Dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, ada juga sebutan yang menggunakan nama makanan. Untuk bahasa lain saya belum tahu. Nah kebalikan dengan bahasa Inggris, dalam bahasa Indonesia dan Jawa, penggunaan nama makanan itu kebanyakan untuk menyebut sesuatu yang buruk atau negatif. Contohnya, haram jadah. Jadah adalah makanan yang terbuat dari ketan, orang Jawa biasa menyebutnya gemblong. Haram jadah artinya anak yang lahir di luar perkawinan yang sah. Contoh lain lagi, apem. Ini kue tradisional Jawa, tapi biasa digunakan untuk menyebut PSK (dodol apem, menjual diri). Ada lagi singkong. Anda pasti pernah mendengar ungkapan "anak singkong".
Yah, namanya juga lain ladang lain belalang...
There was Solo Batik Carnival in Semarang last April. I felt like I was in Brazil when I saw it hahah. It's good that Semarang holds cultural events since this city is kindof boring sometimes.



(photos by AhmedDee)
ada yang benci dirinya
ada yang butuh dirinya
ada yang suka diajar dia
ada pula yang bilang, betapa killer dirinya
ini hidup si pengajar para siswa
bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
bibir senyum tapi kadang bisa galak juga
kepada setiap mahasiswa yg datang
dosakah yg dia kerjakan
sucikah yg dia lakukan
kadang dia tersenyum dalam tangis
kadang dia menangis di dalam senyuman
oh apa yg terjadi, terjadilah
yg dia mau muridnya pintar semua
oh apa yg terjadi, terjadilah
yg dia mau murid dapat A semua...
(otak-atik lagu Kupu-kupu Malam-nya Titiek Puspa)
Now that i become a teacher i know how hard it is to be one haha..
Kalau kriteria orang Jawa harus bisa berbahasa Jawa, kenapa saat ini banyak orang keturunan Jawa yang sudah tidak bisa berbahasa Jawa. Jangankan basa jawa krama, jawa ngoko pun ada yang tidak bisa. Banyak orang tua yang cenderung mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu kepada anaknya, kadang karena orang tuanya sendiri tidak bisa berbahasa Jawa. Bahasa Jawa diperoleh ketika berinteraksi dengan teman-teman di luar rumah. Bahasa krama pun tidak terlalu dikuasai karena dianggap sulit dan repot, maka ketika orang yang lebih muda berbicara kepada orang tua, mereka lebih suka menggunakan bahasa Indonesia atau malah menggunakan jawa ngoko. Bahkan bahasa jawa dianggap feodal. Kalau tidak bisa menggunakan semua tingkat tutur bahasa Jawa itu, apakah seseorang sudah kehilangan kejawaannya?
Kalau ada orang Jawa yang kehilangan rasa, membiarkan dirinya dikendalikan nafsu dan pamrih, kasar, dalam filosofi Jawa orang itu dianggap "belum jawa" (durung jawa) (Magnis-Suseno, 1997:155). Sekarang banyak sekali orang Jawa yang memiliki sifat sebagaimana digambarkan demikian. Jadi apakah orang itu orang Jawa yang belum jawa, atau sudah kehilangan kejawaannya? Parahnya, kadang orang yang bukan keturunan suku Jawa malah lebih njawani daripada orang asli Jawa itu sendiri.
Menurut orang Jawa, terutama priyayi, memiliki istri lebih dari satu itu biasa. Wanita jawa seharusnya menurut pada suami jika suaminya ingin memiliki selir. Kalau Anda membaca novel Linus Suryadi yang berjudul Pengakuan Pariyem, wah lebih baik saya dianggap bukan perempuan Jawa kalau rela bernasib seperti Pariyem di novel itu (:p).
Mungkin orang Jawa yang paling jawa adalah pengikut saminisme. Mereka hanya mau berbahasa Jawa, walaupun bahasa Jawa ngoko, tapi itu malah menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang egaliter dan tidak membeda-bedakan sesama. Mereka juga antipoligami, karena berprinsip cukup satu suami/istri untuk selamanya.
Kalau Anda, masih jawa atau tidak?
Labels: Rambling
There are some words in English that are pronounced differently by different speakers. For example, some speakers pronounce the word economics with an initial [ɛ] - [ˌɛk
əˈnɒm
ɪks] and others with an initial [i] - [ˌi
kənɒm
ɪks]. In this word, [ɛ] and [i] are said to be in free variation. Free variation can also be found when you hear British English speaker says the word tomato [təˈmeɪ
toʊ] ,while North American speaker says [təˈmɑtoʊ]. Another example is the glottal stop in the word button. You might hear one speaker pronounces it [bʌt
n] while other speaker pronounces [bʌ?
n].
In linguistics, free variation is the phenomenon of two (or more) sounds or forms appearing in the same environment without a change in meaning and without being considered incorrect by native speakers. However, as for the case in the sounds [i] and [ɛ], we cannot substitute those two sounds in all words. Did you beat the drum? does not mean the same thing as Did you bet the drum?.
Labels: English Posts, Linguistics
Contreng. Kata ini sedang merasakan masa kejayaannya di masa-masa pemilihan umum di negeri ini. Berapa kali kata ini disebutkan dalam sehari, dari masa sebelum kampanye hingga sesudah pemilu. Dulu kita tidak terlalu sering atau bahkan jarang sekali mendengar kata ini, saya sendiri juga tidak terlalu akrab dengan kata ini. Umumnya saya memakai atau mendengar kata "centang". Kata yang dipakai untuk mengacu pada simbol yang terlihat seperti huruf V itu.
Saya sudah memeriksa keberadaan kata "contreng" di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, terbitan Balai Pustaka tahun 2002. Tidak ada kata "contreng" di sana. Tapi dalam penggunaannya ternyata kata tersebut memang ada, terbukti sekarang banyak orang yang tahu dan menggunakan kata tersebut. Pada saat belum banyak digunakan seperti sekarang ini mungkin kata "contreng" bukanlah istilah yang baku, atau hanya dikenal oleh sebagian orang saja. Tetapi saat ini, seiring banyak digunakannya istilah tersebut oleh masyarakat luas dan elite politik serta pejabat, tampaknya kata "contreng" mulai mendapatkan eksistensi dan pengakuan dalam bahasa Indonesia.
Kalau penggunaan kata "contreng" semakin meluas dan dapat bertahan, maka bisa dimungkinkan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru akan mencantumkan "contreng" sebagai kosakata baru dalam salah satu entrinya.
Eh saya belum memeriksa Kamus Besar yang edisi 4 ding...
Labels: Rambling
Anda bisa mentranskripsikan bahasa apa pun dengan simbol IPA. Selain digunakan dalam kamus, IPA biasa digunakan untuk mentranskripsikan bunyi bahasa yang ditulis dalam huruf selain huruf latin yang biasa kita gunakan. Pernahkan Anda melihat film The Gods Must Be Crazy yang dimainkan Nixau? Nixau yang dari suku Bushman di Afrika itu menggunakan bahasa yang terdengar seperti klik-klik saja. Bunyi semacam itu dapat dituliskan dalam transkripsi fonetis sehingga bisa dibaca/diucapkan, maupun diteliti sistem bahasanya seperti yang biasa dilakukan para ahli fonetik-fonologi.
Labels: Linguistics

