Siang tadi di kampung saya terjadi kehebohan. Usut punya usut, ada mobil yang memutar lagu dangdut Jablai dan SMS yang sedang ngetop (lagu yang aneh!), dan di atas mobil itu nangkring seekor nyamuk raksasa. Nyamuk itu tentu saja orang yang memakai kostum nyamuk. Ternyata itu mobil untuk promosi obat nyamuk Baygon. Ada sales yang cuap-cuap menginformasikan bahwa setiap pembelian tiga buah Baygon akan mendapatkan hadiah, seperti payung, toples, dan macam-macam lagi, yang jelas barang yangibu-ibu biasanya suka (ehm, selain barang bapak, tentunya :D).
Langsung saja orang-orang mengerubuti mobil tadi. Di sekitar mobil si nyamuk joget-joget, dikerubuti anak kecil sekampung, sementara para ibu berbondong-bondong membeli Baygon, entah mereka sebenarnya butuh atau tidak, yang penting dapat payung. Ibu-ibu itu mau saja berpanas-panas sambil joget (pake daster lagi!) demi mendapatkan hadiah. Mungkin para salesnya juga usil meminta ibu-ibu itu joget dengan iming-iming payung, haha.
Tampaknya upaya promosi penjualan yang dilakukan produsen Baygon sangat efektif. Dengan langsung terjun (terjun payung kali!) ke konsumen dan membagikan merchandise seperti payung, jam, toples, dan semacamnya, yang notabene disuka ibu-ibu (gratis lagi!), langsung dapat meningkatkan penjualan Baygon. Mungkin produsen lain perlu mencontoh metode ini. Promosi penjualan semacam ini tampaknya cukup murah daripada pasang iklan, karena biaya promosi periklanan itu sendiri sangat mahal, tetapi kurang langsung menyentuh target.
PS: Ibu saya tidak ikut-ikutan beli, sih. Apalagi jogetan, haha!
Labels: Rambling


Books I really want to have...Introduction to Language (Victoria Fromkin, Robert Rodman, Nina Hyams), and The Religion of Java (Clifford Geertz).. anybody wants to buy them for me??..haha...I would really really appreciate it!
PS: I copied the book images from Amazon.com :P
PS #2: Finally got the "An Introduction to Language". Copied my prof's. Still don't mind receiving the real one, though, hehe.
Labels: English Posts, Rambling
Jam pitu mlebu sekolah
kaya ngene, wajibe dadi murid
wira-wiri saben esuk
menyang ing pamulangan
durung uwis manawa ta durung lulus
lulus saka pandhadharan
amarga mandheg margi
That was a Javanese tembang (traditional song) taught by my teacher when I was in elementary school. It was pretty hard to translate it literally in English, so I guess I will try to interpret it. It is about a "struggle" of being a student. You go to school every morning and start studying at 7 am. You have to deal with some trials (exams) and if you fail you will struggle even harder. (This is a crappy interpretation, haha)
There are many kinds of Javanese tembang, such as Pangkur, Gambuh, Dhandhanggula, and many more. I think the tembang I cited above is called Pangkur, but I'm not sure. I don’t remember the rules like guru lagu, guru wilangan, etc. I remember another tembang, and this one is called Gambuh (I'm pretty sure with that):
Sekar gambuh ping catur
kang cinatur
polah kang kalantur
tanpa tutur
katula-tula katali
kadaluwarsa katutuh
kapatuh pan dadi awon
I like that tembang, but too bad I don't know what that means. It is such a shame that as a Javanese person I don’t know the meaning of that tembang. I believe it is philosophical. As far as I remember my teacher didn’t tell us the meaning, he just taught us how to sing it. At least, though, in my opinion, that is better than not knowing anything about my own culture. I'm glad I still know those tembangs, though very little.
I don’t know if teachers still teach how to sing Javanese tembang now. Schools (elementary to high schools) have Javanese language as a subject, but I doubt they teach tembang. It is elderly Javanese who are able to sing such tembangs. Younger generation seems to enjoy modern music. I myself like listening American/western music too, although some are degenerating, haha. What about you?
Labels: English Posts, Rambling
Hello...
Do you need any part-time worker (editor, copy-writer, tutor, English teacher)??...I am quite an experienced editor (also copy-editor)..have been working for a publisher company for more than two years...have proofread books varying from accounting, computer, and economics (that way i know some about those subjects, hehe)...I also have administration experience, but I don't enjoy this work (I'm not that good with numbers and calculations..haha)
If you are interested in hiring me you can ask for my CV and diplomas...just email me...thanks!
Labels: English Posts, Rambling
Do you have any idea of what to write for my thesis??...I think i want to write about genre analysis (it is a part of discourse analysis in linguistics)..but i still have no idea for the object and stuff :(
Or if you have experience or have ever written any paper about discourse analysis please let me know...i would really appreciate that..thanks!
Labels: English Posts, Rambling
Tulisan ini sudah pernah di-upload di situs web teman saya, tapi akan saya posting di blog ini juga. Siapa tahu bermanfaat :) untuk teman-teman penulis.
Ketika membuat suatu tulisan, karangan, ataupun membuat suatu bagian yang lebih sederhana dari karangan yaitu kalimat, kita sering menghadapi banyak persoalan. Salah satunya adalah apakah kalimat yang kita buat itu efektif atau tidak, sehingga pembaca bisa memahami apa yang ingin kita ungkapkan.
Sebelum dapat membuat atau bahkan membetulkan suatu kalimat menjadi efektif, kita perlu mengetahui apa yang dimaksud dengan kalimat efektif. Kalimat efektif adalah kalimat yang mampu dipakai untuk menyampaikan informasi dari pembicara atau penulis kepada lawan bicara atau pembaca secara tepat. Ketepatan dalam penyampaian informasi akan membuahkan hasil, yaitu adanya kepahaman lawan bicara atau pembaca terhadap isi kalimat atau tuturan yang disampaikan. Lawan bicara atau pembaca tidak akan bisa menjawab, melaksanakan, atau menghayati setiap kalimat atau tuturan itu sebelum mereka dapat memahami benar isi kalimat atau tuturan tersebut.
Berikut akan kita lihat kalimat-kalimat yang tidak efektif dan kita akan mencoba membetulkan kesalahan pada kalimat-kalimat itu. Beberapa jenis kesalahan dalam menyusun kalimat antara lain:
1. Pleonastis
Pleonastis atau pleonasme adalah pemakaian kata yang mubazir (berlebihan), yang sebenarnya tidak perlu. Contoh-contoh kalimat yang mengandung kesalahan pleonastis antara lain:
· Banyak tombol-tombol yang dapat Anda gunakan.
Kalimat ini seharusnya: Banyak tombol yang dapat Anda gunakan.
· Kita harus saling tolong-menolong.
Kalimat ini seharusnya: Kita harus saling menolong, atau Kita seharusnya tolong-menolong.
2. Kontaminasi
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan kontaminasi dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Fitur terbarunya Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.
Kalimat tersebut akan menjadi lebih efektif apabila akhiran –nya dihilangkan.
Fitur terbaru Adobe Photoshop ini lebih menarik dan bervariasi.
3. Salah pemilihan kata
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan pemilihan kata dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Saya mengetahui kalau ia kecewa.
Seharusnya: Saya mengetahui bahwa ia kecewa.
4. Salah nalar
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan nalar dapat kita lihat pada kalimat berikut ini:
Bola gagal masuk gawang.
Seharusnya: Bola tidak masuk gawang.
5. Pengaruh bahasa asing atau daerah (interferensi)
· Bahasa asing
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa asing terlihat pada kalimat berikut:
Saya tinggal di
Kalimat ini bisa jadi mendapatkan pengaruh bahasa Inggris, lihat terjemahan kalimat berikut:
I live in
Dalam bahasa Indonesia sebaiknya kalimat tersebut menjadi:
Saya tinggal di
· Bahasa daerah
Contoh kalimat yang mengandung kesalahan karena terpengaruh bahasa daerah dapat kita lihat pada kalimat berikut:
Anak-anak sudah pada datang.
Dalam bahasa
Anak-anak sudah datang.
Contoh lain pengaruh bahasa daerah, khususnya bahasa Jawa, juga dapat kita lihat pada kalimat berikut. Penulis menemukan contoh ini dari sebuah rubrik di tabloid anak-anak Yunior.
Masuknya keluar mana? (Jawa: Mlebune metu endi?)
Kita sebaiknya mengganti kalimat tersebut dengan: Masuknya lewat mana?
6. Kata depan yang tidak perlu
Sering kali kita membuat kalimat yang mengandung kata depan yang tidak perlu seperti pada kalimat berikut:
Di program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.
Agar menjadi efektif, sebaiknya kita menghilangkan kata depan di, sehingga kalimatnya menjadi:
Program ini menyediakan berbagai fitur terbaru.
1. Kurang padunya kesatuan gagasan.
Setiap tuturan terdiri atas beberapa satuan gramatikal. Agar tuturan itu memiliki kesatuan gagasan, satuan-satuan gramatikalnya harus lengkap dan mendukung satu ide pokoknya. Kita bisa melihat pada contoh berikut:
Program aplikasi MS Word dapat Anda gunakan sebagai pengolah kata. Dengan program ini Anda dapat melakukan berbagai aktivitas perkantoran seperti mengetik surat atau dokumen. MS Word adalah produk peranti lunak keluaran Microsoft.
Kalimat-kalimat pada contoh tersebut tidak mempunyai kesatuan gagasan. Seharusnya setelah diungkapkan gagasan tentang “fungsi MS Word” pada kalimat pertama, diungkapkan gagasan lain yang saling bertautan.
2. Kurang ekonomis pemakaian kata.
Ekonomis dalam berbahasa berarti penghematan pemakaian kata dalam tuturan. Sebaiknya kita menghindari kata yang tidak diperlukan benar dari sudut maknanya, misalnya:
· membicarakan tentang transmigrasi
Seharusnya: membicarakan transmigrasi
· sudah pada tempatnya apabila
Seharusnya: sudah selayaknya apabila
· Depresi ekonomi bukan hanya dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah, tetapi juga dirasakan oleh kelompok elite pribumi.
Seharusnya: Depresi ekonomi dirasakan oleh kaum pribumi lapisan bawah dan kelompok elite.
Atau: Depresi ekonomi dirasakan kaum pribumi di semua lapisan.
3. Kurang logis susunan gagasannya.
Tulisan dengan susunan gagasan yang kurang logis dapat kita lihat pada contoh berikut:
Karena zat putih telurnya itulah maka telur dan dagingnya ayam itu sangat bermanfaat untuk tubuh kita. Semua makhluk dalam hidupnya memerlukan zat putih telur, manusia untuk melanjutkan hidupnya perlu akan zat putih telur.
Kita dapat membuat tulisan itu menjadi efektif seperti berikut:
Semua makhluk hidup memerlukan zat putih telur yang berasal dari telur dan daging ayam. Manusia adalah makhluk hidup. Jadi, manusia memerlukan zat putih telur yang berasal dari telur dan daging ayam untuk melanjutkan hidupnya. Dapat dikatakan bahwa telur dan daging ayam sangat bermanfaat bagi tubuh.
4. Pemakaian kata-kata yang kurang sesuai ragam bahasanya.
Pemakaian bahasa tidak
· Penulis menghaturkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Gatot A.S atas bimbingannya dalam menyelesaikan buku ini.
· Sehubungan dengan hal itu Takdir Alisyahbana bilang bahwa hal bahasa Indonesia dapat menjadi bahasa internasional.
Pemakaian kata menghaturkan dan bilang tidak tepat untuk ragam bahsa keilmuan, sehingga kata-kata tersebut sebaiknya diganti dengan mengucapkan dan mengatakan.
5. Konstruksi yang bermakna ganda.
Suatu kalimat dipandang dari sudut tata bahasanya mungkin tidak salah, namun kadang-kadang mengandung tafsiran ganda (ambigu) sehingga tergolong kalimat yang kurang efektif. Kalimat yang memiliki makna ganda dapat kita lihat pada kalimat-kalimat:
· Istri kopral yang nakal itu membeli sepatu.
Unsur yang nakal itu menerangkan istri atau kopral ? Jika yang dimaksud nakal adalah istri, maka kalimat itu seharusnya menjadi:
Istri yang nakal kopral itu membeli sepatu.
· Penyuluh menerangkan cara beternak ayam baru kepada para petani.
Kata baru pada kalimat itu menerangkan kata ayam atau cara beternak? Jika kata baru menerangkan cara beternak, kalimat itu menjadi lebih baik seperti kalimat berikut:
Penyuluh menerangkan cara baru beternak ayam kepada para petani.
6. Penyusunan kalimat yang kurang cermat.
Penyusunan yang kurang cermat dapat mengakibatkan nalar yang terkandung di dalam kalimat tidak runtut sehingga kalimat menjadi kurang efektif.
Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah untuk mengelola sejumlah manusia memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh.
Kalimat tersebut dapat diperbaiki seperti berikut:
· Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan, yakni pengelolaan sejumlah manusia, memerlukan keprihatinan serta dedikasi yang tangguh.
· Tugas kemanusiaan dalam suatu jabatan ialah pengelolaan sejumlah manusia. Hal ini memerlukan keprihatinan dan dedikasi yang tangguh.
7. Bentuk kata dalam perincian yang tidak sejajar.
Dalam kalimat yang berisi perincian, satuan-satuan dalam perincian itu akan lebih efektif jika diungkapkan dalam bentuk sejajar. Jika dalam suatu kalimat perincian satu diungkapkan dalam bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat, perincian lainnya juga diungkapkan dalam bentuk kerja, benda, frasa, maupun kalimat juga (sejajar). Contoh kalimat yang perinciannya tidak sejajar:
· Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan data, mengklasifikasikan data, dan menganalisis data.
Seharusnya:
Kegiatan penelitian meliputi pengumpulan data, pengklasifikasian data, dan penganalisisan data.
· Dengan penghayatan yang sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
Seharusnya:
Dengan menghayati secara sunguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
Atau:
Dengan penghayatan yang sungguh-sungguh terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dalam kehidupan sehari-hari, kita akan dapat hidup bermasyarakat dengan selaras, serasi, dan seimbang.
Labels: Linguistics
Hampir semua orang di Indonesia sekarang mempunyai barang yang namanya ponsel (telepon seluler), atau HP [ha pe] (hand phone...i don't think if westerners use this term, i think it is mobile phone or cell phone). Bahkan anak2 SD jaman sekarang juga sudah punya HP (jaman saya dulu telepon biasa aja belum punya, :P). Kapan pun, di mana pun, asal nggak lowbat (baterai habis) atau nggak punya pulsa kita bisa nelpon atau ditelpon, dan ber-sms ria...
Tapi ada juga hal lucu dari HP ini lho...kata teman saya teknologi itu (dalam hal ini HP lho ya) membuat jarak dekat menjadi jauh. Lho kok bisa??...bukannya kalau punya HP teman atau pacar atau keluarga kita nun jauh di sana jadi bisa komunikasi dengan kita??...kan malah serasa dekat ya...Tapi tunggu dulu, ternyata benar juga kata teman saya ini. Contoh kasus ya..saya punya beberapa...mungkin Anda juga mengalaminya...teman saya itu SMS saya padahal rumahnya mepet rumah saya...padahal kalau ke rumah saya saja jalan sebentar nggak sampai 5 menit lho...contoh lagi, teman saya di-SMS istrinya yang ada di kamar di lantai 2...padahal kalau turun juga nggak nyampai 5 menit...kan kesannya jadi jauh ya, pakai SMS segala??...menurut Anda?
Well, tapi yang jelas saya sangat berterima kasih dengan ditemukannya HP...memudahkan (walaupun kadang juga bisa menguras isi dompet, haha)...tapi dengan punya HP ibu saya selalu menelpon saya kalau lagi dolan terus pulang agak telat "Ayo ndang balik! Dolan kok ra eling jam!!!"..oalah to Buk..kaya nggak pernah muda aja...
Labels: Rambling
Sudah lama saya tidak menulis. Menulis di sini maksudnya menulis artikel atau komposisi, yang jelas tulisan yang lebih dari satu paragraf, hehe. Mungkin saya lebih banyak membaca (atau nonton TV) daripada menulis. Well, salah satunya karena tuntutan pekerjaan. Ada yang mengatakan kalau orang Indonesia itu paling susah kalau diminta menulis. Saya pernah membaca salah satu buku (judulnya lupa) bahwa kesulitan terbesar mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri adalah ketika mereka diminta menulis paper. Semoga sekarang sudah jauh lebih banyak orang Indonesia yang mau menulis.
Anyway, beberapa hari ini saya membaca blog teman-teman saya, dan tergerak hati saya untuk ikut menulis juga. Sebenarnya sudah lama saya ingin menulis, tapi tidak tahu apa mau yang saya tulis. Mungkin terlalu banyak hal di kepala saya sampai susah menuangkannya, haha (sok pemikir). Terkadang ingin juga saya menjadi penulis. Kalau melihat penulis yang dapat royalti apa lagi, duduk manis dapat duit, hahaha. Sekarang saya coba menulis, biasanya saya “mengobrak-abrik” tulisan orang lain. Tunggu dulu, saya tidak “mengobrak-abrik” dalam hal yang buruk, lho. Saya melakukan hal tersebut karena dengan demikian saya bisa dapat uang jajan, hahaha (i proofreaad books for a living :P). Coba sekarang saya menulis dan silakan Anda edit, supaya bisa merasakan bagaimana tulisan saya diedit orang lain, hahaha (eh, pernah ding, dulu waktu kuliah skripsi saya juga diobrak-abrik dosen).
Oke deh, mungkin ini cuma pengantar saja. Saya tidak tahu berapa banyak tulisan yang akan saya buat nantinya. Mungkin hari ini lagi ada mood, jadi tiba-tiba saja ingin sekali menulis sesuatu. Terkadang susah juga untuk mengalahkan rasa malas. Benar juga ya, perang paling berat itu perang melawan diri sendiri. Last but not least, seperti di acara Jepang Takeshi Castle (dubber Indonesia di acara Jepang memang lucu, membuat kadang saya ingin menjadi dubber saja), mohon bimbingannya ya. Doakan saya!
Labels: Rambling
The complex structure of Javanese language tends to be the cause of its decrease of speaker. Javanese language has two main different levels of speech, ngoko and krama. Even each level can be broken down into sublevels. The use of each level depends on who a person is talking to. The use of the Javanese language variation that is based on the social status of the speakers is called undak usuk (Chaer and Agustina, 1995:52). As an illustration, a person having lower social status will have to use the polite term or krama variety if he/she talks to a person with higher social status.
However, not all Javanese people are able to speak all levels of Javanese language appropriately. The groups of people who are considered to be able to speak all Javanese speech levels well are usually older people or those having close relation to the kings’ family in Surakarta or Yogyakarta. Young people at this time mostly can only speak ngoko Javanese. This is possible since nowadays, their parents do not really teach them to speak krama Javanese and tend to speak in Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia is considered more practical as it does not have speech level, it can be used to address anyone in any situation.
It is somewhat ironic that the Javanese language majors in universities in Indonesia have only a few students. Local culture may be considered an old fashioned kind of thing. Western culture seems to be more attractive to the young generation. What makes it more ironic is that many of the Javanese literatures are preserved in other countries, the Netherlands for example. It is such a shame that the native Javanese are reluctant or unwilling to learn their own culture and language whereas many foreigners are so much interested in learning those.
The globalization era makes people less interested in studying Javanese language. As it is said above, English is considered to be more important. The free trade market will require English speaking ability. As people will have to get involved in international affairs, foreign language competence will be highly required. Business is likely to be more interesting than culture in this era. Moreover, due to this era, the young generation will be forced to get out of their native community. As an illustration, they will find a job that requires them to live outside Java. This will make them have to use other language to communicate with other people who are, of course, not only Javanese but also Sumatran, Balinese, or even American or European for example. In the end, as they rarely use Javanese language, they will feel it hard to speak in Javanese especially the polite term (krama) if they are to speak to the older Javanese generation.
Another reason for Javanese not using Javanese language is that some people think it sounds hicky. Some people whose mother tongue is Javanese will have Javanese accent when they speak in Bahasa Indonesia, whether they realize it or not. It is different with people who are from Jakarta, for example. Their accent is considered to sound better. That is why young people now seem to like to use Bahasa Indonesia especially with Jakarta accent. Moreover, as it is often seen in the electronic cinemas (sinetron) or TV serials, the character of a servant or a person coming from village is usually described as or represented by a Javanese. This leads to a clearer perception that Javanese language is the language of a hick.
As one of Indonesian culture identities, Javanese language of course should be used and preserved. Other attempts to revive Javanese language have been made by people who have a big concern about it. Some of these efforts are by keeping using it in everyday interaction started from the family scope, holding Javanese language conferences, ketoprak (traditional drama) or wayang (shadow puppet) shows, and publishing several Javanese magazines regularly. Furthermore, the efforts of reviving Javanese language should be done not only by those concerned with Javanese language, but also Javanese people themselves, everywhere they are. Good news in http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0401/15/dar3.html reported that Javanese people in Suriname keeps preserving their native culture in the country by keeping using Javanese language in any occasion. In addition, they also make a student/teacher exchange program with some institutions in Indonesia. It is expected that these efforts can prevent Javanese from the chance of losing its native speaker.
Chaer, Abdul & Leonie Agustina. 1995. Sosiolinguistik Suatu Pengantar. Jakarta : Rineka Cipta.
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0207/24/DIKBUD/cend09.htm
http://www.suaramerdeka.com/cybernews/harian/0401/15/dar3.htm
http://www.suaramerdeka.com/harian/0109/17/bud2.htm
Labels: English Posts, Linguistics
YOU
I wish you could be my lover...
we could share love each other
we would always be together,
and live happily ever after
But it's kind of somber...
as i don't have your number
we dont even know each other,
though we were in the same class last semester
and you've been dating her for like a year...
You're right, i'm just a real dreamer,
who always see you in my slumber...
you maybe also right if you think i'm a loser,
who want to be with you like forever...
But never think you're that clever..
i'll try harder and harder
'cos this is an order...
if i want to dump her!
a little comment, ini tak tulis soalnya aku pingin nulis something rhyming dan ketemunya ini..haha...maksa nggak sih??
Labels: English Posts, Poetry
Grieve not, for it only gives you more sorrow...
Sorrow not, for it changes your sob into cry...
Cry not, for it changes nothing...
Let the rain wash away the pain,
Let the snow freeze the sorrow,
Let the sun light your heart,
Let the night make you sleep tight...
And there comes the season...
And let it change the feeling...
And there always be new happening...
And let all misery gone...
Feel...feel the breeze that blows,
and will always so...
Breathe...breathe the fresh air,
that will always be so...
Walk...walk the path paved for you,
that always guides your way...
Keep...keep going...
Keep going forever...
'till the sun stops shining...
'till the seasons stop changing...
'till the world stops spinning...
Labels: English Posts, Poetry
