Blogger Template by Blogcrowds.

Jawa

Banyak yang menganggap sekarang ini wong Jawa wis ilang jawane, orang Jawa sudah kehilangan kejawaannya. Atau mungkin definisi orang Jawa itu sendiri yang telah mengalami pergeseran seiring berjalannya waktu. Kalau menurut Frans Magnis-Suseno, yang dimaksud orang Jawa adalah orang yang bahasa ibunya bahasa Jawa dan merupakan penduduk asli bagian tengah dan timur pulau Jawa (http://www.karatonsurakarta.com/orangjawa.html). Tentunya kalau membahas filosofi orang Jawa, what makes a javanese a javanese akan lebih luas lagi kriterianya.

Kalau kriteria orang Jawa harus bisa berbahasa Jawa, kenapa saat ini banyak orang keturunan Jawa yang sudah tidak bisa berbahasa Jawa. Jangankan basa jawa krama, jawa ngoko pun ada yang tidak bisa. Banyak orang tua yang cenderung mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu kepada anaknya, kadang karena orang tuanya sendiri tidak bisa berbahasa Jawa. Bahasa Jawa diperoleh ketika berinteraksi dengan teman-teman di luar rumah. Bahasa krama pun tidak terlalu dikuasai karena dianggap sulit dan repot, maka ketika orang yang lebih muda berbicara kepada orang tua, mereka lebih suka menggunakan bahasa Indonesia atau malah menggunakan jawa ngoko. Bahkan bahasa jawa dianggap feodal. Kalau tidak bisa menggunakan semua tingkat tutur bahasa Jawa itu, apakah seseorang sudah kehilangan kejawaannya?

Kalau ada orang Jawa yang kehilangan rasa, membiarkan dirinya dikendalikan nafsu dan pamrih, kasar, dalam filosofi Jawa orang itu dianggap "belum jawa" (durung jawa) (Magnis-Suseno, 1997:155). Sekarang banyak sekali orang Jawa yang memiliki sifat sebagaimana digambarkan demikian. Jadi apakah orang itu orang Jawa yang belum jawa, atau sudah kehilangan kejawaannya? Parahnya, kadang orang yang bukan keturunan suku Jawa malah lebih njawani daripada orang asli Jawa itu sendiri.

Menurut orang Jawa, terutama priyayi, memiliki istri lebih dari satu itu biasa. Wanita jawa seharusnya menurut pada suami jika suaminya ingin memiliki selir. Kalau Anda membaca novel Linus Suryadi yang berjudul Pengakuan Pariyem, wah lebih baik saya dianggap bukan perempuan Jawa kalau rela bernasib seperti Pariyem di novel itu (:p).

Mungkin orang Jawa yang paling jawa adalah pengikut saminisme. Mereka hanya mau berbahasa Jawa, walaupun bahasa Jawa ngoko, tapi itu malah menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang egaliter dan tidak membeda-bedakan sesama. Mereka juga antipoligami, karena berprinsip cukup satu suami/istri untuk selamanya.

Kalau Anda, masih jawa atau tidak?

There are some words in English that are pronounced differently by different speakers. For example, some speakers pronounce the word economics with an initial [ɛ] - [ˌɛkəˈnɒmɪks] and others with an initial [i] - [ˌinɒmɪks]. In this word, [ɛ] and [i] are said to be in free variation. Free variation can also be found when you hear British English speaker says the word tomato [təˈmeɪtoʊ] ,while North American speaker says [ˈmɑtoʊ]. Another example is the glottal stop in the word button. You might hear one speaker pronounces it [bʌtn] while other speaker pronounces [bʌ?n].


In linguistics, free variation is the phenomenon of two (or more) sounds or forms appearing in the same environment without a change in meaning and without being considered incorrect by native speakers. However, as for the case in the sounds [i] and [ɛ], we cannot substitute those two sounds in all words. Did you beat the drum? does not mean the same thing as Did you bet the drum?.

Sudahkan Anda mencontreng hari ini?

Contreng. Kata ini sedang merasakan masa kejayaannya di masa-masa pemilihan umum di negeri ini. Berapa kali kata ini disebutkan dalam sehari, dari masa sebelum kampanye hingga sesudah pemilu. Dulu kita tidak terlalu sering atau bahkan jarang sekali mendengar kata ini, saya sendiri juga tidak terlalu akrab dengan kata ini. Umumnya saya memakai atau mendengar kata "centang". Kata yang dipakai untuk mengacu pada simbol yang terlihat seperti huruf V itu.

Saya sudah memeriksa keberadaan kata "contreng" di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, terbitan Balai Pustaka tahun 2002. Tidak ada kata "contreng" di sana. Tapi dalam penggunaannya ternyata kata tersebut memang ada, terbukti sekarang banyak orang yang tahu dan menggunakan kata tersebut. Pada saat belum banyak digunakan seperti sekarang ini mungkin kata "contreng" bukanlah istilah yang baku, atau hanya dikenal oleh sebagian orang saja. Tetapi saat ini, seiring banyak digunakannya istilah tersebut oleh masyarakat luas dan elite politik serta pejabat, tampaknya kata "contreng" mulai mendapatkan eksistensi dan pengakuan dalam bahasa Indonesia.

Kalau penggunaan kata "contreng" semakin meluas dan dapat bertahan, maka bisa dimungkinkan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru akan mencantumkan "contreng" sebagai kosakata baru dalam salah satu entrinya.

Eh saya belum memeriksa Kamus Besar yang edisi 4 ding...

IPA

Tahukah Anda IPA, yang kepanjangannya International Phonetic Alphabet? IPA adalah sistem penulisan secara fonetis yang digunakan sebagai standar representasi bunyi bahasa. Dalam ilmu linguistik, IPA ini biasanya masuk dalam ranah fonetik dan fonologi. Kalaupun Anda tidak pernah belajar linguistik, tentunya paling tidak Anda pernah membuka kamus bahasa Inggris. Di sana biasanya terdapat cara pengucapan setelah entri kata. Nah, cara pengucapan atau simbol bunyi itu dituliskan dalam transkripsi fonetis. Itulah simbol-simbol dalam IPA.

Anda bisa mentranskripsikan bahasa apa pun dengan simbol IPA. Selain digunakan dalam kamus, IPA biasa digunakan untuk mentranskripsikan bunyi bahasa yang ditulis dalam huruf selain huruf latin yang biasa kita gunakan. Pernahkan Anda melihat film The Gods Must Be Crazy yang dimainkan Nixau? Nixau yang dari suku Bushman di Afrika itu menggunakan bahasa yang terdengar seperti klik-klik saja. Bunyi semacam itu dapat dituliskan dalam transkripsi fonetis sehingga bisa dibaca/diucapkan, maupun diteliti sistem bahasanya seperti yang biasa dilakukan para ahli fonetik-fonologi.

Teman kuliah saya malah kadang menggunakan transkripsi fonetis ketika sedang bergosip, haha. Mungkin bisa juga untuk memberi atau meminta contekan ketika ujian, asal yang mengawasi ujian bukan dosen linguistik saja, hahaha (eh, yang ini jangan ditiru).

Menurut Saeed (2000:125) modalitas adalah istilah yang mengacu pada peranti yang memungkinkan penutur untuk mengungkapkan derajat/tingkatan komitmen atau kepercayaan terhadap suatu proposisi. Sementara menurut Nunan (1993:121), modalitas adalah dimensi tuturan yang membuat penutur atau penulis mengungkapkan sikapnya terhadap proposisi maupun daya ilokusi dari suatu tuturan. Dapat disimpulkan bahwa modalitas digunakan untuk mengungkapkan sikap, komitmen, atau kepercayaan terhadap suatu hal. Sebagai tambahan, istilah modalitas (modality) digunakan untuk mengacu pada fungsi, sedangkan mood mengacu pada bentuk gramatikanya (Palmer, 1981:152).

Modalitas biasanya diungkapkan melalui modal verb seperti pada kalimat-kalimat berikut:

* Menunjukkan sikap terhadap suatu proposisi:

Proposisi: The boy did it.
Kalimat tersebut dapat diungkapkan dengan modalitas (modalized statement) seperti berikut: The boy may have done it. They say the boy did it. The boy must have done it. Obviously, the boy did it. The boy undoubtedly did it. I’m sure the boy did it.

* Menunjukkan sikap terhadap daya ilokusi:

Direktif: Clean the car.
Modalized statement: I’d suggest you clean the car. You might like to clean the car. How about cleaning the car? I’d be grateful if you’d clean the car. Can you clean the car this morning?

Jenis-jenis modalitas dapat dikelompokkan menjadi berikut:
1. Epistemik
Epistemik merupakan jenis modalitas yang mengungkapkan tingkat komitmen penutur terhadap kebenaran yang dikatakannya (Palmer, 1981:153). Misalnya:
You can drive this car.
Seseorang dapat menggunakan kalimat tersebut untuk mengungkapkan hal berikut:
It is possible for you to drive this car.
You have my permission to drive this car.
Modal epistemik dapat juga digunakan untuk menyatakan interpretasi deontik, seperti pada contoh berikut (Saeed, 2000:127):
You could have told me you were coming.
Pada contoh tersebut, kemungkinan mengatakan sesuatu digunakan untuk mengimplikasikan kewajiban yang tidak dilakukan, sehingga membuat kalimat di atas bermakna teguran.

2. Deontik
Deontik menunjukkan sikap penutur terhadap faktor sosial seperti kewajiban (obligation), tanggung jawab (responsibility), dan izin (permission) (Saeed, 2000:126). Misalnya:
Mengungkapkan hal yang wajib dilakukan:
• You must take these books back.
• You should take these books back
• You need to take these books back.
• You ought to take these books back.
Atau mengungkapkan hal yang boleh dilakukan:
• You can leave them there.
• You could leave them there.
• You might leave them there.

Jadi dapat dikatakan bahwa status dan tingkat formalitas hubungan pembicara dapat memengaruhi pemilihan penggunaan modalitas. Jika misalnya pembicara mengatakan ”You can go now,” maka pembicara berada pada posisi yang lebih tinggi daripada orang yang diajak bicara.

3. Dinamik
Tidak seperti deontik and epistemik, modalitas dinamik tidak mengacu pada penuturnya. Dinamik tidak mengekspresikan pendapat penutur, dan penutur juga tidak memengaruhi situasi. Misalnya pada kalimat: Juan can play the guitar. Pada kalimat tersebut, penutur menggambarkan situasi faktual atau sebenarnya mengenai subjek kalimat tersebut. Jadi, can mengacu pada kemampuan Juan bermain gitar. Can tidak mengacu pada keyakinan penuturnya. Inilah yang membedakan modalitas dinamik dari modalitas deontik dan epistemik (Williams, http://www.geocities.com/margowilliams2002/modals).

4. Alethik
Cann (1993:270-271) mengemukakan jenis modalitas yang disebut alethik (dari bahasa Yunani aletheia yang berarti kebenaran). Cann menggunakan dasar logical necessity dan possibility, yaitu yang berhubungan dengan kebenaran (truth) atau ketidakbenaran (falsity) suatu sistem yang logis. Kita bisa mengatakan bahwa suatu rumusan itu selalu benar (atau salah) secara logis (atau alethis), jika sistem logika yang digunakan memastikan bahwa rumusan modal harus benar (atau salah). Sebaliknya, rumusan yang mungkin benar (atau salah) adalah rumusan yang tidak diartikan selalu benar (atau salah) oleh logika. Misalnya pada kalimat berikut:
1. Every proposition is necessarily either true or false, but not both.
2. Bertie possibly knows that the Morning Star is the Evening Star.
3. Every proposition must be either true or false, but not both.
4. Bertie may know the Morning Star is the Evening Star.
5. Alfred is a bachelor, thus he must be unmarried.

Jadi dapat dikatakan, modalitas alethik berkaitan dengan tingkat kepastian suatu proposisi.
Modalitas juga berhubungan dengan conditional sentence (Saeed, 2000:128), misalnya pada kalimat berikut:
If I were rich, I would be living somewhere hotter.
If you should go to Paris, stay near the river.

So this is one of my favorite recipes, squid teri-yummy (I'd rather call it teri-yummy instead of teriyaki haha). You can make your own squid teri-yummy by trying my recipe. You'd better cook it well, else it will be squid teri-yucky haha..

Ingredients:
1 kg squids, take out the ink and tentacles so you will have clean meat only
5 spoons of teriyaki sauce (i use instant teriyaki sauce here)
salt, pepper, sugar
3 red chilis, cut cross wise (or you can use 1 bell pepper)
2 onion leaves, cut cross-wise
1 onion, dice
3 cloves of garlic, mash
2 spoons of vegetable oil
5 spoons of tomato ketchup
1 cup of water

Directions
Heat vegetable oil over medium-high heat in a skillet, diced onion, and then put the mashed garlic in. add the chillis.

Put the squids in. Add ketchup, teriyaki sauce, salt, pepper, and sugar. Stir thoroughly. Add water. Don't use too much water as the squids will release water. I dont really like my teri-yummy to have too much liquid in it. Wait until the mixture is perfectly cooked. Sprinkle the onion leaves before you take it out and serve it.

Now your squid teri-yummy is ready. Itadakimasu!

Mutually exclusive environment is an environment in which the first segment of the two occurs only in such and such position, but the second segment never occurs in this same position. For further explanation we can see the following example in English language:

/r/ and /l/ are separate phonemes as indicated by the minimal pairs “blew” and “brew” and also “leaf“ and “reef”.
Voiceless [ r ] and [ l ] … (with open circles under are separated phonemes as indicated by minimal pairs in “ cloud” and “crowd”.
If we look at all the /l/ sounds we will see that they each have a different phonetically constrained environment, i.e they are in complementary distribution.
Velarized [ l ] occurs at the end of syllables
Voiceless [ l ] occurs after syllable initial voiceless consonants
[ l ] occurs elsewhere.

To make it easier to understand, we can use the “Clark Kent-Superman” analogy. Clark Kent and Superman are the same person, but they never appear at the same time. If Superman is present, then Clark Kent “disappears”, and vice versa. Therefore in our analogy, Superman and Clark Kent are allophones (the different realizations of phonemes in context, or variant sounds of the phonemic classes) that belong to the same person, in this case, the same phoneme.

Just Wondering

Apakah para penutur asli bahasa Inggris lebih self-centered daripada penutur asli bahasa Indonesia?

Coba saja, dalam bahasa Inggris kata yang bermakna "saya" selalu ditulis dengan huruf besar (huruf kapital) "I". Dalam bahasa Indonesia, kata yang bermakna sama tersebut ditulis dengan awalan huruf kecil "saya" (kecuali di awal kalimat tentunya). Apakah ini menunjukkan ego yang lebih besar? Atau mungkin kepercayaan diri yang tinggi?

Sementara untuk kata yang bermakna "kamu" atau "Anda" (orang kedua) dalam bahasa Inggris ditulis dengan awalan huruf kecil "you", sama halnya dalam bahasa Indonesia kata "kamu" diawali dengan huruf kecil. Tetapi untuk kata "Anda" yang ditujukan untuk orang kedua tetapi lebih dihormati ditulis dengan awalan huruf kapital "Anda". Apakah ini menunjukkan bahwa penutur bahasa Inggris lebih egaliter?

Bahasa itu unik. Mungkin itulah kenapa saya selalu tertarik dengan bahasa...(halah)

Blogger's Day

Well yeah. I just blogged today for the national blogger's day.

Just like the famous Descartes' quote "cogito ergo sum" that means "I think, therefore I am," I would say "I blog, therefore I am" haha.

So, happy blogger's day, bloggers!

Isn't it a cool bus? San Francisco, eh?

Take a look...
No, I didn't go to San Francisco. It's just a Nusantara bus I took to Purwokerto, haha. Still wonder why they put Golden Gate bridge picture on a Semarang-Purwokerto bus...

Dunia komputer dan teknologi informasi (TI) adalah dunia yang berkembang pesat. Setiap tahun kita bisa memastikan munculnya aplikasi peranti lunak maupun teknologi lainnya. Tingginya minat terhadap komputer dan TI dan banyaknya peluang kerja di bidang ini pun semakin mempercepat perkembangannya. Ini didukung pula adanya tuntutan zaman agar kita menguasai teknologi untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa lain. Dengan demikian, belajar TI baik secara otodidak maupun belajar di lembaga dan institusi menjadi suatu kebutuhan. Hal ini mendorong pula banyaknya terbitan dalam bidang tersebut. Beragam judul buku dengan harga yang bervariasi dapat dengan mudah kita temukan di toko-toko buku.

Banyaknya penulis buku komputer dan TI ini secara langsung berpengaruh pada industri penerbitan. Salah satu dampak yang muncul adalah perusahaan penerbit dapat menambah lini produk, yang akhirnya berimbas pada target konsumen yang lebih luas, dan pada akhirnya peningkatan laba. Selain itu, para peminat dan konsumen buku tersebut juga semakin dimanjakan dengan banyaknya pilihan judul. Dari segi tema, buku-buku tersebut bervariasi dari misalnya tutorial praktis menggunakan program komputer tertentu, sampai yang bersifat teknis seperti panduan merakit komputer hingga kamus istilah komputer. Bahkan banyak pula terbit buku-buku saku yang harganya terjangkau tetapi cukup praktis dan membantu, seperti buku panduan daftar situs Web menarik hingga panduan chatting di Internet dan semacamnya.

Maraknya buku komputer dan TI mendorong pula banyaknya penghobi dan praktisi yang beralih dalam bidang tulis-menulis. Tidak jarang di antara mereka yang menjadikan hobi menulis dan TI sebagai pekerjaan utama. Buku yang menjadi best seller tentunya akan menghasilkan pemasukan dari royalti yang cukup besar. Banyaknya penulis pemula yang belum memiliki nama atau merasa kesulitan masuk ke penerbit mendorong pula munculnya berbagai komunitas yang berfungsi sebagai mediator antara penulis dan penerbit. Komunitas ini biasanya telah memiliki hubungan baik dan sering bekerja sama dengan penerbit untuk memublikasikan karya-karya para penulis yang tergabung di dalamnya. Dengan demikian, komunitas tersebut dapat berperan untuk menjembatani para penulis tersebut dengan penerbit, meskipun ada kompensasi tertentu, seperti bagi hasil royalti atau lainnya. Beberapa komunitas penulis buku komputer dan TI di Semarang yang naskahnya diterbitkan oleh berbagai penerbit besar seperti Penerbit Salemba, Andi Offset, Elex Media Komputindo, antara lain SmitDev (Semarang IT Developer) dan E-Media Solusindo (EMS). Ada pula perusahaan dan institusi seperti perguruan tinggi yang menjadi perantara ke penerbit, seperti Wahana Komputer serta Unika Soegijapranata dan UKSW.

Tingginya volume naskah yang masuk ke penerbit dibandingkan kebutuhan pasar akan menimbulkan bottleneck. Ditambah tema tulisan yang hampir beragam, tingkat persaingan untuk masuk ke penerbit menjadi semakin berat. Banyak penerbit lebih memprioritaskan penulis lama yang telah memiliki nama. Ini tentunya menjadi kendala tersendiri bagi penulis baru. Lebih jauh lagi, dari sisi penerbit, agaknya masukan naskah dari komunitas dipilih karena beberapa alasan. Yang pertama, dengan berhubungan dari satu pihak saja penerbit dapat memperoleh banyak naskah. Yang kedua, keseragaman dan kontinuitas seri-seri buku lebih terjaga. Komunitas tersebut biasanya membagi jenis naskah ke dalam berbagai seri, seperti seri belajar mandiri, seri pemrograman, dan semacamnya. Yang ketiga, penerbit terbantu dari sisi penyuntingan karena komunitas tersebut biasanya juga memiliki editor, jadi ada proses swasunting dahulu sebelum dikirimkan ke penerbit. Ini tentunya akan memudahkan dan mempercepat proses penyuntingan dan penerbitan, hingga akhirnya buku tersebut dapat terbit sesuai waktunya dan up-to-date karena aplikasi komputer berkembang dengan pesat. Buku dengan tema yang mudah ”basi” tentunya tidak akan banyak dilirik konsumen.

Dari sisi lain, karena cukup sering membaca dan menyunting buku komputer, penulis artikel ini dapat melihat dari segi penulisan dan kebahasaan, agaknya gaya tulisan dalam buku-buku tersebut memunculkan genre tersendiri. Walaupun perlu pembuktian lebih lanjut, model penulisan buku tersebut seperti mengikuti pola tertentu, terutama untuk buku mengenai tutorial aplikasi program. Kebanyakan pembahasan dalam setiap babnya berupa panduan langkah demi langkah untuk menerapkan program tertentu. Dari segi bahasa, terbitnya bermacam buku komputer dan TI ini selanjutnya juga memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Karena kita belum banyak memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia, maka kebanyakan kosakata yang digunakan dalam buku tersebut berupa kata serapan atau pinjaman dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Meskipun demikian, banyak pula terdapat kata yang telah diindonesiakan seperti ’mengunduh’ (download), ’peranti keras’ (hardware), ’peranti lunak’ (software), dan sebagainya. Buku-buku tersebut diharapkan dapat membantu menyebarluaskan penggunaan istilah komputer dalam bahasa kita sendiri, karena kebanyakan dari kita masih merasa aneh dan enggan untuk menggunakannya dan cenderung memilih menggunakan istilah asingnya.

Buku-buku mengenai komputer dan TI memiliki prospek yang cerah. Perkembangan teknologi dan tuntutan zaman akan membuat kita harus selalu bergerak mengikutinya. Dunia TI bersifat dinamis, sehingga proses pembelajaran juga selalu mengikuti perkembangan yang terjadi. Lebih dari itu, tentunya kita juga tidak mau menjadi bangsa yang selalu tertinggal. Dengan banyak membaca kita akan bisa mengejar ketertinggalan itu sedikit demi sedikit. Dengan demikian, terbitnya buku-buku tersebut menjadi sesuatu yang selalu dibutuhkan.

Terakhir, jika Anda memiliki minat dalam dunia TI dan kepenulisan, mengapa tidak menjadi penulis saja? Menyalurkan hobi namun mendapat bisa mendapatkan uang. Mulai saja dari tema yang paling sederhana dan yang paling Anda kuasai. Salah seorang rekan pernah menulis buku tentang bagaimana chatting di Yahoo Messenger dan buku itu cukup laris dan sudah dicetak ulang. Jadi terbukti, buku komputer juga nggak ada matinya!

**Tulisan ini sebenarnya saya kirimkan ke media beberapa waktu lalu, tapi ternyata ndak dimuat, hahaha. Ya wis, daripada mangkrak di hard disk, saya muat di blog sendiri saja.

Jika fonologi mengidentifikasi satuan dasar bahasa sebagai bunyi, morfologi mengidentifikasi satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Bagian dari kompetensi linguistik seseorang termasuk pengetahuan mengenai morfologi bahasa, yang meliputi kata, pengucapan kata tersebut, maknanya, dan bagaimana unsur-unsur tersebut digabungkan (Fromkin & Rodman, 1998:96). Morfologi mempelajari struktur internal kata-kata. Jika pada umumnya kata-kata dianggap sebagai unit terkecil dalam sintaksis, jelas bahwa dalam kebanyakan bahasa, suatu kata dapat dihubungkan dengan kata lain melalui aturan. Misalnya, penutur bahasa Inggris mengetahui kata dog, dogs, dan dog-catcher memiliki hubungan yang erat. Penutur bahasa Inggris mengetahui hubungan ini dari pengetahuan mereka mengenai aturan pembentukan kata dalam bahasa Inggris.

Aturan yang dipahami penutur mencerminkan pola-pola tertentu (atau keteraturan) mengenai bagaimana kata dibentuk dari satuan yang lebih kecil dan bagaimana satuan-satuan tersebut digunakan dalam wicara. Jadi dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari pola pembentukan kata dalam bahasa, dan berusaha merumuskan aturan yang menjadi acuan pengetahuan penutur bahasa tersebut.

Dalam hubungannya dengan sintaksis, beberapa relasi gramatikal dapat diekspresikan baik secara infleksional (morfologis) atau secara sintaksis (sebagai bagian dari struktur kalimat), misalnya pada kalimat He loves books dan He is a lover of books. Apa yang di dalam suatu bahasa ditandai dengan afiks infleksional, dalam bahasa lain ditandai dengan urutan kata (word order) dan dalam bahasa yang lain lagi dengan kata fungsi (function word). Misalnya dalam bahasa Inggris, kalimat Maxim defends Victor (Maxim mengalahkan Victor) memiliki makna yang berbeda dengan kalimat Victor defends Maxim (Victor mengalahkan Maxim). Urutan kata sangat penting. Dalam bahasa Rusia, semua kalimat berikut bermakna ”Maxim defends Victor” (Maxim mengalahkan Victor):

Maksim zasčisčajet Viktora.
Maksim Viktora zasčisčajet.
Viktora Maksim zasčisčajet.
Viktora zasčisčajet Maksim.

Sufiks infleksional –a pada Viktor menunjukkan bahwa Victor adalah yang dikalahkan, bukan Maxim (Fromkin & Rodman, 1998:93).

Dalam bahasa Inggris, untuk mengungkapkan makna ”masa depan” (future) dari sebuah verba kita harus menggunakan function word berupa will, misalnya pada kalimat John will come Monday. Dalam bahasa Prancis, verba untuk future tense menggunakan infleksi (Jean vient lundi John is coming Monday” atau Jean viendra lundiJohn will come Monday”). Demikian halnya jika bahasa Inggris memiliki penanda have dan be, bahasa Indonesia menggunakan afiksasi untuk mengungkapkan hal yang sama, misalnya:

Dokter memeriksa saya. The doctor examines me.
Saya diperiksa dokter. I was examined by the doctor.

Selain itu, semua morfem memiliki struktur gramatikal yang dilekatkan padanya. Terkadang, makna gramatikal hanya tampak jika morfem tersebut digabungkan dengan morfem lain (seperti pada afiks yang dapat mengubah makna gramatikal). Morfem infleksional adalah morfem yang tidak memiliki makna di luar makna gramatikal, seperti penanda jamak ”s” dalam bahasa Inggris. Tetapi morfem lain memiliki pengecualian, seperti pada kata hit – hit (present – past), atau sheep – sheep (tunggal - jamak).

In syntax, you can use phrase structure trees to distinguish the meaning of an ambiguous sentence like the following.

John saw the man with a telescope.

Use it-clauses to explain the meaning, then create phrase structure trees from each it-clause.

1. It is with a telescope that John saw the man.

2. It is the man with a telescope that John saw.

I saw this high school textbook in the biggest bookstore in Semarang. The word "bilingual" tickled my mind, so I wanted to look through it. See what I read there in the book. Grammar badly needs correction! It is bilingual, but the English translation is pretty awful.

Here is one of the sentences i captured: "Galaxy is a group of stars in universe that their amount is large" (Galaksi adalah kelompok bintang di jagat raya yang jumlahnya banyak). D'oh, it just sounds like word by word translation. Terrible. Next sentences sound worse and worse (sorry >_<).

Well maybe I'm just being critical, but I think they have to revise the book. I think the intention of writing a bilingual book is very good, but I think they should write it in good English and Indonesian (surely it will also make the editor or translator's job much easier, eheh).


Signs

Signs signs signs at Prambanan Temple...

Wonder why they didn't translate these signs...

Seminar

I will present my thesis proposal this Saturday, July 5th. My thesis will be on Saminism in Blora. Kindof hard I think, but I still hope I can do it well.

So, goodluck Nina!


*Already did it. I did not do that well when defending my arguments...but the grade was satisfactory :D

Linguistik berarti ilmu bahasa. Ilmu bahasa adalah ilmu yang objeknya bahasa. Bahasa di sini maksudnya adalah bahasa yang digunakan sehari-hari (atau fenomena lingual). Karena bahasa dijadikan objek keilmuan maka ia mengalami pengkhususan, hanya yang dianggap relevan saja yang diperhatikan (diabstraksi). Jadi yang diteliti dalam linguistik atau ilmu bahasa adalah bahasa sehari-hari yang sudah diabstraksi, dengan demikian anggukan, dehem, dan semacamnya bukan termasuk objek yang diteliti dalam linguistik.

Linguistik modern berasal dari Ferdinand de Saussure, yang membedakan langue, langage, dan parole (Verhaar, 1999:3). Langue adalah salah satu bahasa sebagai suatu sistem, seperti bahasa Indonesia, bahasa Inggris. Langage berarti bahasa sebagai sifat khas manusia, sedangkan parole adalah bahasa sebagaimana dipakai secara konkret (dalam bahasa Indonesia ketiga istilah tadi disebut bahasa saja dan mengacu pada konsep yang sama). Sejalan dengan hal di atas, Robins (1992:55) mengatakan bahwa langue merupakan struktur leksikal, gramatikal, dan fonologis sebuah bahasa, dan struktur ini sudah tertanam dalam pikiran penutur asli pada masa kanak-kanak sebagai hasil kolektif masyarakat bahasa yang dibayangkan sebagai suatu kesatuan supraindividual. Dalam menggunakan bahasanya, penutur bisa berbicara di dalam lingkup langue ini; apa yang sebenarnya diucapkannya adalah parole, dan satu-satunya kendali yang dapat dia atur adalah kapan dia harus berbicara dan apa yang harus ia bicarakan. Kaidah leksikal, gramatikal, dan fonologis telah dikuasai dan dipakai, dan kaidah tersebut menentukan ruang lingkup pilihan yang dapat dibuat oleh penutur. Pembedaan ini seperti apa yang dibuat Chomsky, yaitu antara competence (apa yang secara intuisi diketahui penutur tentang bahasanya) dan performance (apa yang dilakukan penutur ketika dia menggunakan bahasanya).

Ilmu linguistik sendiri sering disebut linguistik umum, artinya ilmu linguistik tidak hanya menyelidiki salah satu bahasa saja tetapi juga menyangkut bahasa pada umumnya. Dengan memakai istilah de Saussure, dapat dirumuskan bahwa ilmu linguistik tidak hanya meneliti salah satu langue saja, tetapi juga langage, yaitu bahasa pada umumnya. Sedangkan linguistik teoretis memuat teori linguistik, yang mencakup sejumlah subbidang, seperti ilmu tentang struktur bahasa (grammar atau tata bahasa) dan makna (semantik). Ilmu tentang tata bahasa meliputi morfologi (pembentukan dan perubahan kata) dan sintaksis (aturan yang menentukan bagaimana kata-kata digabungkan ke dalam frasa atau kalimat). Selain itu dalam bagian ini juga ada fonologi atau ilmu tentang sistem bunyi dan satuan bunyi yang abstrak, dan fonetik, yang berhubungan dengan properti aktual seperti bunyi bahasa atau speech sound (phone) dan bunyi non-speech sound, dan bagaimana bunyi-bunyi tersebut dihasilkan dan didengar (http://en.wikipedia.org/wiki/Linguistics).

Menurut Verhaar (1999:9), setiap ilmu pengetahuan biasanya terbagi atas beberapa bidang bawahan, misalnya ada linguistik antropologis atau cara penyelidikan linguistik yang dimanfaatkan ahli antropologi budaya, ada sosiolinguistik untuk meneliti bagaimana dalam bahasa itu dicerminkan hal-hal sosial dalam golongan penutur tertentu. Tetapi bidang-bidang bawahan tersebut mengandaikan adanya pengetahuan linguistik yang mendasari. Bidang yang mendasari itu adalah bidang yang menyangkut struktur dasar tertentu, yaitu struktur bunyi bahasa yang bidangnya disebut fonetik dan fonologi; struktur kata atau morfologi; struktur antarkata dalam kalimat atau sintaksis; masalah arti atau makna yang bidangnya disebut semantik; hal-hal yang menyangkut siasat komunikasi antarorang dalam parole atau pemakaian bahasa, dan menyangkut juga hubungan tuturan bahasa dengan apa yang dibicarakan, atau disebut pragmatik.

[ph] dan [p]

Setiap bahasa memiliki kaidah yang khas dari semua bidang yang tercakup dalam leksikon (kosakata) dan tata bahasa. Misalnya pada bunyi [p] dalam kata bahasa Inggris "pot". Bunyi [p] beraspirasi ([ph]) karena [ph] dalam kata "pot" adalah satu-satunya bunyi letup (plosive) pada awal kata, sehingga akan diucapkan seperti[phot]. Tetapi dalam kata "spot", bunyi [p] tidak beraspirasi karena bukan merupakan satu-satunya konsonan pada awal kata, sehingga akan diucapkan [spot], tanpa aspirasi pada bunyi [p].

S
eorang penutur asli bahasa Inggris akan kesulitan untuk mengucapkan bunyi fonem /p/ pada kata "psychology". Bunyi [p] tersebut silent atau tidak diucapkan, sehingga akan terdengar seperti [saiˈkolədʒi]. Untuk mengucapkan bunyi [ph] ia akan menarik kedua bibirnya ke dalam sebelum melepaskannya. Ia akan mengalami kesulitan untuk mengucapkan bunyi [ph] sebelum bunyi [s] secara berurutan, sehingga bunyi [ph] menjadi tidak terdengar (seperti pada contoh kata "spot" di atas). Ini berbeda apabila seorang penutur asli bahasa Indonesia atau Jawa yang mengucapkan kata "psikologi". Biasanya bunyi fonem /p/ akan terdengar jelas. Ini karena kaidah fonetis bunyi fonem /p/ dalam bahasa Indonesia berbeda dengan bahasa Inggris. Dalam kaidah fonetis bahasa Indonesia atau Jawa, bunyi [p] tidak beraspirasi di awal kata (dan tidak beraspirasi pula di posisi tengah maupun akhir kata). Jadi, para penutur bahasa Indonesia atau Jawa asli, karena tidak perlu melipat kedua bibirnya ke dalam ketika mengucapkan [p], akan cenderung mengucapkan [pesikologi] atau [sikologi].

*Referensi: Wacana Komunikasi (Herudjati Purwoko)

Don Quixote

This book is very thick. Don Quixote by Miguel de Cervantes. I have this one, the complete and unabridged version. It was recommended to me, I thought it was good so I bought it anyways. I wanted to buy Anna Karenina by Leo Tolstoy (the Indonesian version), but I eventually bought this one. I got it like two years ago, and I have never finished it since then. I probably have read one-third of the book. It is a classic novel, and I have to think twice (or maybe more) when reading it because of the language. Reading English books should be fine with me, but for classic novels, sometimes I have to read the sentences more than once or skip some words because I am lazy to look them up in dictionary, heheh. As long as I get the point, that is. Then I can enjoy it.

Been two years and I don't know when I will continue it. Laziness is the thing. I have some books I haven't finished reading, among others are Lord Jim by Joseph Conrad (one of the reasons I bought it was because it tells about Semarang, my city, hahah) and Kebangkitan by Leo Tolstoy (the translated version of Resurrection). Both are pretty boring I guess. But I surely want to finish reading them. I just don't know when. Oh well...

Dear Sir,

For the silence,
For all questions left unanswered,
For all problems left unsolved,
For all words left misunderstood,
For all of our empty chatters,
For the boredom of listening...

Sir,
we don't really get what you say in class....
(is it that you are too smart or we, your students, are the stupid ones?)


*dedicated to our syntax prof

Newer Posts Older Posts Home