mendorong pula banyaknya penghobi dan praktisi yang beralih dalam bidang tulis-menulis. Tidak jarang di antara mereka yang menjadikan hobi menulis dan TI sebagai pekerjaan utama. Buku yang menjadi best seller tentunya akan menghasilkan pemasukan dari royalti yang cukup besar. Banyaknya penulis pemula yang belum memiliki nama atau merasa kesulitan masuk ke penerbit mendorong pula munculnya berbagai komunitas yang berfungsi sebagai mediator antara penulis dan penerbit. Komunitas ini biasanya telah memiliki hubungan baik dan sering bekerja sama dengan penerbit untuk memublikasikan karya-karya para penulis yang tergabung di dalamnya. Dengan demikian, komunitas tersebut dapat berperan untuk menjembatani para penulis tersebut dengan penerbit, meskipun ada kompensasi tertentu, seperti bagi hasil royalti atau lainnya. Beberapa komunitas penulis buku komputer dan TI di Semarang yang naskahnya diterbitkan oleh berbagai penerbit besar seperti Penerbit Salemba, Andi Offset, Elex Media Komputindo, antara lain SmitDev (Semarang IT Developer) dan E-Media Solusindo (EMS). Ada pula perusahaan dan institusi seperti perguruan tinggi yang menjadi perantara ke penerbit, seperti Wahana Komputer serta Unika Soegijapranata dan UKSW.
Tingginya volume naskah yang masuk ke penerbit dibandingkan kebutuhan pasar akan menimbulkan bottleneck. Ditambah tema tulisan yang hampir beragam, tingkat persaingan untuk masuk ke penerbit menjadi semakin berat. Banyak penerbit lebih memprioritaskan penulis lama yang telah memiliki nama. Ini tentunya menjadi kendala tersendiri bagi penulis baru. Lebih jauh lagi, dari sisi penerbit, agaknya masukan naskah dari komunitas dipilih karena beberapa alasan. Yang pertama, dengan berhubungan dari satu pihak saja penerbit dapat memperoleh banyak naskah. Yang kedua, keseragaman dan kontinuitas seri-seri buku lebih terjaga. Komunitas tersebut biasanya membagi jenis naskah ke dalam berbagai seri, seperti seri belajar mandiri, seri pemrograman, dan semacamnya. Yang ketiga, penerbit terbantu dari sisi penyuntingan karena komunitas tersebut biasanya juga memiliki editor, jadi ada proses swasunting dahulu sebelum dikirimkan ke penerbit. Ini tentunya akan memudahkan dan mempercepat proses penyuntingan dan penerbitan, hingga akhirnya buku tersebut dapat terbit sesuai waktunya dan up-to-date karena aplikasi komputer berkembang dengan pesat. Buku dengan tema yang mudah ”basi” tentunya tidak akan banyak dilirik konsumen.
Dari sisi lain, karena cukup sering membaca dan menyunting buku komputer, penulis artikel ini dapat melihat dari segi penulisan dan kebahasaan, agaknya gaya tulisan dalam buku-buku tersebut memunculkan genre tersendiri. Walaupun perlu pembuktian lebih lanjut, model penulisan buku tersebut seperti mengikuti pola tertentu, terutama untuk buku mengenai tutorial aplikasi program. Kebanyakan pembahasan dalam setiap babnya berupa panduan langkah demi langkah untuk menerapkan program tertentu. Dari segi bahasa, terbitnya bermacam buku komputer dan TI ini selanjutnya juga memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Karena kita belum banyak memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia, maka kebanyakan kosakata yang digunakan dalam buku tersebut berupa kata serapan atau pinjaman dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Meskipun demikian, banyak pula terdapat kata yang telah diindonesiakan seperti ’mengunduh’ (download), ’peranti keras’ (hardware), ’peranti lunak’ (software), dan sebagainya. Buku-buku tersebut diharapkan dapat membantu menyebarluaskan penggunaan istilah komputer dalam bahasa kita sendiri, karena kebanyakan dari kita masih merasa aneh dan enggan untuk menggunakannya dan cenderung memilih menggunakan istilah asingnya.
Buku-buku mengenai komputer dan TI memiliki prospek yang cerah. Perkembangan teknologi dan tuntutan zaman akan membuat kita harus selalu bergerak mengikutinya. Dunia TI bersifat dinamis, sehingga proses pembelajaran juga selalu mengikuti perkembangan yang terjadi. Lebih dari itu, tentunya kita juga tidak mau menjadi bangsa yang selalu tertinggal. Dengan banyak membaca kita akan bisa mengejar ketertinggalan itu sedikit demi sedikit. Dengan demikian, terbitnya buku-buku tersebut menjadi sesuatu yang selalu dibutuhkan.
Terakhir, jika Anda memiliki minat dalam dunia TI dan kepenulisan, mengapa tidak menjadi penulis saja? Menyalurkan hobi namun mendapat bisa mendapatkan uang. Mulai saja dari tema yang paling sederhana dan yang paling Anda kuasai. Salah seorang rekan pernah menulis buku tentang bagaimana chatting di Yahoo Messenger dan buku itu cukup laris dan sudah dicetak ulang. Jadi terbukti, buku komputer juga nggak ada matinya!
**Tulisan ini sebenarnya saya kirimkan ke media beberapa waktu lalu, tapi ternyata ndak dimuat, hahaha. Ya wis, daripada mangkrak di hard disk, saya muat di blog sendiri saja.
Labels: Rambling
Here is one of the sentences i captured: "Galaxy is a group of stars in universe that their amount is large" (Galaksi adalah kelompok bintang di jagat raya yang jumlahnya banyak). D'oh, it just sounds like word by word translation. Terrible. Next sentences sound worse and worse (sorry >_<).
Well maybe I'm just being critical, but I think they have to revise the book. I think the intention of writing a bilingual book is very good, but I think they should write it in good English and Indonesian (surely it will also make the editor or translator's job much easier, eheh).
Labels: English Posts, Rambling
Labels: English Posts, Rambling
I will present my thesis proposal this Saturday, July 5th. My thesis will be on Saminism in Blora. Kindof hard I think, but I still hope I can do it well.
So, goodluck Nina!
*Already did it. I did not do that well when defending my arguments...but the grade was satisfactory :D
Labels: English Posts, Rambling
This book is very thick. Don Quixote by Miguel de Cervantes. I have this one, the complete and unabridged version. It was recommended to me, I thought it was good so I bought it anyways. I wanted to buy Anna Karenina by Leo Tolstoy (the Indonesian version), but I eventually bought this one. I got it like two years ago, and I have never finished it since then. I probably have read one-third of the book. It is a classic novel, and I have to think twice (or maybe more) when reading it because of the language. Reading English books should be fine with me, but for classic novels, sometimes I have to read the sentences more than once or skip some words because I am lazy to look them up in dictionary, heheh. As long as I get the point, that is. Then I can enjoy it.Been two years and I don't know when I will continue it. Laziness is the thing. I have some books I haven't finished reading, among others are Lord Jim by Joseph Conrad (one of the reasons I bought it was because it tells about Semarang, my city, hahah) and Kebangkitan by Leo Tolstoy (the translated version of Resurrection). Both are pretty boring I guess. But I surely want to finish reading them. I just don't know when. Oh well...
Labels: English Posts, Rambling
For the silence,
For all questions left unanswered,
For all problems left unsolved,
For all words left misunderstood,
For all of our empty chatters,
For the boredom of listening...
Sir,
we don't really get what you say in class....
(is it that you are too smart or we, your students, are the stupid ones?)
*dedicated to our syntax prof
Labels: English Posts, Poetry, Rambling
TAMAN KECIL SEBAGAI MEDIA PENGHIJAUAN
DI SEPANJANG KANAN KIRI JALAN PROTOKOL
A. PENDAHULUAN
Luas ruang terbuka hijau di kota Semarang setiap tahun semakin berkurang. Hal tersebut disebabkan terjadinya perubahan fungsi yang semula berupa lahan terbuka menjadi terbangun untuk berbagai keperluan seperti jalan protokol, perumahan, industri, pertokoan, kantor, pedagang kaki lima, dan sebagainya. Semakin sempitnya ruang tersebut, khususnya taman dan area pedestrian, dapat menimbulkan kerawanan dan penyakit sosial, misalnya sifat individualistik dan ketidakpedulian terhadap lingkungan. Hal ini sering ditemukan di masyarakat perkotaan. Selain itu, semakin terbatasnya ruang terbuka juga berpengaruh terhadap peningkatan iklim mikro, pencemaran udara, banjir, dan berbagai dampak negatif lingkungan lainnya.
Kondisi jalan protokol juga semakin padat karena terjadi peningkatan jumlah kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Tingkat penggunaan kendaraan di jalan tersebut sejalan dengan aktivitas manusia yang dituntut bergerak dinamis di era sekarang. Hal ini berdampak pada tingkat polusi di udara. Asap yang keluar dari knalpot kendaraan, debu, asap pabrik, merupakan pemandangan yang sering kita lihat. Polutan tersebut dapat mengakibatkan banyak permasalahan, mulai dari kesehatan, kebersihan, hingga estetika lingkungan.
Masalah kesehatan akan muncul karena kandungan polutan di udara semakin meningkat. Debu, gas karbon monoksida (CO), timbal (Pb), dan logam berat lainnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Radikal bebas inilah yang dapat menyebabkan kanker. CO2 merupakan gas utama penyebab pemanasan global (83%), yang akan berakibat pada perubahan iklim, menyebabkan banjir, kekeringan, perubahan ekosistem, dan kesehatan manusia (http://sim.nilim.go.jp/ GE/SEMI7/5%20PENGHIJAUAN.ppt). Meningkatnya gas CO2 di udara juga memacu meningkatnya suhu atmosfer bumi, atau biasa dikenal sebagai efek rumah kaca. Sumber emisi CO2 di jalan raya antara lain berasal dari transportasi, sampah, dan industri. Muncul banyak masalah jika terjadi pemanasan global seperti sekarang ini, mulai dari masalah lingkungan, perubahan iklim, hingga bencana alam. Estetika lingkungan juga akan terpengaruh, bahkan asap hitam dari knalpot yang tidak jarang menempel pada pembatas jalan dapat mengurangi keindahan karena terlihat kumuh.
Upaya manusia untuk mengurangi dampak yang timbul dari berbagai pencemaran tersebut sangat perlu dilakukan. Salah satu usaha yang dapat ditempuh adalah penghijauan. Penghijauan merupakan penanggulangan polutan secara biologis untuk memperbaiki kualitas udara dan ini perlu dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan agar berhasil dengan baik. Agen tanaman untuk upaya penghijauan yang dapat digunakan adalah tanaman hias yang memiliki kemampuan untuk mendegradasi polutan tersebut. Beberapa di antara tanaman tersebut adalah sansiviera, puring (Codiaeum variegiatum), nusa indah (Mussaenda sp), bunga soka (Ixora sp), dan kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis).
Permasalahan yang dihadapi dalam usaha penghijauan yang sedang digerakkan di kota Semarang saat ini dalam rangka penataan lingkungan yang bersih dan indah terkait dengan program Kakikol (Kanan Kiri Jalan Protokol) adalah seberapa efektif pembuatan taman di sepanjang trotoar kanan kiri jalan protokol? Tulisan ini akan mencoba menjawab permasalahan tersebut.
B. PEMBAHASAN
Dalam rangka penataan lingkungan yang bersih dan indah, upaya penghijauan sangat diperlukan. Upaya ini dapat dimulai dari penataan trotoar yang bebas dari pedagang kaki lima (PKL) untuk memberi ruang bagi para pejalan kaki. Selanjutnya, agar terlihat lebih indah dan hijau, dapat dibuat taman-taman kecil di sepanjang trotoar tersebut, tanpa menghalangi fungsinya sebagai area pedestrian. Mengingat semakin meningkatnya polusi udara di sepanjang jalan protokol, maka diharapkan taman-taman kecil tersebut juga dapat berfungsi sebagai media penghijauan untuk mengurangi polusi yang ada.
Fungsi penghijauan di sepanjang kanan kiri jalan protokol ditekankan sebagai penyerap CO2, penghasil oksigen, penyerap polutan (logam berat, debu, belerang), peredam kebisingan, penahan angin, dan peningkatan keindahan (PP RI no. 63/2002). Karakteristik pohon yang biasa digunakan untuk penghijauan adalah pohon dengan perakaran kuat, ranting tidak mudah patah, daun tidak mudah gugur, serta penghasil bunga/buah/biji yang bernilai ekonomis. Adapun faktor yang berpengaruh terhadap potensi reduksi zat pencemar dan umur tanaman adalah jenis tanaman, kerimbunan dan ketinggian tanaman, jumlah emisi karbon, suhu, kecepatan angin, serta kepadatan dan ketinggian bangunan (Kaule, 2000). Menurut Robinette (1983), jumlah pantulan radiasi surya suatu hutan sangat dipengaruhi oleh panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi jatuhnya sinar surya, keadaan cuaca, dan posisi lintang. Tanaman berdaun banyak akan lebih efektif menyerap polutan di udara dibandingkan tumbuhan berdaun jarang. Sedangkan daun tanpa lapisan lilin, berbulu, atau berduri juga akan lebih mudah menyerap gas di udara.
Sebagaimana tersebut di atas, tanaman yang digunakan untuk pengisi taman di sepanjang trotoar tersebut adalah sansiviera, puring, nusa indah, bunga soka, dan kembang sepatu. Sansiviera yang di Indonesia dikenal dengan nama lidah mertua ini memiliki pesona tinggi. Selain itu, tanaman berdaun meruncing ini memiliki kemampuan menyerap polusi. Selain sebagai tanaman hias, sansiviera sering ditaruh di sudut dapur atau kamar mandi untuk mengurangi bau. Sansiviera juga memiliki keunggulan lain, yaitu tidak memerlukan perawatan yang rumit dan cukup tahan banting, karena tanpa disiram selama beberapa hari pun akan tetap bertahan hidup. Ini menjadikan sansiviera cocok ditanam di wilayah kota Semarang mengingat kondisinya yang panas.
Puring merupakan tanaman yang memiliki daun paling baik dalam menyerap unsur plumbum (Pb/timah hitam/timbal) yang bertebaran di udara terbuka (2,05 mgr/liter). Penyerap terbaik kedua adalah daun pohon beringin (1,025 mgr/liter). Oleh karena itu, dalam rangka mengurangi kadar logam berat di udara, misalnya yang berasal dari pembuangan kendaraan bermotor, pemerintah dan masyarakat disarankan untuk memperbanyak penanaman kedua jenis pohon tersebut. Ini karena berdasar penelitian dosen kimia UII, Ir. Feris, pembangunan pesat perkotaan dan pedesaan serta peningkatan jumlah kendaraan bermotor mengakibatkan kandungan logam berat di udara semakin banyak. Akhirnya, muncul berbagai gangguan kesehatan. Timah hitam merupakan unsur polutan berbahaya yang bisa terhisap oleh tubuh melalui pernapasan. Dampaknya akan semakin buruk jika yang terkena adalah anak-anak. Logam ini bisa merusak sistem saraf dan pencernaan. Sebagai tambahan, mengutip hasil penelitian PBB, timah hitam bisa mengakibatkan anak-anak kehilangan rata-rata empat poin IQ dalam usia tujuh tahun.
Nusa indah, soka, dan kembang sepatu merupakan tanaman berbunga yang biasa ditanam di banyak tempat. Tanaman tersebut merupakan penambah nilai estetika. Selain fungsi ekologis untuk mengurangi polutan yang berdampak pada pemanasan global, tingginya polutan yang menyebabkan gangguan kesehatan, aspek estetika juga perlu dipertimbangkan untuk menambah keasrian, keindahan, dan kenyamanan. Dengan demikian, trotoar kembali pada fungsinya semula sebagai area pedestrian yang aman dan nyaman. Apalagi menyikapi rencana pemerintah untuk mengembangkan city walk, keindahan trotoar juga menjadi salah satu faktor pendukung.
Pembuatan taman di trotoar, pemisah jalan, maupun di tepi jalan dilakukan untuk memperindah kota. Pengaturan tata letak tanaman tersebut dilakukan sedemikian rupa sehingga tercipta keindahan di sepanjang jalan tersebut. Taman-taman tersebut diharapkan berguna dari segi ekologis untuk mengurangi polusi, sedangkan dari segi estetika dapat menambah keasrian, kebersihan, dan kenyamanan di sepanjang jalan raya.
C. PENUTUP
Berkurangnya ruang terbuka hijau di kota Semarang serta polusi udara yang semakin meningkat memicu buruknya kualitas udara. Selain itu, ruang untuk para pejalan kaki pun menjadi berkurang sehingga membahayakan dan mengurangi keindahan. Penghijauan menjadi salah satu cara menanggulangi polutan untuk memperbaiki kualitas udara. Pemanfaatan berbagai jenis tanaman melalui pembuatan taman di sepanjang trotoar diharapkan dapat mengurangi dampak polusi lingkungan. Selain itu, jika ditinjau dari fungsi ekologis pembuatan taman mampu mengurangi polutan yang berdampak pada pemanasan global. Dari fungsi estetika, adanya taman dapat menambah keasrian, keindahan, dan kenyamanan. Langkah ini perlu dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan agar berhasil dengan baik. Dengan upaya kecil ini setidaknya kita telah membantu mengurangi polutan di udara dan menyuplai oksigen bagi kehidupan kita semua.
Labels: Rambling
Ini adalah beberapa bentuk bahasa Indonesia nonstandar yang sering saya temui:
- 'terdiri dari', seharusnya 'terdiri atas'
- 'subyek', 'obyek', seharusnya 'subjek', 'objek'
- 'terus menerus', seharusnya 'terus-menerus'
- 'merubah', 'dirubah', seharusnya 'mengubah', 'diubah'
- 'dan lain sebagainya', seharusnya 'dan sebagainya'
- 'mempengaruhi', seharusnya 'memengaruhi'
- 'memperhatikan', seharusnya 'memerhatikan'
Labels: Rambling
A. Pendahuluan
Adanya pengetahuan dan ilmu pengetahuan tidak terlepas dari manusia. Manusia adalah yang memiliki pengetahuan dan berilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaannya dan lingkungannya, serta menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, atau menyesuaikan lingkungan dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. Ilmu itu diolah ke dalam atau mejadi teknologi untuk diterapkan. Dengan demikian, tujuan teknologi menjadi jelas dan pengembangannya terarah dan bersasaran, yaitu untuk kesejahteraan, kemudahan, dan keuntungan bagi manusia (Jacob, 19998:1). Di masa prailmiah, pengetahuan diperoleh secara empiris turun-temurun, kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika. Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah maju dengan sangat pesat. Teknologi modern dalam era globalisasi ini telah mencapai kemajuan yang luar biasa. Tetapi, mustahil akan ada titik terakhir, karena ilmu-ilmu baru dan berbagai konsekuensinya akan terus bermunculan.
Ilmu sendiri memiliki segi positif dan negatif. Segi positifnya, ilmu pengetahuan dapat meringankan kehidupan manusia. Tenaga alam membebaskan manusia dari perbudakan, mesin membebaskan manusia dari pekerjaan yang monoton, mesin cerdas membebaskan manusia dari berpikir, dan pengobatan membebaskan manusia dari rasa sakit. Sedangkan sisi negatifnya, ilmu pengetahuan dapat menghasilkan alat perang, apalagi jika disalahgunakan seperti ketika bom atom diledakkan. Untuk itulah seorang ilmuwan harus harus bermoral, bertanggung jawab, dan diikat oleh kode etik.
B. Landasan Epistemologis
Epistemologi merupakan cabang ilmu filsafat yang menggeluti masalah-masalah yang bersifat menyeluruh dan mendasar mengenai pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Jadi objek material filsafat ilmu adalah pengetahuan dan objek formal atau segi tinjauannya adalah menangkap, menemukan ciri-ciri umum pengetahuan, dan bagaimana proses manusia dapat memperoleh pengetahuan dan bagaimana kebenaran pengetahuan manusia dapat diuji dan dipertanggungjawabkan (Jacob, 2005:6).
Terdapat teori mengenai kebenaran, antara lain (disarikan dari http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-35.html):
- The correspondence theory of truth. Menurut teori ini, kebenaran atau itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh merupakan faktanya.
- The consistence theory of truth. Menurut teori ini, kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Dengan kata lain bahwa kebenaran ditegaskan atas hubungan antara yang baru itu dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan kita akui benarnya terlebih dahulu.
- The pragmatic theory of truth. Benar tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata bergantung kepada berfaedah tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya.
Dari tiga teori tersebut dapat disimpulkan bahwa kebenaran adalah kesesuaian arti dengan fakta yang ada dengan putusan-putusan lain yang telah kita akui kebenarannya dan tergantung kepada kemanfaatan teori tersebut bagi kehidupan manusia. Dalam tulisan ini akan dikaji masalah ilmu pengetahuan dan kekuasaan dari sudut pandang epistemologis, dan bagaimana pemanfaatan ilmu tersebut dalam kaitannya dengan kekuasaan.
C. Ilmu Pengetahuan dan Kekuasaan
Hubungan antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan itu sendiri telah lama ada. Di zaman prailmiah, kekuasaan adalah milik Tuhan. Tidak banyak yang dapat dilakukan manusia dalam kondisi yang paling baik sekalipun dan keadaan itu akan memburuk sama sekali jika manusia terkena kemarahan Tuhan. Sebaliknya, dalam dunia ilmu pengetahuan, semuanya berbeda. Segala sesuatu berjalan sesuai yang kita kehendaki dengan pengetahuan tentang hukum alam (Bertrand Russell, 1991:14-15).
Pada abad pertengahan di Eropa, gereja yang merupakan pusat keagamaan dan ilmu pengetahuan sekaligus juga berfungsi sebagai pusat politik dan kekuasaan. Organisasi agama ini mengembangkan tradisi sendiri. Sekolah-sekolah biara (skolastik) didirikan di sejumlah tempat. Dapat dikatakan bahwa kekuasaan politik gereja sangat efektif, sehingga akhirnya berhasil memaksakan penguasa Romawi menerima Kristen sebagai agama resmi di seluruh imperium Romawi yang hancur karena berbagai pemberontakan. Kekuasaan gereja ini akhirnya berhasil mendominasi perjalanan filsafat dan berbagai ilmu. Pada masa ini berbagai universitas berdiri di berbagai kota besar di Eropa. Kurikulumnya pun harus direstui gereja terlebih dahulu.
Ketika unsur kekuasaan menjadi begitu mengakar pada ilmu pengetahuan, pengetahuan dan ilmuwannya menjadi semacam rezim (http://jurnalyics.tripod.com/EDITORIAL1.htm). Segala sesuatu harus tunduk pada peraturan penguasa. Rezim yang terbentuk sering kali sulit menghindari ungkapan klasik dari Lord Acton, ”power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely” (kekuasaan cenderung merusak dan kekuasaan yang mutlak benar-benar merusak).
Hasil pengetahuan dalam bidang komunikasi dan informasi telah digunakan untuk membelokkan informasi sesuai kepentingan politik dan kekuasaan, siapa yang menguasai informasi dialah yang dapat menguasai dunia. Misalnya, informasi dari Barat yang menyatakan Islam identik dengan terorisme, sedangkan Amerika dan Israel yang menyerang Irak dan Palestina justru dibela terutama oleh sekutunya dan mendapat bantuan dana untuk melaksanakan serangan tersebut.
Dalam hal ekonomi, era pasar bebas akan menguntungkan negara maju yang otomatis memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju juga sehingga semakin membuat negara miskin semakin miskin (lingkaran setan kemiskinan). Membanjirnya produk ilmu pengetahuan dan teknologi memunculkan konsumerisme, sehingga terjadi homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya). Mereka yang berilmu tinggi akan dapat menipu yang berilmu rendah, sebagaimana ungkapan Francis Bacon bahwa ”ilmu adalah kekuasaan” (knowledge is power). Jika ilmu adalah kekuasaan maka teknologi merupakan alat kekuasaan.
Di bidang kedokteran, kloning masih menjadi pro dan kontra. Kloning merupakan teknik penggandaan gen yang menghasilkan turunan yang sama sifat baik dari segi hereditas maupun penampakannya (http://id.wikipedia.org/wiki/-Kloning). Jadi dengan kata lain kloning merupakan merupakan cara perkembangbiakan makhluk hidup untuk mendapatkan individu atau anakan yang sama persis dengan induknya tanpa melalui proses pembuahan. Kloning ditentang oleh banyak tokoh agama dan moral karena dianggap melawan takdir.
Jika kloning diterapkan pada manusia, hal ini akan mengacaukan tatanan agama yaitu perlunya keluarga dan perkawinan. Dalam artikel di situs Web http://www.voanews.com/ indonesian/archive/2003-01/a-2003-01-22-13-1.cfm, disebutkan bahwa ”Kloning adalah jalan menuju keabadian. Itulah kalimat yang dilontarkan ketua sekte agama Raelian, Claude Vorilhon. Dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi C-B-S, ia mengatakan, perusahaan yang didirikannya, Clonaid, telah menjadi perusahaan pertama di dunia yang menciptakan manusia lewat metode kloning.” Meskipun masih menjadi perdebatan, jika memang benar terjadi, dapat dibayangkan jika kloning diselewengkan penggunaannya untuk melahirkan dominasi ras manusia yang berkarakter tertentu yang selanjutnya dapat mengancam tatanan sosial seperti kecemburuan, penjajahan, tindakan semena-mena, dan sebagainya.
Hal yang sulit dihindari tentang ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kekuasaan. Saat seseorang berkuasa, ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan memengaruhi segala kebijakannya. Michel Foucault mengungkapkan bahwa pertautan kekuasaan dan ilmu pengetahuan selalu membangun hubungan menguatkan. Kekuasaan sebagai kompleks strategi dinamis bisa diperankan individu atau institusi, dan kekuasaan bekerja berdasarkan mekanisme kerja ilmu pengetahuan yang dimiliki (http://www.ham.go.id/index_HAM.asp?menu= artikel&id=1024). Dalam hal teknologi kloning, bisa saja hasil kloning yang digunakan untuk tumbuhan dan hewan disalahgunakan penguasa untuk membuat manusia kloning, dengan membuat tentara pilihan yang digunakan untuk menghabisi musuh. Hal ini bisa saja terjadi mengingat adanya penggunaan bom atom oleh pasukan sekutu untuk menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki semasa Perang Dunia.
”Modus operandi” pengaruh penguasa terhadap ilmu pengetahuan dapat dikategorikan ke dalam dua cara. Pertama secara melembaga, yaitu tidak adanya kebebasan pendidikan tinggi untuk tanpa dicampuri oleh kekuasaan luar; kedua secara perseorangan, yakni menyangkut kebebasan seseorang untuk belajar, mengajar, dan melaksanakan penelitian serta mengemukakan pendapatnya sehubungan dengan kegiatan tersebut tanpa ada pembatasan kecuali dari dirinya sendiri (Achmad Icksan dalam Mahfud dalam http://www.mail-archive.com/gorontalomaju2020@yahoogroups.com/msg00080.html). Namun peran ilmuwan dan kaum intelektual sebagai pengendali dan agen perubahan ternyata juga dikuasai kepentingan kekuasaan. Mereka yang awalnya melontarkan berbagai gagasan kritis akhirnya juga ikut larut menikmati kekuasaan dan mengingkari idealismenya sendiri. Mereka menampilkan kesan sebagai pemecah masalah, namun dalam banyak hal lebih terlihat sebagai pembuat masalah. Hal ini menunjukkan bahwa posisi kaum ilmuwan dan intelektual rentan dipengaruhi kepentingan penguasa, baik penguasa negara maupun penguasa modal (uang).
Tanggung jawab merupakan kewajiban menanggung, menjamin bahwa perbuatan yang dilakukan itu sesuai kodrat (Setiardja, 2005:54). Jadi, seorang ilmuwan yang mengadakan penelitian harus sanggup menggunakan kebebasannya hanya untuk melakukan kebaikan, akan berusaha untuk mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kebahagiaan umat manusia, dan memperbaiki taraf hidup manusia. Demikian halnya para penguasa dengan wewenangnya untuk mengambil kebijakan juga harus bertanggung jawab atas pemanfaatan hasil ilmu pengetahuan tersebut sehingga tidak terjadi penyalahgunaan yang pada akhirnya malah akan merugikan manusia sendiri.
D. Penutup
Di atas telah disinggung bahwa kehadiran berbagai produk ilmu pengetahuan teknologi itu tidak lepas dari pengaruh kekuasaan. Pengaruh kekuasaan itu ada yang dijadikan pembenaran untuk menyalahgunakan ilmu pengetahuan. Untuk itu, kita perlu merenungkan kembali secara mendasar mengenai hakikat ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang baik bertanggung jawab atas perubahan zaman dan bermanfaat bagi semua orang, bukan segelintir orang atau kelompok tertentu saja. Ilmu pengetahuan adalah untuk kemanusiaan dan bukan untuk kekuasaan. Kebenaran ilmiah itu sendiri tidaklah bersifat mutlak, tetapi relatif. Benar pada saat ini belum tentu benar di masa depan. Agama juga diperlukan agar pemanfaatan ilmu pengetahuan itu tidak disalahgunakan oleh kekuasaan.
Labels: Rambling
I studied French when I was in high school and college and I kindof forget most of it, so I thought I should practice it. It was pretty hard writing this but my friend helped me proofread it so here it goes :D.
Quelques Coins de Semarang
Semarang est une des grandes villes en Indonésie. Elle se trouve dans le centre du Java. Dans le collonialism d'Hollandaise, on l'appellait "Het Venetie van Java," ou le Venise du Java, parce qu’elle a eu beaucoup des canals comme Venise en Italie.
Si vous allez à
Comme Paris a le quartier Latin,
L’autre endroit que vous devez voir c’est le Petit Holland dans le quartier Vieille Ville. Il y a beaucoup de vieux bâtiments. Le plus célèbre c’est l’église Blenduk qui a été construit en 1753.
Ces sont les images des endroits dans Semarang.
Le monument de la jeunesse, devant le Lawang Sewu
Le Sam Poo Kong, le plus grande temple en Semarang
L’église Blenduk
Le Lawang Sewu, vieux et effrayant
Saya tidak tahu apa nama bunga ini, tapi ibu dan budhe saya menyebutnya "kembang biting" dalam bahasa Jawa (artinya bunga lidi, karena mungkin daunnya mirip lidi yang biasa disematkan di bungkus lontong). Ibu saya menanam dua jenis bunga ini, putih-pink dan pink. Keduanya ditanam di satu tempat, dan ternyata tumbuh bunga yang warnanya gabungan seperti ini. Ini asli, bukan rekayasa genetika. Bunga ini dibiarkan tumbuh begitu saja dan tidak diotak-atik. Apalagi di rumah tidak ada ahli biologi atau botani, haha. Dan ini juga bukan hasil pengolahan gambar dengan Photoshop atau semacamnya. Kalau tidak percaya coba ditanyakan ke Roy Suryo, haha. Tapi mungkin beliau tidak mau, karena ini bukan foto artis, hahaha. Oh ya, tanaman ini mudah tumbuh, tinggal dipotong (atau dipetik) lalu ditanam begitu saja (setidaknya itu yang dilakukan ibu saya). Mungkin kalau ada yang warna kuning atau warna lainnya bisa jadi satu bunga banyak warna. Hmm...Labels: Rambling
quh kuL nda [sensor] iank dL na Loenpia pernah ksana.
hohohohohoho..ternatha d kmpuz mb juga gituh iah?
xiixixixixixi,mb’ [sensor] kuL na dmn c?
Tapi memang SMS mempunyai pengaruh yang begitu kuat (sampai dibuat lagu, sampai bisa untuk menceraikan istri, sah tidaknya saya kurang paham-nin). Saya tidak menentang penggunaan bahasa semacam itu. Anggap saja orang Indonesia itu kreatif, dan gaya bahasa semacam itu memperkaya bahasa kita. Asal pada tempatnya tentu saja.
(Maaf bagi yang komentarnya saya jadikan contoh kasus di sini. No disrespect intended.)
Labels: Rambling
Gandheng basa Jawi krama kula inggih boten sae (nyerat posting punika betah setunggal jam-an), kula kinten cekap semanten atur kawula punika. Ngaturaken Sugeng Mengeti Dinten Basa Ibu Internasional, mugi-mugi basa Jawi tetep lestantun, dipun uri-uri kaliyan tiyang Jawi piyambak lan sutresnanipun.
Jenang sela wader kalen sasondheran, apuranta menawi wonten kalepatan. Nuwun.
Labels: Rambling

