I will present my thesis proposal this Saturday, July 5th. My thesis will be on Saminism in Blora. Kindof hard I think, but I still hope I can do it well.
So, goodluck Nina!
*Already did it. I did not do that well when defending my arguments...but the grade was satisfactory :D
Labels: English Posts, Rambling
Linguistik berarti ilmu bahasa. Ilmu bahasa adalah ilmu yang objeknya bahasa. Bahasa di sini maksudnya adalah bahasa yang digunakan sehari-hari (atau fenomena lingual). Karena bahasa dijadikan objek keilmuan maka ia mengalami pengkhususan, hanya yang dianggap relevan saja yang diperhatikan (diabstraksi). Jadi yang diteliti dalam linguistik atau ilmu bahasa adalah bahasa sehari-hari yang sudah diabstraksi, dengan demikian anggukan, dehem, dan semacamnya bukan termasuk objek yang diteliti dalam linguistik.
Linguistik modern berasal dari Ferdinand de Saussure, yang membedakan langue, langage, dan parole (Verhaar, 1999:3). Langue adalah salah satu bahasa sebagai suatu sistem, seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris. Langage berarti bahasa sebagai sifat khas manusia, sedangkan parole adalah bahasa sebagaimana dipakai secara konkret (dalam bahasa Indonesia ketiga istilah tadi disebut bahasa saja dan mengacu pada konsep yang sama). Sejalan dengan hal di atas, Robins (1992:55) mengatakan bahwa langue merupakan struktur leksikal, gramatikal, dan fonologis sebuah bahasa, dan struktur ini sudah tertanam dalam pikiran penutur asli pada masa kanak-kanak sebagai hasil kolektif masyarakat bahasa yang dibayangkan sebagai suatu kesatuan supraindividual. Dalam menggunakan bahasanya, penutur bisa berbicara di dalam lingkup langue ini; apa yang sebenarnya diucapkannya adalah parole, dan satu-satunya kendali yang dapat dia atur adalah kapan dia harus berbicara dan apa yang harus ia bicarakan. Kaidah leksikal, gramatikal, dan fonologis telah dikuasai dan dipakai, dan kaidah tersebut menentukan ruang lingkup pilihan yang dapat dibuat oleh penutur. Pembedaan ini seperti apa yang dibuat Chomsky, yaitu antara competence (apa yang secara intuisi diketahui penutur tentang bahasanya) dan performance (apa yang dilakukan penutur ketika dia menggunakan bahasanya).
Ilmu linguistik sendiri sering disebut linguistik umum, artinya ilmu linguistik tidak hanya menyelidiki salah satu bahasa saja tetapi juga menyangkut bahasa pada umumnya. Dengan memakai istilah de Saussure, dapat dirumuskan bahwa ilmu linguistik tidak hanya meneliti salah satu langue saja, tetapi juga langage, yaitu bahasa pada umumnya. Sedangkan linguistik teoretis memuat teori linguistik, yang mencakup sejumlah subbidang, seperti ilmu tentang struktur bahasa (grammar atau tata bahasa) dan makna (semantik). Ilmu tentang tata bahasa meliputi morfologi (pembentukan dan perubahan kata) dan sintaksis (aturan yang menentukan bagaimana kata-kata digabungkan ke dalam frasa atau kalimat). Selain itu dalam bagian ini juga ada fonologi atau ilmu tentang sistem bunyi dan satuan bunyi yang abstrak, dan fonetik, yang berhubungan dengan properti aktual seperti bunyi bahasa atau speech sound (phone) dan bunyi non-speech sound, dan bagaimana bunyi-bunyi tersebut dihasilkan dan didengar (http://en.wikipedia.org/wiki/Linguistics).
Menurut Verhaar (1999:9), setiap ilmu pengetahuan biasanya terbagi atas beberapa bidang bawahan, misalnya ada linguistik antropologis atau cara penyelidikan linguistik yang dimanfaatkan ahli antropologi budaya, ada sosiolinguistik untuk meneliti bagaimana dalam bahasa itu dicerminkan hal-hal sosial dalam golongan penutur tertentu. Tetapi bidang-bidang bawahan tersebut mengandaikan adanya pengetahuan linguistik yang mendasari. Bidang yang mendasari itu adalah bidang yang menyangkut struktur dasar tertentu, yaitu struktur bunyi bahasa yang bidangnya disebut fonetik dan fonologi; struktur kata atau morfologi; struktur antarkata dalam kalimat atau sintaksis; masalah arti atau makna yang bidangnya disebut semantik; hal-hal yang menyangkut siasat komunikasi antarorang dalam parole atau pemakaian bahasa, dan menyangkut juga hubungan tuturan bahasa dengan apa yang dibicarakan, atau disebut pragmatik.
Labels: Linguistics
Seorang penutur asli bahasa Inggris akan kesulitan untuk mengucapkan bunyi fonem /p/ pada kata "psychology". Bunyi [p] tersebut silent atau tidak diucapkan, sehingga akan terdengar seperti [saiˈkolədʒi]. Untuk mengucapkan bunyi [ph] ia akan menarik kedua bibirnya ke dalam sebelum melepaskannya. Ia akan mengalami kesulitan untuk mengucapkan bunyi [ph] sebelum bunyi [s] secara berurutan, sehingga bunyi [ph] menjadi tidak terdengar (seperti pada contoh kata "spot" di atas). Ini berbeda apabila seorang penutur asli bahasa Indonesia atau Jawa yang mengucapkan kata "psikologi". Biasanya bunyi fonem /p/ akan terdengar jelas. Ini karena kaidah fonetis bunyi fonem /p/ dalam bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris. Dalam kaidah fonetis bahasa Indonesia atau Jawa, bunyi [p] tidak beraspirasi di awal kata (dan tidak beraspirasi pula di posisi tengah maupun akhir kata). Jadi, para penutur bahasa Indonesia atau Jawa asli, karena tidak perlu melipat kedua bibirnya ke dalam ketika mengucapkan [p], akan cenderung mengucapkan [pesikologi] atau [sikologi].
*Referensi: Wacana Komunikasi (Herudjati Purwoko)
Labels: Linguistics
This book is very thick. Don Quixote by Miguel de Cervantes. I have this one, the complete and unabridged version. It was recommended to me, I thought it was good so I bought it anyways. I wanted to buy Anna Karenina by Leo Tolstoy (the Indonesian version), but I eventually bought this one. I got it like two years ago, and I have never finished it since then. I probably have read one-third of the book. It is a classic novel, and I have to think twice (or maybe more) when reading it because of the language. Reading English books should be fine with me, but for classic novels, sometimes I have to read the sentences more than once or skip some words because I am lazy to look them up in dictionary, heheh. As long as I get the point, that is. Then I can enjoy it.Been two years and I don't know when I will continue it. Laziness is the thing. I have some books I haven't finished reading, among others are Lord Jim by Joseph Conrad (one of the reasons I bought it was because it tells about Semarang, my city, hahah) and Kebangkitan by Leo Tolstoy (the translated version of Resurrection). Both are pretty boring I guess. But I surely want to finish reading them. I just don't know when. Oh well...
Labels: English Posts, Rambling
For the silence,
For all questions left unanswered,
For all problems left unsolved,
For all words left misunderstood,
For all of our empty chatters,
For the boredom of listening...
Sir,
we don't really get what you say in class....
(is it that you are too smart or we, your students, are the stupid ones?)
*dedicated to our syntax prof
Labels: English Posts, Poetry, Rambling
TAMAN KECIL SEBAGAI MEDIA PENGHIJAUAN
DI SEPANJANG KANAN KIRI JALAN PROTOKOL
A. PENDAHULUAN
Luas ruang terbuka hijau di kota Semarang setiap tahun semakin berkurang. Hal tersebut disebabkan terjadinya perubahan fungsi yang semula berupa lahan terbuka menjadi terbangun untuk berbagai keperluan seperti jalan protokol, perumahan, industri, pertokoan, kantor, pedagang kaki lima, dan sebagainya. Semakin sempitnya ruang tersebut, khususnya taman dan area pedestrian, dapat menimbulkan kerawanan dan penyakit sosial, misalnya sifat individualistik dan ketidakpedulian terhadap lingkungan. Hal ini sering ditemukan di masyarakat perkotaan. Selain itu, semakin terbatasnya ruang terbuka juga berpengaruh terhadap peningkatan iklim mikro, pencemaran udara, banjir, dan berbagai dampak negatif lingkungan lainnya.
Kondisi jalan protokol juga semakin padat karena terjadi peningkatan jumlah kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Tingkat penggunaan kendaraan di jalan tersebut sejalan dengan aktivitas manusia yang dituntut bergerak dinamis di era sekarang. Hal ini berdampak pada tingkat polusi di udara. Asap yang keluar dari knalpot kendaraan, debu, asap pabrik, merupakan pemandangan yang sering kita lihat. Polutan tersebut dapat mengakibatkan banyak permasalahan, mulai dari kesehatan, kebersihan, hingga estetika lingkungan.
Masalah kesehatan akan muncul karena kandungan polutan di udara semakin meningkat. Debu, gas karbon monoksida (CO), timbal (Pb), dan logam berat lainnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Radikal bebas inilah yang dapat menyebabkan kanker. CO2 merupakan gas utama penyebab pemanasan global (83%), yang akan berakibat pada perubahan iklim, menyebabkan banjir, kekeringan, perubahan ekosistem, dan kesehatan manusia (http://sim.nilim.go.jp/ GE/SEMI7/5%20PENGHIJAUAN.ppt). Meningkatnya gas CO2 di udara juga memacu meningkatnya suhu atmosfer bumi, atau biasa dikenal sebagai efek rumah kaca. Sumber emisi CO2 di jalan raya antara lain berasal dari transportasi, sampah, dan industri. Muncul banyak masalah jika terjadi pemanasan global seperti sekarang ini, mulai dari masalah lingkungan, perubahan iklim, hingga bencana alam. Estetika lingkungan juga akan terpengaruh, bahkan asap hitam dari knalpot yang tidak jarang menempel pada pembatas jalan dapat mengurangi keindahan karena terlihat kumuh.
Upaya manusia untuk mengurangi dampak yang timbul dari berbagai pencemaran tersebut sangat perlu dilakukan. Salah satu usaha yang dapat ditempuh adalah penghijauan. Penghijauan merupakan penanggulangan polutan secara biologis untuk memperbaiki kualitas udara dan ini perlu dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan agar berhasil dengan baik. Agen tanaman untuk upaya penghijauan yang dapat digunakan adalah tanaman hias yang memiliki kemampuan untuk mendegradasi polutan tersebut. Beberapa di antara tanaman tersebut adalah sansiviera, puring (Codiaeum variegiatum), nusa indah (Mussaenda sp), bunga soka (Ixora sp), dan kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis).
Permasalahan yang dihadapi dalam usaha penghijauan yang sedang digerakkan di kota Semarang saat ini dalam rangka penataan lingkungan yang bersih dan indah terkait dengan program Kakikol (Kanan Kiri Jalan Protokol) adalah seberapa efektif pembuatan taman di sepanjang trotoar kanan kiri jalan protokol? Tulisan ini akan mencoba menjawab permasalahan tersebut.
B. PEMBAHASAN
Dalam rangka penataan lingkungan yang bersih dan indah, upaya penghijauan sangat diperlukan. Upaya ini dapat dimulai dari penataan trotoar yang bebas dari pedagang kaki lima (PKL) untuk memberi ruang bagi para pejalan kaki. Selanjutnya, agar terlihat lebih indah dan hijau, dapat dibuat taman-taman kecil di sepanjang trotoar tersebut, tanpa menghalangi fungsinya sebagai area pedestrian. Mengingat semakin meningkatnya polusi udara di sepanjang jalan protokol, maka diharapkan taman-taman kecil tersebut juga dapat berfungsi sebagai media penghijauan untuk mengurangi polusi yang ada.
Fungsi penghijauan di sepanjang kanan kiri jalan protokol ditekankan sebagai penyerap CO2, penghasil oksigen, penyerap polutan (logam berat, debu, belerang), peredam kebisingan, penahan angin, dan peningkatan keindahan (PP RI no. 63/2002). Karakteristik pohon yang biasa digunakan untuk penghijauan adalah pohon dengan perakaran kuat, ranting tidak mudah patah, daun tidak mudah gugur, serta penghasil bunga/buah/biji yang bernilai ekonomis. Adapun faktor yang berpengaruh terhadap potensi reduksi zat pencemar dan umur tanaman adalah jenis tanaman, kerimbunan dan ketinggian tanaman, jumlah emisi karbon, suhu, kecepatan angin, serta kepadatan dan ketinggian bangunan (Kaule, 2000). Menurut Robinette (1983), jumlah pantulan radiasi surya suatu hutan sangat dipengaruhi oleh panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi jatuhnya sinar surya, keadaan cuaca, dan posisi lintang. Tanaman berdaun banyak akan lebih efektif menyerap polutan di udara dibandingkan tumbuhan berdaun jarang. Sedangkan daun tanpa lapisan lilin, berbulu, atau berduri juga akan lebih mudah menyerap gas di udara.
Sebagaimana tersebut di atas, tanaman yang digunakan untuk pengisi taman di sepanjang trotoar tersebut adalah sansiviera, puring, nusa indah, bunga soka, dan kembang sepatu. Sansiviera yang di Indonesia dikenal dengan nama lidah mertua ini memiliki pesona tinggi. Selain itu, tanaman berdaun meruncing ini memiliki kemampuan menyerap polusi. Selain sebagai tanaman hias, sansiviera sering ditaruh di sudut dapur atau kamar mandi untuk mengurangi bau. Sansiviera juga memiliki keunggulan lain, yaitu tidak memerlukan perawatan yang rumit dan cukup tahan banting, karena tanpa disiram selama beberapa hari pun akan tetap bertahan hidup. Ini menjadikan sansiviera cocok ditanam di wilayah kota Semarang mengingat kondisinya yang panas.
Puring merupakan tanaman yang memiliki daun paling baik dalam menyerap unsur plumbum (Pb/timah hitam/timbal) yang bertebaran di udara terbuka (2,05 mgr/liter). Penyerap terbaik kedua adalah daun pohon beringin (1,025 mgr/liter). Oleh karena itu, dalam rangka mengurangi kadar logam berat di udara, misalnya yang berasal dari pembuangan kendaraan bermotor, pemerintah dan masyarakat disarankan untuk memperbanyak penanaman kedua jenis pohon tersebut. Ini karena berdasar penelitian dosen kimia UII, Ir. Feris, pembangunan pesat perkotaan dan pedesaan serta peningkatan jumlah kendaraan bermotor mengakibatkan kandungan logam berat di udara semakin banyak. Akhirnya, muncul berbagai gangguan kesehatan. Timah hitam merupakan unsur polutan berbahaya yang bisa terhisap oleh tubuh melalui pernapasan. Dampaknya akan semakin buruk jika yang terkena adalah anak-anak. Logam ini bisa merusak sistem saraf dan pencernaan. Sebagai tambahan, mengutip hasil penelitian PBB, timah hitam bisa mengakibatkan anak-anak kehilangan rata-rata empat poin IQ dalam usia tujuh tahun.
Nusa indah, soka, dan kembang sepatu merupakan tanaman berbunga yang biasa ditanam di banyak tempat. Tanaman tersebut merupakan penambah nilai estetika. Selain fungsi ekologis untuk mengurangi polutan yang berdampak pada pemanasan global, tingginya polutan yang menyebabkan gangguan kesehatan, aspek estetika juga perlu dipertimbangkan untuk menambah keasrian, keindahan, dan kenyamanan. Dengan demikian, trotoar kembali pada fungsinya semula sebagai area pedestrian yang aman dan nyaman. Apalagi menyikapi rencana pemerintah untuk mengembangkan city walk, keindahan trotoar juga menjadi salah satu faktor pendukung.
Pembuatan taman di trotoar, pemisah jalan, maupun di tepi jalan dilakukan untuk memperindah kota. Pengaturan tata letak tanaman tersebut dilakukan sedemikian rupa sehingga tercipta keindahan di sepanjang jalan tersebut. Taman-taman tersebut diharapkan berguna dari segi ekologis untuk mengurangi polusi, sedangkan dari segi estetika dapat menambah keasrian, kebersihan, dan kenyamanan di sepanjang jalan raya.
C. PENUTUP
Berkurangnya ruang terbuka hijau di kota Semarang serta polusi udara yang semakin meningkat memicu buruknya kualitas udara. Selain itu, ruang untuk para pejalan kaki pun menjadi berkurang sehingga membahayakan dan mengurangi keindahan. Penghijauan menjadi salah satu cara menanggulangi polutan untuk memperbaiki kualitas udara. Pemanfaatan berbagai jenis tanaman melalui pembuatan taman di sepanjang trotoar diharapkan dapat mengurangi dampak polusi lingkungan. Selain itu, jika ditinjau dari fungsi ekologis pembuatan taman mampu mengurangi polutan yang berdampak pada pemanasan global. Dari fungsi estetika, adanya taman dapat menambah keasrian, keindahan, dan kenyamanan. Langkah ini perlu dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan agar berhasil dengan baik. Dengan upaya kecil ini setidaknya kita telah membantu mengurangi polutan di udara dan menyuplai oksigen bagi kehidupan kita semua.
Labels: Rambling
I See the Light
I see the light...
I want to reach it
I see the light...
waving and blinking...
I want to come to it
I see the light...
I run to get it
I see the light...
I keep running on the cracking street
I fall once or twice but i keep running
and the light keeps waving and blinking
I still see the light...
and still i want to reach it
and run to get it...
Labels: English Posts, Poetry
Ini adalah beberapa bentuk bahasa Indonesia nonstandar yang sering saya temui:
- 'terdiri dari', seharusnya 'terdiri atas'
- 'subyek', 'obyek', seharusnya 'subjek', 'objek'
- 'terus menerus', seharusnya 'terus-menerus'
- 'merubah', 'dirubah', seharusnya 'mengubah', 'diubah'
- 'dan lain sebagainya', seharusnya 'dan sebagainya'
- 'mempengaruhi', seharusnya 'memengaruhi'
- 'memperhatikan', seharusnya 'memerhatikan'
Labels: Rambling
A. Pendahuluan
Adanya pengetahuan dan ilmu pengetahuan tidak terlepas dari manusia. Manusia adalah yang memiliki pengetahuan dan berilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan merupakan sistem yang dikembangkan manusia untuk mengetahui keadaannya dan lingkungannya, serta menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, atau menyesuaikan lingkungan dengan dirinya dalam rangka strategi hidupnya. Ilmu itu diolah ke dalam atau mejadi teknologi untuk diterapkan. Dengan demikian, tujuan teknologi menjadi jelas dan pengembangannya terarah dan bersasaran, yaitu untuk kesejahteraan, kemudahan, dan keuntungan bagi manusia (Jacob, 19998:1). Di masa prailmiah, pengetahuan diperoleh secara empiris turun-temurun, kemudian diteruskan dengan eksperimen dan logika. Saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi telah maju dengan sangat pesat. Teknologi modern dalam era globalisasi ini telah mencapai kemajuan yang luar biasa. Tetapi, mustahil akan ada titik terakhir, karena ilmu-ilmu baru dan berbagai konsekuensinya akan terus bermunculan.
Ilmu sendiri memiliki segi positif dan negatif. Segi positifnya, ilmu pengetahuan dapat meringankan kehidupan manusia. Tenaga alam membebaskan manusia dari perbudakan, mesin membebaskan manusia dari pekerjaan yang monoton, mesin cerdas membebaskan manusia dari berpikir, dan pengobatan membebaskan manusia dari rasa sakit. Sedangkan sisi negatifnya, ilmu pengetahuan dapat menghasilkan alat perang, apalagi jika disalahgunakan seperti ketika bom atom diledakkan. Untuk itulah seorang ilmuwan harus harus bermoral, bertanggung jawab, dan diikat oleh kode etik.
B. Landasan Epistemologis
Epistemologi merupakan cabang ilmu filsafat yang menggeluti masalah-masalah yang bersifat menyeluruh dan mendasar mengenai pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Jadi objek material filsafat ilmu adalah pengetahuan dan objek formal atau segi tinjauannya adalah menangkap, menemukan ciri-ciri umum pengetahuan, dan bagaimana proses manusia dapat memperoleh pengetahuan dan bagaimana kebenaran pengetahuan manusia dapat diuji dan dipertanggungjawabkan (Jacob, 2005:6).
Terdapat teori mengenai kebenaran, antara lain (disarikan dari http://www.geocities.com/HotSprings/6774/j-35.html):
- The correspondence theory of truth. Menurut teori ini, kebenaran atau itu berupa kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pendapat dengan apa yang sungguh merupakan faktanya.
- The consistence theory of truth. Menurut teori ini, kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta atau realitas, tetapi atas hubungan antara putusan-putusan itu sendiri. Dengan kata lain bahwa kebenaran ditegaskan atas hubungan antara yang baru itu dengan putusan-putusan lainnya yang telah kita ketahui dan kita akui benarnya terlebih dahulu.
- The pragmatic theory of truth. Benar tidaknya sesuatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata bergantung kepada berfaedah tidaknya ucapan, dalil, atau teori tersebut bagi manusia untuk bertindak dalam kehidupannya.
Dari tiga teori tersebut dapat disimpulkan bahwa kebenaran adalah kesesuaian arti dengan fakta yang ada dengan putusan-putusan lain yang telah kita akui kebenarannya dan tergantung kepada kemanfaatan teori tersebut bagi kehidupan manusia. Dalam tulisan ini akan dikaji masalah ilmu pengetahuan dan kekuasaan dari sudut pandang epistemologis, dan bagaimana pemanfaatan ilmu tersebut dalam kaitannya dengan kekuasaan.
C. Ilmu Pengetahuan dan Kekuasaan
Hubungan antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan itu sendiri telah lama ada. Di zaman prailmiah, kekuasaan adalah milik Tuhan. Tidak banyak yang dapat dilakukan manusia dalam kondisi yang paling baik sekalipun dan keadaan itu akan memburuk sama sekali jika manusia terkena kemarahan Tuhan. Sebaliknya, dalam dunia ilmu pengetahuan, semuanya berbeda. Segala sesuatu berjalan sesuai yang kita kehendaki dengan pengetahuan tentang hukum alam (Bertrand Russell, 1991:14-15).
Pada abad pertengahan di Eropa, gereja yang merupakan pusat keagamaan dan ilmu pengetahuan sekaligus juga berfungsi sebagai pusat politik dan kekuasaan. Organisasi agama ini mengembangkan tradisi sendiri. Sekolah-sekolah biara (skolastik) didirikan di sejumlah tempat. Dapat dikatakan bahwa kekuasaan politik gereja sangat efektif, sehingga akhirnya berhasil memaksakan penguasa Romawi menerima Kristen sebagai agama resmi di seluruh imperium Romawi yang hancur karena berbagai pemberontakan. Kekuasaan gereja ini akhirnya berhasil mendominasi perjalanan filsafat dan berbagai ilmu. Pada masa ini berbagai universitas berdiri di berbagai kota besar di Eropa. Kurikulumnya pun harus direstui gereja terlebih dahulu.
Ketika unsur kekuasaan menjadi begitu mengakar pada ilmu pengetahuan, pengetahuan dan ilmuwannya menjadi semacam rezim (http://jurnalyics.tripod.com/EDITORIAL1.htm). Segala sesuatu harus tunduk pada peraturan penguasa. Rezim yang terbentuk sering kali sulit menghindari ungkapan klasik dari Lord Acton, ”power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely” (kekuasaan cenderung merusak dan kekuasaan yang mutlak benar-benar merusak).
Hasil pengetahuan dalam bidang komunikasi dan informasi telah digunakan untuk membelokkan informasi sesuai kepentingan politik dan kekuasaan, siapa yang menguasai informasi dialah yang dapat menguasai dunia. Misalnya, informasi dari Barat yang menyatakan Islam identik dengan terorisme, sedangkan Amerika dan Israel yang menyerang Irak dan Palestina justru dibela terutama oleh sekutunya dan mendapat bantuan dana untuk melaksanakan serangan tersebut.
Dalam hal ekonomi, era pasar bebas akan menguntungkan negara maju yang otomatis memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi yang maju juga sehingga semakin membuat negara miskin semakin miskin (lingkaran setan kemiskinan). Membanjirnya produk ilmu pengetahuan dan teknologi memunculkan konsumerisme, sehingga terjadi homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi manusia lainnya). Mereka yang berilmu tinggi akan dapat menipu yang berilmu rendah, sebagaimana ungkapan Francis Bacon bahwa ”ilmu adalah kekuasaan” (knowledge is power). Jika ilmu adalah kekuasaan maka teknologi merupakan alat kekuasaan.
Di bidang kedokteran, kloning masih menjadi pro dan kontra. Kloning merupakan teknik penggandaan gen yang menghasilkan turunan yang sama sifat baik dari segi hereditas maupun penampakannya (http://id.wikipedia.org/wiki/-Kloning). Jadi dengan kata lain kloning merupakan merupakan cara perkembangbiakan makhluk hidup untuk mendapatkan individu atau anakan yang sama persis dengan induknya tanpa melalui proses pembuahan. Kloning ditentang oleh banyak tokoh agama dan moral karena dianggap melawan takdir.
Jika kloning diterapkan pada manusia, hal ini akan mengacaukan tatanan agama yaitu perlunya keluarga dan perkawinan. Dalam artikel di situs Web http://www.voanews.com/ indonesian/archive/2003-01/a-2003-01-22-13-1.cfm, disebutkan bahwa ”Kloning adalah jalan menuju keabadian. Itulah kalimat yang dilontarkan ketua sekte agama Raelian, Claude Vorilhon. Dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi C-B-S, ia mengatakan, perusahaan yang didirikannya, Clonaid, telah menjadi perusahaan pertama di dunia yang menciptakan manusia lewat metode kloning.” Meskipun masih menjadi perdebatan, jika memang benar terjadi, dapat dibayangkan jika kloning diselewengkan penggunaannya untuk melahirkan dominasi ras manusia yang berkarakter tertentu yang selanjutnya dapat mengancam tatanan sosial seperti kecemburuan, penjajahan, tindakan semena-mena, dan sebagainya.
Hal yang sulit dihindari tentang ilmu pengetahuan dan teknologi adalah kekuasaan. Saat seseorang berkuasa, ilmu pengetahuan yang dimilikinya akan memengaruhi segala kebijakannya. Michel Foucault mengungkapkan bahwa pertautan kekuasaan dan ilmu pengetahuan selalu membangun hubungan menguatkan. Kekuasaan sebagai kompleks strategi dinamis bisa diperankan individu atau institusi, dan kekuasaan bekerja berdasarkan mekanisme kerja ilmu pengetahuan yang dimiliki (http://www.ham.go.id/index_HAM.asp?menu= artikel&id=1024). Dalam hal teknologi kloning, bisa saja hasil kloning yang digunakan untuk tumbuhan dan hewan disalahgunakan penguasa untuk membuat manusia kloning, dengan membuat tentara pilihan yang digunakan untuk menghabisi musuh. Hal ini bisa saja terjadi mengingat adanya penggunaan bom atom oleh pasukan sekutu untuk menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki semasa Perang Dunia.
”Modus operandi” pengaruh penguasa terhadap ilmu pengetahuan dapat dikategorikan ke dalam dua cara. Pertama secara melembaga, yaitu tidak adanya kebebasan pendidikan tinggi untuk tanpa dicampuri oleh kekuasaan luar; kedua secara perseorangan, yakni menyangkut kebebasan seseorang untuk belajar, mengajar, dan melaksanakan penelitian serta mengemukakan pendapatnya sehubungan dengan kegiatan tersebut tanpa ada pembatasan kecuali dari dirinya sendiri (Achmad Icksan dalam Mahfud dalam http://www.mail-archive.com/gorontalomaju2020@yahoogroups.com/msg00080.html). Namun peran ilmuwan dan kaum intelektual sebagai pengendali dan agen perubahan ternyata juga dikuasai kepentingan kekuasaan. Mereka yang awalnya melontarkan berbagai gagasan kritis akhirnya juga ikut larut menikmati kekuasaan dan mengingkari idealismenya sendiri. Mereka menampilkan kesan sebagai pemecah masalah, namun dalam banyak hal lebih terlihat sebagai pembuat masalah. Hal ini menunjukkan bahwa posisi kaum ilmuwan dan intelektual rentan dipengaruhi kepentingan penguasa, baik penguasa negara maupun penguasa modal (uang).
Tanggung jawab merupakan kewajiban menanggung, menjamin bahwa perbuatan yang dilakukan itu sesuai kodrat (Setiardja, 2005:54). Jadi, seorang ilmuwan yang mengadakan penelitian harus sanggup menggunakan kebebasannya hanya untuk melakukan kebaikan, akan berusaha untuk mempergunakan ilmu pengetahuan dan teknologi demi kebahagiaan umat manusia, dan memperbaiki taraf hidup manusia. Demikian halnya para penguasa dengan wewenangnya untuk mengambil kebijakan juga harus bertanggung jawab atas pemanfaatan hasil ilmu pengetahuan tersebut sehingga tidak terjadi penyalahgunaan yang pada akhirnya malah akan merugikan manusia sendiri.
D. Penutup
Di atas telah disinggung bahwa kehadiran berbagai produk ilmu pengetahuan teknologi itu tidak lepas dari pengaruh kekuasaan. Pengaruh kekuasaan itu ada yang dijadikan pembenaran untuk menyalahgunakan ilmu pengetahuan. Untuk itu, kita perlu merenungkan kembali secara mendasar mengenai hakikat ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang baik bertanggung jawab atas perubahan zaman dan bermanfaat bagi semua orang, bukan segelintir orang atau kelompok tertentu saja. Ilmu pengetahuan adalah untuk kemanusiaan dan bukan untuk kekuasaan. Kebenaran ilmiah itu sendiri tidaklah bersifat mutlak, tetapi relatif. Benar pada saat ini belum tentu benar di masa depan. Agama juga diperlukan agar pemanfaatan ilmu pengetahuan itu tidak disalahgunakan oleh kekuasaan.
Labels: Rambling
I studied French when I was in high school and college and I kindof forget most of it, so I thought I should practice it. It was pretty hard writing this but my friend helped me proofread it so here it goes :D.
Quelques Coins de Semarang
Semarang est une des grandes villes en Indonésie. Elle se trouve dans le centre du Java. Dans le collonialism d'Hollandaise, on l'appellait "Het Venetie van Java," ou le Venise du Java, parce qu’elle a eu beaucoup des canals comme Venise en Italie.
Si vous allez à
Comme Paris a le quartier Latin,
L’autre endroit que vous devez voir c’est le Petit Holland dans le quartier Vieille Ville. Il y a beaucoup de vieux bâtiments. Le plus célèbre c’est l’église Blenduk qui a été construit en 1753.
Ces sont les images des endroits dans Semarang.
Le monument de la jeunesse, devant le Lawang Sewu
Le Sam Poo Kong, le plus grande temple en Semarang
L’église Blenduk
Le Lawang Sewu, vieux et effrayant
Saya tidak tahu apa nama bunga ini, tapi ibu dan budhe saya menyebutnya "kembang biting" dalam bahasa Jawa (artinya bunga lidi, karena mungkin daunnya mirip lidi yang biasa disematkan di bungkus lontong). Ibu saya menanam dua jenis bunga ini, putih-pink dan pink. Keduanya ditanam di satu tempat, dan ternyata tumbuh bunga yang warnanya gabungan seperti ini. Ini asli, bukan rekayasa genetika. Bunga ini dibiarkan tumbuh begitu saja dan tidak diotak-atik. Apalagi di rumah tidak ada ahli biologi atau botani, haha. Dan ini juga bukan hasil pengolahan gambar dengan Photoshop atau semacamnya. Kalau tidak percaya coba ditanyakan ke Roy Suryo, haha. Tapi mungkin beliau tidak mau, karena ini bukan foto artis, hahaha. Oh ya, tanaman ini mudah tumbuh, tinggal dipotong (atau dipetik) lalu ditanam begitu saja (setidaknya itu yang dilakukan ibu saya). Mungkin kalau ada yang warna kuning atau warna lainnya bisa jadi satu bunga banyak warna. Hmm...Labels: Rambling
That Man on the Street
They always look at me and shudder
as if i was a sinner
Hungry, i crawl to the trash,
as i don't have any cash
They may think that i'm sick
but i have no choice to pick
I just want my life to be better
instead of being a poor beggar
I just want a shelter
where families can get together
This isn't what i want to be
no friends, no family, no money
but why does it happen to me?
I should blame nobody
cos maybe this is my destiny
shame on me...
not the best poem i wrote i guess..but hope you enjoy it anyways :D
Labels: English Posts, Poetry
When you alternate between two (or more) languages during your speech with another bilingual person, that means you have code-switched. Here is one of my favorite examples of code switching (cited from http://www.apfi-pppsi.com/alihkode.html, my translation):
A: Yanis, tu veux du "gado-gado"? (1) (Yanis, would you like gado-gado?)
B: Mais oui, je veux aussi du "es dawet". Quand on travaille dur, on a toujours faim. (2) (Yes, I’d like es dawet too. When we work hard, we are always hungry.)
A: Pak Mar, tolong pesen gado-gado kalih, es dawet kalih. (3) (Pak Mar, please bring us two gado-gado and es dawet.)
C: Inggih, inggih. (4) (Alright.)
You can see speaker A changes her language from French to Javanese (in utterances 1 and 3). She speaks French when talking with her friend B because her friend knows French too, and then switches to Javanese to talk to C as C does not speak French.
As for code mixing, it occurs when you incorporate small units (words or short phrases) from one language to another one. It is often unintentional and is often in word level. You probably say or hear someone saying something like "jangan suka nge-judge gitu dong. orang kan beda-beda" (note that "judge" is the English word inserted in the Indonesian utterance). You can see that in code mixing, you don't alternate the whole sentence, but you only use one word or two. This often happens unintetionally. Sometimes you have a bunch of lexicons that get jumbled in your brain, and you often use more than one languages.
Now you can see the difference between code switching and code mixing. When you change language intentionally and you do it because of specific purposes (e.g. the presence of third person that does not share the same language, or the change of topic or situation), in other word the switch is functional, that means you code-switch. When you insert a piece of word other than that of your language, and you have no specific purpose or intention when doing that, that means you code-mix.
I have done two researches on this subject. One is on code switching in a home-office domain, the other is on code switching in a mailing list forum. Pretty interesting :D.
Labels: English Posts, Linguistics
quh kuL nda [sensor] iank dL na Loenpia pernah ksana.
hohohohohoho..ternatha d kmpuz mb juga gituh iah?
xiixixixixixi,mb’ [sensor] kuL na dmn c?
Tapi memang SMS mempunyai pengaruh yang begitu kuat (sampai dibuat lagu, sampai bisa untuk menceraikan istri, sah tidaknya saya kurang paham-nin). Saya tidak menentang penggunaan bahasa semacam itu. Anggap saja orang Indonesia itu kreatif, dan gaya bahasa semacam itu memperkaya bahasa kita. Asal pada tempatnya tentu saja.
(Maaf bagi yang komentarnya saya jadikan contoh kasus di sini. No disrespect intended.)
Labels: Rambling
Menurut Catford (1965:20), penerjemahan berarti mentransfer bahasa sumber ke bahasa sasaran. Penerjemahan merupakan penggantian materi tekstual pada bahasa sumber ke bahasa sasaran. Dalam proses penerjemahan, penerjemah selalu berusaha mendapatkan unsur bahasa sasaran yang sepadan dengan bahasa sumbernya agar dapat mengungkapkan pesan yang sama dalam teks sasaran. Karena setiap bahasa mempunyai aturan tersendiri, maka perbedaan aturan ini akan menyebabkan terjadinya pergeseran.
Simatupang (2000:74-82) menyebutkan jenis-jenis pergeseran dalam terjemahan sebagai berikut:
- Pergeseran pada tataran morfem
Inggris Indonesia
impossible tidak mungkin
recycle daur ulang
- Pergeseran pada tataran sintaksis
- Kata ke frasa
Inggris
girl anak perempuan
stallion kuda jantan
- Frasa ke klausa
Inggris
Not knowing what to say, (he just kept quiet)
Indonesia
(Karena) dia tidak tahu apa yang hendak dikatakannya, (…)
- Frasa ke kalimat
Inggris
His misinterpretation of the situation (caused his downfall).
Indonesia
Dia salah menafsirkan situasi (dan itulah yang menyebabkan kejatuhannya).
- Klausa ke kalimat
Inggris
Her unusual voice and singing style thrilled her fans, who reacted by screaming, crying, and clapping.
Indonesia
Suaranya yang luar biasa dan gayanya bernyanyi memikat para penggemarnya. Mereka memberikan rekasi dengan berteriak-teriak dan bertepuk tangan.
- Kalimat ke wacana
Inggris
Standing in a muddy jungle clearing strewn with recently felled trees, the Balinese village headman looked at his tiny house at the end of a line of identical buildings and said he felt strange.
Kepala kampung orang Bali itu berdiri di sebuah lahan yang baru dibuka di tengah hutan. Batang-batang pohon yang baru ditebang masih berserakan di sana-sini. Dia memandang rumahnya yang kecil yang berdiri di ujung deretan rumah yang sama bentuknya dan berkata bahwa dia merasa aneh.
- Pergeseran kategori kata
a. Nomina ke adjektiva
Inggris Indonesia
He is in good health. Dia dalam keadaan sehat.
b. Nomina ke verba
Inggris Indonesia
We had a very long talk. Kami berbicara lama sekali.
- Pergeseran pada tataran semantik
Pergeseran makna pada tataran semantik dapat berupa pergeseran makna generik ke makna spesifik maupun sebaliknya. Misalnya pada penerjemahan kata bahasa Inggris leg atau foot ke dalam bahasa Indonesia, maka padanan yang paling dekat untuk kedua kata tersebut adalah kaki. Di sini penerjemahan bergerak dari makna spesifik ke makna generik.
- Pergeseran makna karena perbedaan sudut pandang budaya
Pergeseran makna juga terjadi karena perbedaan sudut pandang dan budaya penutu bahasa yang berbeda. Misalnya orang Inggris menghubungkan ruang angkasa dengan kedalaman, sedangkan orang Indonesia dengan ketinggian atau kejauhan. Jadi orang Inggris akan mengatakan The space-ship travelled deep into space, sedangkan orang Indonesia akan berkata Kapal ruang angkasa itu terbang tinggi sekali di ruang angkasa.
Labels: Linguistics
Gandheng basa Jawi krama kula inggih boten sae (nyerat posting punika betah setunggal jam-an), kula kinten cekap semanten atur kawula punika. Ngaturaken Sugeng Mengeti Dinten Basa Ibu Internasional, mugi-mugi basa Jawi tetep lestantun, dipun uri-uri kaliyan tiyang Jawi piyambak lan sutresnanipun.
Jenang sela wader kalen sasondheran, apuranta menawi wonten kalepatan. Nuwun.
Labels: Rambling
Sama lan pu winâdâprih (ia ingin sama dengan Empu Winada)
1 2 3 4 5 6 7 8
Prih dânâ wipulan masa (yang bercita-cita mengumpulkan banyak uang dan emas)
8 7 6 5 4 3 2 1
Tama sansara ring gatyâ (akhirnya hidupnya sengsara)
9 10 11 12 13 14 15 16
Tyâga ring rasa san mata (tetapi ia tetap tenang)
16 15 14 13 12 11 10 9
Labels: Linguistics
Seperti kita tahu, Pak Harto punya gaya khas dalam berbicara. Hampir semua orang pasti langsung mengenali kalau kalau Pak Harto berbicara. Pasti ada akhiran -ken, itu yang paling jelas. Kemudian ada juga penggunaan "daripada," "anem" (enam), dan semacamnya. Kemungkinan besar ini karena pengaruh interferensi bahasa Jawa. Gaya bicara khas seseorang seperti ini disebut idiolek (atau idiolect dalam bahasa Inggris).
Untuk definisi yang lebih jelas, dalam usingenglish.com disebutkan demikian:
"A person's idiolect is their own personal language, the words they choose and any other features that characterise their speech and writing. Some people have distinctive features in their language; these would be part of their idiolect, their individual linguistic choices and idiosyncrasies."
Sedangkan di Wikipedia disebutkan demikian:
"An idiolect is a variety of a language unique to an individual. It is manifested by patterns of word selection and grammar, or words, phrases, idioms, or pronunciations that are unique to that individual. Every individual has an idiolect; the grouping of words and phrases is unique, rather than an individual using specific words that nobody else uses."
Setiap orang memiliki idiolek sendiri. Ini yang membedakan seseorang dari orang lain. Jika teman Anda menelepon Anda mungkin Anda bisa mengenali siapa dia dari idioleknya.
Semoga dengen adanya tulisan singkat ini Anda bisa mendapatken tambahan informasi daripada ilmu linguistik :).
Labels: Linguistics
|
Kalau dengar lagu ini jadi ingin bisa bahasa Italia.
Vorrei studiare l'italiano, ma studiare l'italiano senza insegnante e piu difficile di quello che penso.
Wuih! Padahal bisanya cuma itu, hahaha...
Labels: Rambling
Yippee!! I finally managed to go on vacation!! I went to Karimunjawa island last weekend (December 22nd-24th, 2007) with Nining, Mbak Yuli, Ahmed, Yudi, and Hatta. It was really awesome (but not my sea sick part when we got back to Semarang of course..haha). We left for Karimunjawa from Semarang port, Tanjung Emas, by KMC Kartini (a speed boat). It was a nice trip, but I spent most of my time sleeping...haha. Terrible, but I didn't want to get sick in the boat, heheh.You can't say you have visited Karimunjawa if you don't try snorkeling and see the coral reef. So I tried though I couldn't even swim, hahah. I was terrible in the water, but it was fun though. You could also take a glass bottom boat to see the underwater coral reef and other marine life. It looked really awesome! I kept looking for Spongebob and friends, hahah. It was raining when we were on the boat and did the snorkeling thing, but the water was pretty warm when we swam, so it wasn't that bad. Then we went to this shark breeding or hatchery (or whatever the name is), played with the sharks some (and they were all tame, at least no one got bitten, haha). I didn't swim with the sharks though, but I would surely love to next time. Other thing we did was walking on the beach.. something like that. I looked for hermit crabs but I didn't find any. But I did get some cool shells, heheh.
We should have got back to Semarang on Sunday 23rd, but the wind was too strong and the weather was so bad that the boat were not allowed to sail (wave was 5 meters high they said). So we decided to go back to the homestay and spent one more night there. I think in May-August the weather is good, so it will be a good time to visit. Sun shines and all that.
I think there are still more to explore in the Karimunjawa islands. I only visited two of them. The biggest ones I think. Still would like to see the other spots of course. There has to be Advanced Karimunjawa, hahaha. If I even failed in this introduction course I wouldn't mind repeating it another time...hahahah.
Here are some pictures I took. Better pictures are from my friends' camera, but they haven't uploaded them. Will upload some more later.
PS: I have added some pictures from Ahmed and Nining's camera.
Labels: English Posts, Vacation

