Blogger Template by Blogcrowds.

Lomba Kemarin Itu....

Ini adalah makalah yang kami (saya, Arie, Nur, Taufik, dan Putri) tulis untuk mewakili kelurahan kami dalam Festival Kakikol beberapa waktu lalu. Tapi makalah ini masuk 10 besar saja, tidak jadi juara >_<. Karena kurang dana, kami hanya bisa berwacana saja, belum sampai pada realisasinya. Oh well...

TAMAN KECIL SEBAGAI MEDIA PENGHIJAUAN

DI SEPANJANG KANAN KIRI JALAN PROTOKOL

A. PENDAHULUAN

Luas ruang terbuka hijau di kota Semarang setiap tahun semakin berkurang. Hal tersebut disebabkan terjadinya perubahan fungsi yang semula berupa lahan terbuka menjadi terbangun untuk berbagai keperluan seperti jalan protokol, perumahan, industri, pertokoan, kantor, pedagang kaki lima, dan sebagainya. Semakin sempitnya ruang tersebut, khususnya taman dan area pedestrian, dapat menimbulkan kerawanan dan penyakit sosial, misalnya sifat individualistik dan ketidakpedulian terhadap lingkungan. Hal ini sering ditemukan di masyarakat perkotaan. Selain itu, semakin terbatasnya ruang terbuka juga berpengaruh terhadap peningkatan iklim mikro, pencemaran udara, banjir, dan berbagai dampak negatif lingkungan lainnya.

Kondisi jalan protokol juga semakin padat karena terjadi peningkatan jumlah kendaraan, baik roda dua maupun roda empat. Tingkat penggunaan kendaraan di jalan tersebut sejalan dengan aktivitas manusia yang dituntut bergerak dinamis di era sekarang. Hal ini berdampak pada tingkat polusi di udara. Asap yang keluar dari knalpot kendaraan, debu, asap pabrik, merupakan pemandangan yang sering kita lihat. Polutan tersebut dapat mengakibatkan banyak permasalahan, mulai dari kesehatan, kebersihan, hingga estetika lingkungan.

Masalah kesehatan akan muncul karena kandungan polutan di udara semakin meningkat. Debu, gas karbon monoksida (CO), timbal (Pb), dan logam berat lainnya dapat menyebabkan gangguan kesehatan. Radikal bebas inilah yang dapat menyebabkan kanker. CO2 merupakan gas utama penyebab pemanasan global (83%), yang akan berakibat pada perubahan iklim, menyebabkan banjir, kekeringan, perubahan ekosistem, dan kesehatan manusia (http://sim.nilim.go.jp/ GE/SEMI7/5%20PENGHIJAUAN.ppt). Meningkatnya gas CO2 di udara juga memacu meningkatnya suhu atmosfer bumi, atau biasa dikenal sebagai efek rumah kaca. Sumber emisi CO2 di jalan raya antara lain berasal dari transportasi, sampah, dan industri. Muncul banyak masalah jika terjadi pemanasan global seperti sekarang ini, mulai dari masalah lingkungan, perubahan iklim, hingga bencana alam. Estetika lingkungan juga akan terpengaruh, bahkan asap hitam dari knalpot yang tidak jarang menempel pada pembatas jalan dapat mengurangi keindahan karena terlihat kumuh.

Upaya manusia untuk mengurangi dampak yang timbul dari berbagai pencemaran tersebut sangat perlu dilakukan. Salah satu usaha yang dapat ditempuh adalah penghijauan. Penghijauan merupakan penanggulangan polutan secara biologis untuk memperbaiki kualitas udara dan ini perlu dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan agar berhasil dengan baik. Agen tanaman untuk upaya penghijauan yang dapat digunakan adalah tanaman hias yang memiliki kemampuan untuk mendegradasi polutan tersebut. Beberapa di antara tanaman tersebut adalah sansiviera, puring (Codiaeum variegiatum), nusa indah (Mussaenda sp), bunga soka (Ixora sp), dan kembang sepatu (Hibiscus rosa-sinensis).

Permasalahan yang dihadapi dalam usaha penghijauan yang sedang digerakkan di kota Semarang saat ini dalam rangka penataan lingkungan yang bersih dan indah terkait dengan program Kakikol (Kanan Kiri Jalan Protokol) adalah seberapa efektif pembuatan taman di sepanjang trotoar kanan kiri jalan protokol? Tulisan ini akan mencoba menjawab permasalahan tersebut.

B. PEMBAHASAN

Dalam rangka penataan lingkungan yang bersih dan indah, upaya penghijauan sangat diperlukan. Upaya ini dapat dimulai dari penataan trotoar yang bebas dari pedagang kaki lima (PKL) untuk memberi ruang bagi para pejalan kaki. Selanjutnya, agar terlihat lebih indah dan hijau, dapat dibuat taman-taman kecil di sepanjang trotoar tersebut, tanpa menghalangi fungsinya sebagai area pedestrian. Mengingat semakin meningkatnya polusi udara di sepanjang jalan protokol, maka diharapkan taman-taman kecil tersebut juga dapat berfungsi sebagai media penghijauan untuk mengurangi polusi yang ada.

Fungsi penghijauan di sepanjang kanan kiri jalan protokol ditekankan sebagai penyerap CO2, penghasil oksigen, penyerap polutan (logam berat, debu, belerang), peredam kebisingan, penahan angin, dan peningkatan keindahan (PP RI no. 63/2002). Karakteristik pohon yang biasa digunakan untuk penghijauan adalah pohon dengan perakaran kuat, ranting tidak mudah patah, daun tidak mudah gugur, serta penghasil bunga/buah/biji yang bernilai ekonomis. Adapun faktor yang berpengaruh terhadap potensi reduksi zat pencemar dan umur tanaman adalah jenis tanaman, kerimbunan dan ketinggian tanaman, jumlah emisi karbon, suhu, kecepatan angin, serta kepadatan dan ketinggian bangunan (Kaule, 2000). Menurut Robinette (1983), jumlah pantulan radiasi surya suatu hutan sangat dipengaruhi oleh panjang gelombang, jenis tanaman, umur tanaman, posisi jatuhnya sinar surya, keadaan cuaca, dan posisi lintang. Tanaman berdaun banyak akan lebih efektif menyerap polutan di udara dibandingkan tumbuhan berdaun jarang. Sedangkan daun tanpa lapisan lilin, berbulu, atau berduri juga akan lebih mudah menyerap gas di udara.

Sebagaimana tersebut di atas, tanaman yang digunakan untuk pengisi taman di sepanjang trotoar tersebut adalah sansiviera, puring, nusa indah, bunga soka, dan kembang sepatu. Sansiviera yang di Indonesia dikenal dengan nama lidah mertua ini memiliki pesona tinggi. Selain itu, tanaman berdaun meruncing ini memiliki kemampuan menyerap polusi. Selain sebagai tanaman hias, sansiviera sering ditaruh di sudut dapur atau kamar mandi untuk mengurangi bau. Sansiviera juga memiliki keunggulan lain, yaitu tidak memerlukan perawatan yang rumit dan cukup tahan banting, karena tanpa disiram selama beberapa hari pun akan tetap bertahan hidup. Ini menjadikan sansiviera cocok ditanam di wilayah kota Semarang mengingat kondisinya yang panas.

Puring merupakan tanaman yang memiliki daun paling baik dalam menyerap unsur plumbum (Pb/timah hitam/timbal) yang bertebaran di udara terbuka (2,05 mgr/liter). Penyerap terbaik kedua adalah daun pohon beringin (1,025 mgr/liter). Oleh karena itu, dalam rangka mengurangi kadar logam berat di udara, misalnya yang berasal dari pembuangan kendaraan bermotor, pemerintah dan masyarakat disarankan untuk memperbanyak penanaman kedua jenis pohon tersebut. Ini karena berdasar penelitian dosen kimia UII, Ir. Feris, pembangunan pesat perkotaan dan pedesaan serta peningkatan jumlah kendaraan bermotor mengakibatkan kandungan logam berat di udara semakin banyak. Akhirnya, muncul berbagai gangguan kesehatan. Timah hitam merupakan unsur polutan berbahaya yang bisa terhisap oleh tubuh melalui pernapasan. Dampaknya akan semakin buruk jika yang terkena adalah anak-anak. Logam ini bisa merusak sistem saraf dan pencernaan. Sebagai tambahan, mengutip hasil penelitian PBB, timah hitam bisa mengakibatkan anak-anak kehilangan rata-rata empat poin IQ dalam usia tujuh tahun.

Nusa indah, soka, dan kembang sepatu merupakan tanaman berbunga yang biasa ditanam di banyak tempat. Tanaman tersebut merupakan penambah nilai estetika. Selain fungsi ekologis untuk mengurangi polutan yang berdampak pada pemanasan global, tingginya polutan yang menyebabkan gangguan kesehatan, aspek estetika juga perlu dipertimbangkan untuk menambah keasrian, keindahan, dan kenyamanan. Dengan demikian, trotoar kembali pada fungsinya semula sebagai area pedestrian yang aman dan nyaman. Apalagi menyikapi rencana pemerintah untuk mengembangkan city walk, keindahan trotoar juga menjadi salah satu faktor pendukung.

Pembuatan taman di trotoar, pemisah jalan, maupun di tepi jalan dilakukan untuk memperindah kota. Pengaturan tata letak tanaman tersebut dilakukan sedemikian rupa sehingga tercipta keindahan di sepanjang jalan tersebut. Taman-taman tersebut diharapkan berguna dari segi ekologis untuk mengurangi polusi, sedangkan dari segi estetika dapat menambah keasrian, kebersihan, dan kenyamanan di sepanjang jalan raya.

C. PENUTUP

Berkurangnya ruang terbuka hijau di kota Semarang serta polusi udara yang semakin meningkat memicu buruknya kualitas udara. Selain itu, ruang untuk para pejalan kaki pun menjadi berkurang sehingga membahayakan dan mengurangi keindahan. Penghijauan menjadi salah satu cara menanggulangi polutan untuk memperbaiki kualitas udara. Pemanfaatan berbagai jenis tanaman melalui pembuatan taman di sepanjang trotoar diharapkan dapat mengurangi dampak polusi lingkungan. Selain itu, jika ditinjau dari fungsi ekologis pembuatan taman mampu mengurangi polutan yang berdampak pada pemanasan global. Dari fungsi estetika, adanya taman dapat menambah keasrian, keindahan, dan kenyamanan. Langkah ini perlu dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan agar berhasil dengan baik. Dengan upaya kecil ini setidaknya kita telah membantu mengurangi polutan di udara dan menyuplai oksigen bagi kehidupan kita semua.

3 Comments:

  1. Puput said...
    tak print tak woco nang omah ah
    Fernando said...
    Sayang sekali, kali ini dikau belum beruntung ya Nin.
    Bagaimana kalau kita budidaya Sansiviera dan Puring saja Nin.
    stey said...
    wis..dowo men sih nin..skip sek,moco sesuk..

Post a Comment



Newer Post Older Post Home