| It was put on a church wall. |
| Fishing? |
| It just looks cool to me... |
| They also have tempe in Sydney... |
| If you speak Javanese you know what's funny with this sign. |
Labels: English Posts, Rambling, Vacation
Bahasa merupakan salah satu cara untuk mempertahankan suatu kebudayaan. Melalui bahasa, budaya dan pengetahuan dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Sebagai contoh, orang tua yang mengajarkan bahasa ibu kepada anaknya. Pada umumnya orang tua mengajarkan bahasa daerah kepada anaknya, misalnya orang tua saya mengajarkan bahasa Jawa kepada saya, jadi bahasa ibu saya adalah bahasa Jawa.
Fenomena yang terjadi sekarang ini adalah, menurut pengamatan saya setidaknya yang saya lihat di kampung saya, banyak orang tua yang cenderung mengajarkan bahasa Indonesia ataupun bahasa asing sebagai bahasa ibu anaknya. Ini terutama orang tua yang masih berusia muda. Saya berpikir ini dikarenakan mereka tidak memiliki kompetensi dan performa (competence and performance) bahasa Jawa yang kurang baik, sehingga mereka lebih suka mengajarkan bahasa Indonesia. Mungkin juga bahasa Jawa dianggap sulit (karena adanya undha-usuk) dan bahkan ndeso (kampungan) dan tidak diperlukan di dunia internasional seperti bahasa Inggris.
Pagi ini saya membaca artikel mengenai bahasa Lakota, bahasa Native American (http://rapidcityjournal.com/news/keeping-lakota-alive/article_6f03e808-59fb-11e1-bb1e-001871e3ce6c.html). Bahasa ini juga terancam punah. Bagaimana dengan bahasa Jawa? Kalau banyak penutur bahasa Jawa sudah tidak mau lagi menggunakan bahkan mengajarkan bahasa Jawa, ini akan menjadi bunuh diri bahasa (language suicide) seperti yang diungkapkan Beck dan Lam dari University of Alberta dalam makalahnya (http://www.ualberta.ca/~dbeck/Chambers.pdf). Tapi saya pikir bahasa Jawa akan masih mampu bertahan, mengingat banyaknya penutur asli yang tersebar di berbagai wilayah dan adanya upaya-upaya pemertahanan bahasa Jawa.
Oh ya, jangan tanyakan kenapa saya tidak menulis posting ini dalam bahasa Jawa, ya. Hahaha...
Selamat hari bahasa ibu. Sugeng dinten basa ibu.
Dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa, ada juga sebutan yang menggunakan nama makanan. Untuk bahasa lain saya belum tahu. Nah kebalikan dengan bahasa Inggris, dalam bahasa Indonesia dan Jawa, penggunaan nama makanan itu kebanyakan untuk menyebut sesuatu yang buruk atau negatif. Contohnya, haram jadah. Jadah adalah makanan yang terbuat dari ketan, orang Jawa biasa menyebutnya gemblong. Haram jadah artinya anak yang lahir di luar perkawinan yang sah. Contoh lain lagi, apem. Ini kue tradisional Jawa, tapi biasa digunakan untuk menyebut PSK (dodol apem, menjual diri). Ada lagi singkong. Anda pasti pernah mendengar ungkapan "anak singkong".
Yah, namanya juga lain ladang lain belalang...
There was Solo Batik Carnival in Semarang last April. I felt like I was in Brazil when I saw it hahah. It's good that Semarang holds cultural events since this city is kindof boring sometimes.



(photos by AhmedDee)
ada yang benci dirinya
ada yang butuh dirinya
ada yang suka diajar dia
ada pula yang bilang, betapa killer dirinya
ini hidup si pengajar para siswa
bekerja bertaruh seluruh jiwa raga
bibir senyum tapi kadang bisa galak juga
kepada setiap mahasiswa yg datang
dosakah yg dia kerjakan
sucikah yg dia lakukan
kadang dia tersenyum dalam tangis
kadang dia menangis di dalam senyuman
oh apa yg terjadi, terjadilah
yg dia mau muridnya pintar semua
oh apa yg terjadi, terjadilah
yg dia mau murid dapat A semua...
(otak-atik lagu Kupu-kupu Malam-nya Titiek Puspa)
Now that i become a teacher i know how hard it is to be one haha..
Kalau kriteria orang Jawa harus bisa berbahasa Jawa, kenapa saat ini banyak orang keturunan Jawa yang sudah tidak bisa berbahasa Jawa. Jangankan basa jawa krama, jawa ngoko pun ada yang tidak bisa. Banyak orang tua yang cenderung mengajarkan bahasa Indonesia sebagai bahasa ibu kepada anaknya, kadang karena orang tuanya sendiri tidak bisa berbahasa Jawa. Bahasa Jawa diperoleh ketika berinteraksi dengan teman-teman di luar rumah. Bahasa krama pun tidak terlalu dikuasai karena dianggap sulit dan repot, maka ketika orang yang lebih muda berbicara kepada orang tua, mereka lebih suka menggunakan bahasa Indonesia atau malah menggunakan jawa ngoko. Bahkan bahasa jawa dianggap feodal. Kalau tidak bisa menggunakan semua tingkat tutur bahasa Jawa itu, apakah seseorang sudah kehilangan kejawaannya?
Kalau ada orang Jawa yang kehilangan rasa, membiarkan dirinya dikendalikan nafsu dan pamrih, kasar, dalam filosofi Jawa orang itu dianggap "belum jawa" (durung jawa) (Magnis-Suseno, 1997:155). Sekarang banyak sekali orang Jawa yang memiliki sifat sebagaimana digambarkan demikian. Jadi apakah orang itu orang Jawa yang belum jawa, atau sudah kehilangan kejawaannya? Parahnya, kadang orang yang bukan keturunan suku Jawa malah lebih njawani daripada orang asli Jawa itu sendiri.
Menurut orang Jawa, terutama priyayi, memiliki istri lebih dari satu itu biasa. Wanita jawa seharusnya menurut pada suami jika suaminya ingin memiliki selir. Kalau Anda membaca novel Linus Suryadi yang berjudul Pengakuan Pariyem, wah lebih baik saya dianggap bukan perempuan Jawa kalau rela bernasib seperti Pariyem di novel itu (:p).
Mungkin orang Jawa yang paling jawa adalah pengikut saminisme. Mereka hanya mau berbahasa Jawa, walaupun bahasa Jawa ngoko, tapi itu malah menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang egaliter dan tidak membeda-bedakan sesama. Mereka juga antipoligami, karena berprinsip cukup satu suami/istri untuk selamanya.
Kalau Anda, masih jawa atau tidak?
Labels: Rambling
There are some words in English that are pronounced differently by different speakers. For example, some speakers pronounce the word economics with an initial [ɛ] - [ˌɛk
əˈnɒm
ɪks] and others with an initial [i] - [ˌi
kənɒm
ɪks]. In this word, [ɛ] and [i] are said to be in free variation. Free variation can also be found when you hear British English speaker says the word tomato [təˈmeɪ
toʊ] ,while North American speaker says [təˈmɑtoʊ]. Another example is the glottal stop in the word button. You might hear one speaker pronounces it [bʌt
n] while other speaker pronounces [bʌ?
n].
In linguistics, free variation is the phenomenon of two (or more) sounds or forms appearing in the same environment without a change in meaning and without being considered incorrect by native speakers. However, as for the case in the sounds [i] and [ɛ], we cannot substitute those two sounds in all words. Did you beat the drum? does not mean the same thing as Did you bet the drum?.
Labels: English Posts, Linguistics
Contreng. Kata ini sedang merasakan masa kejayaannya di masa-masa pemilihan umum di negeri ini. Berapa kali kata ini disebutkan dalam sehari, dari masa sebelum kampanye hingga sesudah pemilu. Dulu kita tidak terlalu sering atau bahkan jarang sekali mendengar kata ini, saya sendiri juga tidak terlalu akrab dengan kata ini. Umumnya saya memakai atau mendengar kata "centang". Kata yang dipakai untuk mengacu pada simbol yang terlihat seperti huruf V itu.
Saya sudah memeriksa keberadaan kata "contreng" di Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi ketiga, terbitan Balai Pustaka tahun 2002. Tidak ada kata "contreng" di sana. Tapi dalam penggunaannya ternyata kata tersebut memang ada, terbukti sekarang banyak orang yang tahu dan menggunakan kata tersebut. Pada saat belum banyak digunakan seperti sekarang ini mungkin kata "contreng" bukanlah istilah yang baku, atau hanya dikenal oleh sebagian orang saja. Tetapi saat ini, seiring banyak digunakannya istilah tersebut oleh masyarakat luas dan elite politik serta pejabat, tampaknya kata "contreng" mulai mendapatkan eksistensi dan pengakuan dalam bahasa Indonesia.
Kalau penggunaan kata "contreng" semakin meluas dan dapat bertahan, maka bisa dimungkinkan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi terbaru akan mencantumkan "contreng" sebagai kosakata baru dalam salah satu entrinya.
Eh saya belum memeriksa Kamus Besar yang edisi 4 ding...
Labels: Rambling
Anda bisa mentranskripsikan bahasa apa pun dengan simbol IPA. Selain digunakan dalam kamus, IPA biasa digunakan untuk mentranskripsikan bunyi bahasa yang ditulis dalam huruf selain huruf latin yang biasa kita gunakan. Pernahkan Anda melihat film The Gods Must Be Crazy yang dimainkan Nixau? Nixau yang dari suku Bushman di Afrika itu menggunakan bahasa yang terdengar seperti klik-klik saja. Bunyi semacam itu dapat dituliskan dalam transkripsi fonetis sehingga bisa dibaca/diucapkan, maupun diteliti sistem bahasanya seperti yang biasa dilakukan para ahli fonetik-fonologi.
Labels: Linguistics
Modalitas biasanya diungkapkan melalui modal verb seperti pada kalimat-kalimat berikut:
* Menunjukkan sikap terhadap suatu proposisi:
Proposisi: The boy did it.
Kalimat tersebut dapat diungkapkan dengan modalitas (modalized statement) seperti berikut: The boy may have done it. They say the boy did it. The boy must have done it. Obviously, the boy did it. The boy undoubtedly did it. I’m sure the boy did it.
* Menunjukkan sikap terhadap daya ilokusi:
Direktif: Clean the car.
Modalized statement: I’d suggest you clean the car. You might like to clean the car. How about cleaning the car? I’d be grateful if you’d clean the car. Can you clean the car this morning?
Jenis-jenis modalitas dapat dikelompokkan menjadi berikut:
1. Epistemik
Epistemik merupakan jenis modalitas yang mengungkapkan tingkat komitmen penutur terhadap kebenaran yang dikatakannya (Palmer, 1981:153). Misalnya:
You can drive this car.
Seseorang dapat menggunakan kalimat tersebut untuk mengungkapkan hal berikut:
It is possible for you to drive this car.
You have my permission to drive this car.
Modal epistemik dapat juga digunakan untuk menyatakan interpretasi deontik, seperti pada contoh berikut (Saeed, 2000:127):
You could have told me you were coming.
Pada contoh tersebut, kemungkinan mengatakan sesuatu digunakan untuk mengimplikasikan kewajiban yang tidak dilakukan, sehingga membuat kalimat di atas bermakna teguran.
2. Deontik
Deontik menunjukkan sikap penutur terhadap faktor sosial seperti kewajiban (obligation), tanggung jawab (responsibility), dan izin (permission) (Saeed, 2000:126). Misalnya:
Mengungkapkan hal yang wajib dilakukan:
• You must take these books back.
• You should take these books back
• You need to take these books back.
• You ought to take these books back.
Atau mengungkapkan hal yang boleh dilakukan:
• You can leave them there.
• You could leave them there.
• You might leave them there.
Jadi dapat dikatakan bahwa status dan tingkat formalitas hubungan pembicara dapat memengaruhi pemilihan penggunaan modalitas. Jika misalnya pembicara mengatakan ”You can go now,” maka pembicara berada pada posisi yang lebih tinggi daripada orang yang diajak bicara.
3. Dinamik
Tidak seperti deontik and epistemik, modalitas dinamik tidak mengacu pada penuturnya. Dinamik tidak mengekspresikan pendapat penutur, dan penutur juga tidak memengaruhi situasi. Misalnya pada kalimat: Juan can play the guitar. Pada kalimat tersebut, penutur menggambarkan situasi faktual atau sebenarnya mengenai subjek kalimat tersebut. Jadi, can mengacu pada kemampuan Juan bermain gitar. Can tidak mengacu pada keyakinan penuturnya. Inilah yang membedakan modalitas dinamik dari modalitas deontik dan epistemik (Williams, http://www.geocities.com/margowilliams2002/modals).
4. Alethik
Cann (1993:270-271) mengemukakan jenis modalitas yang disebut alethik (dari bahasa Yunani aletheia yang berarti kebenaran). Cann menggunakan dasar logical necessity dan possibility, yaitu yang berhubungan dengan kebenaran (truth) atau ketidakbenaran (falsity) suatu sistem yang logis. Kita bisa mengatakan bahwa suatu rumusan itu selalu benar (atau salah) secara logis (atau alethis), jika sistem logika yang digunakan memastikan bahwa rumusan modal harus benar (atau salah). Sebaliknya, rumusan yang mungkin benar (atau salah) adalah rumusan yang tidak diartikan selalu benar (atau salah) oleh logika. Misalnya pada kalimat berikut:
1. Every proposition is necessarily either true or false, but not both.
2. Bertie possibly knows that the Morning Star is the Evening Star.
3. Every proposition must be either true or false, but not both.
4. Bertie may know the Morning Star is the Evening Star.
5. Alfred is a bachelor, thus he must be unmarried.
Jadi dapat dikatakan, modalitas alethik berkaitan dengan tingkat kepastian suatu proposisi.
Modalitas juga berhubungan dengan conditional sentence (Saeed, 2000:128), misalnya pada kalimat berikut:
If I were rich, I would be living somewhere hotter.
If you should go to Paris, stay near the river.
Labels: Linguistics
Ingredients:
1 kg squids, take out the ink and tentacles so you will have clean meat only
5 spoons of teriyaki sauce (i use instant teriyaki sauce here)
salt, pepper, sugar
3 red chilis, cut cross wise (or you can use 1 bell pepper)
2 onion leaves, cut cross-wise
1 onion, dice
3 cloves of garlic, mash
2 spoons of vegetable oil
5 spoons of tomato ketchup
1 cup of water
Directions
Heat vegetable oil over medium-high heat in a skillet, diced onion, and then put the mashed garlic in. add the chillis.
Put the squids in. Add ketchup, teriyaki sauce, salt, pepper, and sugar. Stir thoroughly. Add water. Don't use too much water as the squids will release water. I dont really like my teri-yummy to have too much liquid in it. Wait until the mixture is perfectly cooked. Sprinkle the onion leaves before you take it out and serve it.
Now your squid teri-yummy is ready. Itadakimasu!
Labels: English Posts, Recipe
Mutually exclusive environment is an environment in which the first segment of the two occurs only in such and such position, but the second segment never occurs in this same position. For further explanation we can see the following example in English language:
/r/ and /l/ are separate phonemes as indicated by the minimal pairs “blew” and “brew” and also “leaf“ and “reef”.Voiceless [ r ] and [ l ] … (with open circles under are separated phonemes as indicated by minimal pairs in “ cloud” and “crowd”.
If we look at all the /l/ sounds we will see that they each have a different phonetically constrained environment, i.e they are in complementary distribution.
Velarized [ l ] occurs at the end of syllables
Voiceless [ l ] occurs after syllable initial voiceless consonants
[ l ] occurs elsewhere.
To make it easier to understand, we can use the “Clark Kent-Superman” analogy. Clark Kent and Superman are the same person, but they never appear at the same time. If Superman is present, then Clark Kent “disappears”, and vice versa. Therefore in our analogy, Superman and Clark Kent are allophones (the different realizations of phonemes in context, or variant sounds of the phonemic classes) that belong to the same person, in this case, the same phoneme.
Labels: English Posts, Linguistics
Apakah para penutur asli bahasa Inggris lebih self-centered daripada penutur asli bahasa Indonesia?
Coba saja, dalam bahasa Inggris kata yang bermakna "saya" selalu ditulis dengan huruf besar (huruf kapital) "I". Dalam bahasa Indonesia, kata yang bermakna sama tersebut ditulis dengan awalan huruf kecil "saya" (kecuali di awal kalimat tentunya). Apakah ini menunjukkan ego yang lebih besar? Atau mungkin kepercayaan diri yang tinggi?
Sementara untuk kata yang bermakna "kamu" atau "Anda" (orang kedua) dalam bahasa Inggris ditulis dengan awalan huruf kecil "you", sama halnya dalam bahasa Indonesia kata "kamu" diawali dengan huruf kecil. Tetapi untuk kata "Anda" yang ditujukan untuk orang kedua tetapi lebih dihormati ditulis dengan awalan huruf kapital "Anda". Apakah ini menunjukkan bahwa penutur bahasa Inggris lebih egaliter?
Bahasa itu unik. Mungkin itulah kenapa saya selalu tertarik dengan bahasa...(halah)
Labels: Linguistics, Rambling
Well yeah. I just blogged today for the national blogger's day.
Just like the famous Descartes' quote "cogito ergo sum" that means "I think, therefore I am," I would say "I blog, therefore I am" haha.
So, happy blogger's day, bloggers!
Labels: English Posts, Rambling
Isn't it a cool bus? San Francisco, eh?Take a look...
No, I didn't go to San Francisco. It's just a Nusantara bus I took to Purwokerto, haha. Still wonder why they put Golden Gate bridge picture on a Semarang-Purwokerto bus...
Labels: English Posts, Rambling
Banyaknya penulis buku komputer dan TI ini secara langsung berpengaruh pada industri penerbitan. Salah satu dampak yang muncul adalah perusahaan penerbit dapat menambah lini produk, yang akhirnya berimbas pada target konsumen yang lebih luas, dan pada akhirnya peningkatan laba. Selain itu, para peminat dan konsumen buku tersebut juga semakin dimanjakan dengan banyaknya pilihan judul. Dari segi tema, buku-buku tersebut bervariasi dari misalnya tutorial praktis menggunakan program komputer tertentu, sampai yang bersifat teknis seperti panduan merakit komputer hingga kamus istilah komputer. Bahkan banyak pula terbit buku-buku saku yang harganya terjangkau tetapi cukup praktis dan membantu, seperti buku panduan daftar situs Web menarik hingga panduan chatting di Internet dan semacamnya.
Maraknya buku komputer dan TI mendorong pula banyaknya penghobi dan praktisi yang beralih dalam bidang tulis-menulis. Tidak jarang di antara mereka yang menjadikan hobi menulis dan TI sebagai pekerjaan utama. Buku yang menjadi best seller tentunya akan menghasilkan pemasukan dari royalti yang cukup besar. Banyaknya penulis pemula yang belum memiliki nama atau merasa kesulitan masuk ke penerbit mendorong pula munculnya berbagai komunitas yang berfungsi sebagai mediator antara penulis dan penerbit. Komunitas ini biasanya telah memiliki hubungan baik dan sering bekerja sama dengan penerbit untuk memublikasikan karya-karya para penulis yang tergabung di dalamnya. Dengan demikian, komunitas tersebut dapat berperan untuk menjembatani para penulis tersebut dengan penerbit, meskipun ada kompensasi tertentu, seperti bagi hasil royalti atau lainnya. Beberapa komunitas penulis buku komputer dan TI di Semarang yang naskahnya diterbitkan oleh berbagai penerbit besar seperti Penerbit Salemba, Andi Offset, Elex Media Komputindo, antara lain SmitDev (Semarang IT Developer) dan E-Media Solusindo (EMS). Ada pula perusahaan dan institusi seperti perguruan tinggi yang menjadi perantara ke penerbit, seperti Wahana Komputer serta Unika Soegijapranata dan UKSW.
Tingginya volume naskah yang masuk ke penerbit dibandingkan kebutuhan pasar akan menimbulkan bottleneck. Ditambah tema tulisan yang hampir beragam, tingkat persaingan untuk masuk ke penerbit menjadi semakin berat. Banyak penerbit lebih memprioritaskan penulis lama yang telah memiliki nama. Ini tentunya menjadi kendala tersendiri bagi penulis baru. Lebih jauh lagi, dari sisi penerbit, agaknya masukan naskah dari komunitas dipilih karena beberapa alasan. Yang pertama, dengan berhubungan dari satu pihak saja penerbit dapat memperoleh banyak naskah. Yang kedua, keseragaman dan kontinuitas seri-seri buku lebih terjaga. Komunitas tersebut biasanya membagi jenis naskah ke dalam berbagai seri, seperti seri belajar mandiri, seri pemrograman, dan semacamnya. Yang ketiga, penerbit terbantu dari sisi penyuntingan karena komunitas tersebut biasanya juga memiliki editor, jadi ada proses swasunting dahulu sebelum dikirimkan ke penerbit. Ini tentunya akan memudahkan dan mempercepat proses penyuntingan dan penerbitan, hingga akhirnya buku tersebut dapat terbit sesuai waktunya dan up-to-date karena aplikasi komputer berkembang dengan pesat. Buku dengan tema yang mudah ”basi” tentunya tidak akan banyak dilirik konsumen.
Dari sisi lain, karena cukup sering membaca dan menyunting buku komputer, penulis artikel ini dapat melihat dari segi penulisan dan kebahasaan, agaknya gaya tulisan dalam buku-buku tersebut memunculkan genre tersendiri. Walaupun perlu pembuktian lebih lanjut, model penulisan buku tersebut seperti mengikuti pola tertentu, terutama untuk buku mengenai tutorial aplikasi program. Kebanyakan pembahasan dalam setiap babnya berupa panduan langkah demi langkah untuk menerapkan program tertentu. Dari segi bahasa, terbitnya bermacam buku komputer dan TI ini selanjutnya juga memperkaya kosakata bahasa Indonesia. Karena kita belum banyak memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia, maka kebanyakan kosakata yang digunakan dalam buku tersebut berupa kata serapan atau pinjaman dari bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Meskipun demikian, banyak pula terdapat kata yang telah diindonesiakan seperti ’mengunduh’ (download), ’peranti keras’ (hardware), ’peranti lunak’ (software), dan sebagainya. Buku-buku tersebut diharapkan dapat membantu menyebarluaskan penggunaan istilah komputer dalam bahasa kita sendiri, karena kebanyakan dari kita masih merasa aneh dan enggan untuk menggunakannya dan cenderung memilih menggunakan istilah asingnya.
Buku-buku mengenai komputer dan TI memiliki prospek yang cerah. Perkembangan teknologi dan tuntutan zaman akan membuat kita harus selalu bergerak mengikutinya. Dunia TI bersifat dinamis, sehingga proses pembelajaran juga selalu mengikuti perkembangan yang terjadi. Lebih dari itu, tentunya kita juga tidak mau menjadi bangsa yang selalu tertinggal. Dengan banyak membaca kita akan bisa mengejar ketertinggalan itu sedikit demi sedikit. Dengan demikian, terbitnya buku-buku tersebut menjadi sesuatu yang selalu dibutuhkan.
Terakhir, jika Anda memiliki minat dalam dunia TI dan kepenulisan, mengapa tidak menjadi penulis saja? Menyalurkan hobi namun mendapat bisa mendapatkan uang. Mulai saja dari tema yang paling sederhana dan yang paling Anda kuasai. Salah seorang rekan pernah menulis buku tentang bagaimana chatting di Yahoo Messenger dan buku itu cukup laris dan sudah dicetak ulang. Jadi terbukti, buku komputer juga nggak ada matinya!
**Tulisan ini sebenarnya saya kirimkan ke media beberapa waktu lalu, tapi ternyata ndak dimuat, hahaha. Ya wis, daripada mangkrak di hard disk, saya muat di blog sendiri saja.
Labels: Rambling
Aturan yang dipahami penutur mencerminkan pola-pola tertentu (atau keteraturan) mengenai bagaimana kata dibentuk dari satuan yang lebih kecil dan bagaimana satuan-satuan tersebut digunakan dalam wicara. Jadi dapat disimpulkan bahwa morfologi adalah cabang linguistik yang mempelajari pola pembentukan kata dalam bahasa, dan berusaha merumuskan aturan yang menjadi acuan pengetahuan penutur bahasa tersebut.
Dalam hubungannya dengan sintaksis, beberapa relasi gramatikal dapat diekspresikan baik secara infleksional (morfologis) atau secara sintaksis (sebagai bagian dari struktur kalimat), misalnya pada kalimat He loves books dan He is a lover of books. Apa yang di dalam suatu bahasa ditandai dengan afiks infleksional, dalam bahasa lain ditandai dengan urutan kata (word order) dan dalam bahasa yang lain lagi dengan kata fungsi (function word). Misalnya dalam bahasa Inggris, kalimat Maxim defends Victor (Maxim mengalahkan Victor) memiliki makna yang berbeda dengan kalimat Victor defends Maxim (Victor mengalahkan Maxim). Urutan kata sangat penting. Dalam bahasa Rusia, semua kalimat berikut bermakna ”Maxim defends Victor” (Maxim mengalahkan Victor):
Maksim zasčisčajet Viktora.
Maksim Viktora zasčisčajet.
Viktora Maksim zasčisčajet.
Viktora zasčisčajet Maksim.
Sufiks infleksional –a pada Viktor menunjukkan bahwa Victor adalah yang dikalahkan, bukan Maxim (Fromkin & Rodman, 1998:93).
Dalam bahasa Inggris, untuk mengungkapkan makna ”masa depan” (future) dari sebuah verba kita harus menggunakan function word berupa will, misalnya pada kalimat John will come Monday. Dalam bahasa Prancis, verba untuk future tense menggunakan infleksi (Jean vient lundi ”John is coming Monday” atau Jean viendra lundi ”John will come Monday”). Demikian halnya jika bahasa Inggris memiliki penanda have dan be, bahasa Indonesia menggunakan afiksasi untuk mengungkapkan hal yang sama, misalnya:
Dokter memeriksa saya. The doctor examines me.
Saya diperiksa dokter. I was examined by the doctor.
Selain itu, semua morfem memiliki struktur gramatikal yang dilekatkan padanya. Terkadang, makna gramatikal hanya tampak jika morfem tersebut digabungkan dengan morfem lain (seperti pada afiks yang dapat mengubah makna gramatikal). Morfem infleksional adalah morfem yang tidak memiliki makna di luar makna gramatikal, seperti penanda jamak ”s” dalam bahasa Inggris. Tetapi morfem lain memiliki pengecualian, seperti pada kata hit – hit (present – past), atau sheep – sheep (tunggal - jamak).
Labels: Linguistics
John saw the man with a telescope.
Use it-clauses to explain the meaning, then create phrase structure trees from each it-clause.
1. It is with a telescope that John saw the man.
2. It is the man with a telescope that John saw.
Labels: English Posts, Linguistics
Here is one of the sentences i captured: "Galaxy is a group of stars in universe that their amount is large" (Galaksi adalah kelompok bintang di jagat raya yang jumlahnya banyak). D'oh, it just sounds like word by word translation. Terrible. Next sentences sound worse and worse (sorry >_<).
Well maybe I'm just being critical, but I think they have to revise the book. I think the intention of writing a bilingual book is very good, but I think they should write it in good English and Indonesian (surely it will also make the editor or translator's job much easier, eheh).
Labels: English Posts, Rambling
Labels: English Posts, Rambling

